ialah masa putih abu-abu. Masa di mana seseorang mengalami perubahan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Masa remaja. Masa labilisasi.
Banyak orang yang mengatakan bahwa;
Masa-masa paling indah adalah masa SMA, yang hanya terjadi satu kali seumur hidup.
Awalnya aku mengira bahwa itu hanya sebuah kata-kata biasa. Aku berpikir bahwa SMA sama aja seperti SD atau SMP yang kegiatannya hanyalah belajar, bermain, berteman, dan mengerjakan tugas.
Awalnya, saat aku mendaftar SMA, aku akan mengira bahwa hidupku di SMA akan suram. Bagaimana tidak? Ayahku mendaftarkanku masuk jurusan yang jauh aku tidak mengerti dan jauh dari keinginanku.
Aku menginginkan masuk jurusan Akuntansi, tetapi ayahku malah mendaftarkanku ke jurusan Multimedia. What the hell, please?
Tapi, perkiraanku semua itu ternyata salah. Masa-masa SMA yang aku rasakan, berbeda. Bisa di bilang spesial, mungkin?
Jika tadi aku mengatakan bahwa aku kesal saat masuk jurusan Multimedia, mungkin sekarang aku akan meralatnya;
Aku bangga menjadi anak Multimedia.
Selama tiga tahun, kelas kami tidak pernah berpisah atau pun rolling. Selama tiga tahun, aku belajar tentang hal yang sama sekali belum aku mengerti sebelumnya. Satu kali seumur hidup.
Selama tiga tahun, aku di pertemukan oleh manusia-manusia aneh di dalam kelas. Selama tiga tahun, aku mengenal mereka satu persatu. Nyatanya, Allah memiliki kehendak lain saat aku masuk jurusan Multimedia. Ya, aku di pertemukan oleh kalian. Dan aku sangat bersyukur.
Apa kalian tahu, sebelum aku masuk jurusan Multimedia, pengetahuan ku tentang komputer hanya sekedar menyalakan dan mematikam komputer. Aku berani bersumpah!
Apa kalian tahu, sebelum aku bertemu dan satu kelas bersama kalian selama tiga tahun, aku anak yang pendiam, irit bicara, dan lebih banyak bengong. Tidak percaya? Tanyakan saja pada teman-temanku di SD dan di SMP.
Tapi, setelah aku masuk jurusan Multimedia dan di pertemukan dengan kalian, aku merasa bahwa, aku menemukan sosok jati diriku yang sebenarnya.
Aku merasa menjadi diri sendiri di hadapan kalian. Aku mengerti arti kebersamaan, kekompakan, kekonyolan, kegilaan, kesedihan, kebahagiaan hanya bersama kalian.
Tiga tahun, bukan waktu yang sebentar, juga bukan waktu yang lama pula.
Tiga tahun, banyak sekali kenangan yang kita ukir dia bangku kelas dalam balutan seragam putih abu-abu. Bahkan aku masih mengingat setiap detail kejadian di kelas kita.
Baiklah, akan aku ceritakan beberpa kejadian menarik selama tiga tahun itu.
Apa kalian ingat saat pertama kali kita memperkenalkan diri di kelas X pada Masa Orientasi Siswa? Hahaha, aku masih ingat beberapa wajah kocak kalian.
Kalian satu persatu maju ke depan kelas dengan di bina kakak-kakak OSIS lalu memperkenalkan diri. Lucu-lucu sekali ekspresi kalian.
Namun nyatanya, perkenalan itu hanya sebatas formalitas. Karena aku, lebih mengenal kalian dari pada apa yang kalian ucapkan saat perkenalan diri.
Kalian ingat, saat kelas kita mendapat wali kelas dari Kepala Program Jurusan Multimedia di kelas X? Ya, seharusnya kita merasa spesial. Seharusnya kita bisa menjadi lebih baik dari kelas-kelas lainnya.
Tapi, apa kalian ingat hari itu? Hari rabu, entah tanggal berapa aku lupa. Kita, yang masih kelas X, yang masih terbilang junior, untuk pertama kalinya, membuat wali kelas sekaligus Kepala Program Multimedia menangis di hadapan kita! Karena apa? Karena ulah kita yang tidak bisa di atur.
Beliau marah, sangat marah. Dan saking marahnya, beliau sampai menitikkan air mata. Dan hari itu, kita satu kelas di jemur di lapangan selama empat jam pelajaran!
Setelah itu, kami kembali ke kelas dan minta maaf kepada beliau serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan berubah menjadi lebih baik.
Namun nyatanya, itu hanya janji manis yang terucap di bibir kita. Hahaha.
Kemudian, hal yang paling tidak bisa aku lupakan ialah, tragedi 30 Maret 2013. Saat aku kecelakaan sepulang dari acara ulangtahun wali kelas di Sentul, Bogor.
Aku tidak akan menceritakan lebih lanjut, karena akan sangat panjang.
Kalian tau, di hari itu, walaupun aku menjadi korban, tapi aku tau, aku merasakan bagaimana kekompakan kalian. Aku merasa sangat di lindungi. Bahkan saat aku keluar ruang UGD, aku di sambut oleh kalian yang menungguku di luar. Aku terharu, kalian belum ada satu pun yang pulang kerumah padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.00!
Dan, di hari itulah, kekompakan kita berawal.
Kemudian, kalian ingat saat kita mengerjai guru bahasa indonesia? Saat ujian praktek dan beliau masuk kelas, kita semua kompak lari kabur keluar kelas, ada yang lari ke parkiran, ke kebun belakang, dan bahkan ada yang gabisa lari karena kejebak di kelas. Dan bodohnya, kita mengaku bahwa ada ujian produktif, lantas beliau pun kembali ke ruang guru.
Padahal, demi apapun, saat itu kita jam kosong dan memang jadwalnya ujian praktek Bahasa Indonesia. Maafkan kami yaa, bu!:)
Memasuki kelas sebelas, kelas di mana kita mulai PKL. Satu persatu siswa mulai pergi PKL dan kembali lagi setelah tiga bulan.
Dan, di kelas sebelas inilah, semua masalah berawal!
Di kelas sebelas inilah, saat dimana keegoisan, kehancuran, keretakan, dan permusuhan satu kelas di mulai.
Sebenarnya, masalahnya hanya satu; Cinta. Yap, cinta satu kelas memang tidaklah mudah.
Di mana banyaknya air mata yang jatuh, khususnya bagi cewek-cewek. Karena hampir 50% anak cewek lebih banyak menangis pada saat kelas sebelas.
Dan apa kalian tahu, semenjak perpecahan ini terjadi, menyatukannya kembali tidaklah mudah. Bahkan hingga saat ini, ketika kami mencoba memulai seperti awal lagi, semuanya tidak akan sama.
Intinya, kelas sebelas ini full of conflict, di tambah lagi wali kelas yang.... yah, bisa di bilang cuek. Sangat cuek.
Ah ya! Omong-omong soal wali kelas, ada kejadian lucu.
Jadi, ketika bagi raport semester, kelas itu memang seharusnya bersih dan rapi. Karena, orang tua akan hadir di kelas. Dan memang sudah tugas kami, sebagai penghuni, harus membersihkan kelas.
Tapi, pada saat kita berada di tangga ingin ke kelas, bermaksut ingin merapikan kelas. Tiba-tiba, entah siapa yang mengatakan, aku lupa. Teman kami itu mengatakan, "Eh udah jangan ke kelas dulu. Pak Kamto lagi bersih-bersih."
Spontan kita ngakak berjamaah. Heh, murid macam apa kita ini? Membiarkan wali kelas bersih-bersih sendirian? Hahaha. Dan bodohnya, benar-benar tidak ada yang ke kelas sampai setengah jam. Maafkan kami ya Pak!:)
Memasuki kelas dua belas. Kelasnya sibuk. Kelasnya pusing akan berbagai ujian.
Aku masih ingat saat kita awal memasuki kelas dua belas. Baru dua minggu kita menduduki kelas dua belas sebagai senior, namun kita sudah mencetak dua masalah sekaligus yang membuat wali kelas kita sakit kepala.
Bukan hanya wali kelas, bahkan kelas kita menjadi perbincangan hangat di ruang guru!
Masalah pertama, hari senin saat lomba 17 Agustusan. Kelas kita berantem, dan tonjok2an sama jurusan sebelah. Yang jelas, masalah ini membuat satu sekolah heboh dan acara terpaksa di hentikan. Tentu saja membuat semua guru-guru keluar tanduk. Aku rasa hal ini tidak usah di bahas karena akan menimbulkan rasis.
Masalah kedua, main kartu uno! Sebenarnya tidak apa-apa bermain kartu uno. Yang apa-apa itu, saat Bu Widi, guru BK masuk kelas, kita malah asik main uno di belakang kelas. Seolah-olah kehadiran Bu Widi tidak di anggap.
Langsunglah marah beliau dan memanggil wali kelas kita yang..... galaknya nggak diragukan lagi. Terus, di kasih surat SP deh satu-satu yang main kartu.
Bulan-bulan selanjutnya, kami menjalani murid kelas dua belas, layaknya murid sungguhan.
Maksutnya, kita lebih fokus ke ujian-ujian yang akan kita hadapi nantinya.
Saking fokusnya, kita hampir lupa, bahwa masa-masa SMA kita akan segera berakhir.
Memasuki semester dua, jadwal kami benar-benar padat. Tidak ada lagi kata main-main. Ujian di depan mata.
Diantara banyaknya ujian-ujian yang akan kita hadapapi, sesungguhnya ujian yang benar-benar membuat kita stress ialah; UJIKOM.
Menurut kami, Uji Kompetensi Keahlian lebih menyeramkan dan bikin pusing tujuh turunan dari pada Ujian Nasional.
Hari demi hari, kita lalui untuk menyelesaikan Project Ujikom. Bahkan di waktu senggang pun saat jam istirahat atau jam kosong, kita yang biasanya ngerumpi atau jajan ke kantin, sibuk berkutat dengan Laptop&Notebook masing-masing.
Bahkan beberapa TryOut dan Ujian Praktek kita menggunakan sistem kebut semalam. Karena jujur saja, otak dan pikiran kami hanya terfokus pada Ujikom ini.
Satu minggu sebelum Ujikom! Kami benar-benar kewalahan dan panik. Beberapa di antara kami, sampai menginap hanya untuk membuat project dan minta diajari cara bikinnya.
Satu hari menjelang Ujikom, aku yakin dan berani bertaruh, delapan puluh persen atau hampir seluruh anak Multimedia angkatan pertama, tidak tidur semalaman alias begadang. Atau mungkin hanya tidur beberapa jam saja, termasuk aku.
Hari yang paling tidak di tunggu-tunggu pun tiba! Ujikom berlangsung selama tiga hari dan alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.
Hati kami lega, plong, bahagia karena berhasil melewati Ujikom dengan baik.
Namun, ada satu ujian yang masih menanti;
Ujian Nasional.
Semua orang tahu, bahwa Ujian Nasional itu sangat penting. Satu minggu menjelang Ujian Nasional, kami setiap pulang sekolah berbondong-bondong kerumah ini kerumah itu hanya untuk belajar bersama. Berbagi ilmu.
Hingga hari Ujian Nasional pun tiba! 14 April 2015. Empat hari di laksanakannya Ujian Nasional.
Pada hari terakhir, saat bel berbunyi, pertanda bahwa Ujian Nasional telah berakhir, semua siswa-siwa sontak berteriak keluar ruang ujian.
Teriakan bahagia, lega, lepas sudah beban yang selama tiga tahun menunggangi pundaknya.
Aku tahu, aku sadar, dengan berakhirnya Ujian Nasional. Maka berakhir pula masa-masa SMA kita.
Berakhir sudah segala cerita yang sudah kita tuangkan dalam sebuah memori.
Aku paham, bahwa setelah Ujian Nasional ini, aku tidak perlu memikirkan apapun lagi, termasuk pelajaran.
Aku tidak perlu repot-repot bangun pagi lagi, menyiapkan seragam, menyiapkan buku dan alat tulis, menyiapkan atribut sekolah, dan tidak perlu repot-repot berangkat ke sekolah lagi.
Tapi di saat yang bersamaan pula, aku sedih, aku akan berpisah dengan mereka. Teman-temanku. Sahabatku. Keluargaku. Saudaraku. Perpisahan menuju masa depan yang lebih baik.
Hingga akhirnya, hari kelulusan pun tiba! Kami di nyatakan lulus 100% dan aku bahagia, terharu.
Kami merayakan hari kelulusan di sebuah gedung di kawasan Bogor. Aku melangkahkan kaki menuju gedung itu bersama orang tua ku. Setelah aku menemukan teman-temanku, aku segera bergabung bersama mereka.
Tidak ada kesedihan yang teihat di hari kelulusan itu, hanya ada canda, tawa, bahagia.
Aku tahu, jauh di lubuk hati mereka, sebenarnya mereka sedih, karena tiga tahun kita telah berakhir. Mereka hanya menutupinya dengan canda tawa.
Hingga acara itu selesai, semua siswa-siswi, melangkahkan kaki keluar gedung.
Aku yakin, itu bukan sekedar langkah biasa. Langkah kaki mereka, adalah langkah menuju kesuksesan mereka.
Aku menatap kepergian teman-temanku satu persatu. Seperti ada sesuatu dalam diriku yang ikut pergi saat melihat mereka melangkah pulang.
Ya, tapi memang seperti itulah kenyataannya.
Tiga tahun kita telah berakhir. Tiga tahun kita, tidak akan pernah kembali.
Aku tidak bisa lagi merasakan suasana kelas, aku tidak bisa lagi mendengar celotehan guru, aku tidak akan bisa lagi melihat mereka setiap hari.
Aku yakin, setelah ini, tidak mudah untuk kita bertemu. Tidak mudah untuk kita hanya sekedar bertegur sapa. Karena aku, kalian, kita akan sibuk mengejar cita-cita masing-masing.
Tiga tahun yang tak akan pernah kembali, masa putih abu-abu.
Aku tidak pernah menyesal menjadi anak Multimedia jika bertemu dengan kalian. Aku bersyukur telah di beri kesempatan untuk mengenal kalian selama tiga tahun...
Hei, sahabat-sahabatku, dimana pun kalian berada, aku merindukan kalian.
Dan sekarang, aku percaya, dan sangat percaya bahwa;
Masa-masa paling indah adalah masa SMA, yang hanya terjadi satu kali seumur hidup.
Jika di beri kesempatan, aku ingin mengulang masa-masas putih abu-abu; satu hari saja. Aku ingin mengingat bagaimana rasanya suasana kelas.
Aku ingin terlembat sekolah lagi, di hukum lagi, aku ingin mengerjakan tugas yang bejibun lagi..
Sungguh dan tak di pungkiri, aku sangat merindukan masa-masa itu..
Tapi waktu, memang tidak bisa di putar kembali.
Tiga tahun yang tak akan pernah kembali. Aku rindu berseragam. Aku rindu mengenakan seragam putih abu-abu. Aku rindu menggunakan almamater.
Aku rindu menggunakan seragam kebanggan Multimedia, seragam kejuruan.
Aku rindu menggunakan seragam olahraga sambil senam di lapangan,
Aku rindu menggunakan seragam pramuka dan apel siang.
Aku rindu menggunakan seragam batikku yang kebesaran.
Aku rindu berseragam.
Tapi, aku bisa apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengenang tiga tahun kita.
Terlalu banyak kenangan yang kita torehkan dalam memori..
Tiga tahun yang tidak akan pernah kembali; SMA.
Tidak ada yang bisa di salahkan, waktu terus berjalan ke depan. Tidak bisa mundur.
Teruntuk teman-temanku Multimedia 1 Angkatan Pertama; aku rindu kalian. Aku bangga pada kalian. Aku bahagia telah mengenal kalian.
Dimana pun kalian berada, doaku menyertai kalian. Sampai bertemu di kesuksesan kita ya.
Jangan pernah lupakan tiga tahun yang tak pernah kembali kita..
Setidaknya, kita pernah menertawakan hidup di bawah atap yang sama.
Dari temanmu yang selalu rindu,
Mantan Sekretaris MM1 -Gadis Azizah.-








