Love History Bag 2
Bag. 2
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih
mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan
sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat
melupakannya.-Mario Teguh
***
Tok. Tok. Tok
Suara ketukan pintu membuat Cindai mengerjapkan matanya.
Enggan rasanya untuk beranjak dari tempat tidur. Matanya bengkak akibat
semalaman menangisi Bagas. Apalagi ini hari minggu.
“Siapa?” Tanya Cindai dalam keadaan masih setengah sadar
“Bagas” Jawab seseorang dari luar kamarnya
Dengan malas Cindai segera membukakan pintu. Cklek.
“Ngapain lo kesini?” ucap Cindai sewot.
“Jangan sewot dong, lo kenapa kemaren langsung pulang gitu?
Katanya ada janji sama mamah lo? Kemana kemaren?Gatau apa….” Belum sempat Bagas
menyelesaikan pertanyaan yang mencecar Cindai, Cindai langsung memotongnya.
“Bagas! Lo aja belom jawab pertanyaan gue kenapa lo malah
balik nanya gue dengan pertanyaan yang beruntun gitu?”
“Gue kesini itu mau nanyain keadaan lo, soalnya kemaren lo
langsung buru-buru gitu udah gitu muka lo pucet, Lo sakit?”Ujar Bagas dengan
nada khawatir
Iya gue sakit, bukan fisik gue yang sakit Gas tapi hati
gue. Ucap Cindai dalam hati.
“Yaudah gini aja deh daripada lo badmood kaya gini mending
hangout yuk? Nanti gue ajak Chelsea deh”
Cindai menghela nafas. Kenapa harus ada perempuan itu sih?
Tidak, Cindai tidak boleh terlihat lemah dihadapan Bagas. Kenapa juga harus
mengajak dirinya? Bukannya nanti dirinya hanya akan menjadi obat nyamuk diantara
mereka dan yang ada dirinya hanya akan merasakan sesak yang menjadi.
Lagipula hari ini dia malas kemana-mana hanya ingin dirumah
saja.
“Ngga, gue gamau ikut. Lo aja sana sama Chelsea”
“Lo kenapasih? Ngambek?” ujar Bagas. Dia menatap Cindai
dengan tatapan khawatir. Tapi yang ditatap malah mengalihkan pandangannya.
“Kaya anak kecil lo! Dikit-dikit ngambek. Dewasa dikit lah
Ndai kayak Chelsea! Kalo punya masalah cerita jangan dipendam terus!” ujar
Bagas sedikit membentak kearah Cindai.
Gadis itu tersentak dengan pernyataan Bagas barusan. Sakit sekali mendengar ucapan Bagas barusan.
Bukan karena Bagas memvonis dirinya seperti anak kecil. Melainkan kenapa
dirinya harus dibanding-bandingkan dengan perempuan tersebut. Cindai tau dia berbeda
dengan perempuan itu. Cindai benci dibanding-bandingkan dengan Chelsea
–perempuan tersebut-
“Iya gue kayak anak kecil! Gue emang ngga dewasa kayak
CHELSEA! Dan gue bukan tipikal cewe yang lo mau!” ujar Cindai kesal dan sedikit
member penekanan pada kata ‘Chelsea’
Gadis membanting pintu kamarnya kasar. Membiarkan sosok diluar pintu tersebut
berbicara panjang lebar. Sementara gadis yang ada dibalik pintu tersebut
menutap telinganya, tidak mau lagi mendengar celotehan sosok diluar pintu itu.
Emosinya memuncak, airmatanya tak lagi bisa ditahan. Tetes demi tetes airmata turun menggenangi pipi Cindai.
Bagas mendengus kesal. Lalu ditinggalkannya Cindai yang
berada dalam kamarnya .
***
Keesokan harinya Cindai berangkat sekolah diantar oleh
supirnya. Entah kenapa dia malas bertemu dengan sosok yang belakangan ini
membuatnya menangis. Ah sial! Kenapa sosok itu terus-terusan memenuhi otaknya? Pikirnya.
Sesampainya disekolah, mata Cindai tertuju pada dua sosok
yang sedang berada diparkiran motor. Dia kenal dengan dua sosok itu. Keduanya
adalah sahabatnya. Tiba-tiba sesak mulai menghimpit dadanya. Anggota tubuhnya
terasa lemas sekali. (Lagi-lagi) airmatanya hampir saja jatuh. Belum puas Bagas membuat dirinya tersiksa
seperti ini?
Bagaimana tidak? Pagi-pagi sudah disajikan dengan
pemandangan Bagas mengcup kening Chelsea? Apa mereka sudah terikat dalam suatu
hubungan? Secepat itukah? Tidak! Cindai berusaha menghilangkan segala pikiran negative
yang ada dalam otaknya.
Cindai langsung melangkahkan kakinya yang sempat terhenti
karena melihat pemandangan tadi.
“Cindai” teriak sosok yang ada dibelakang Cindai. Angel
rupanya.
“Kok lo ngga bareng Bagas?” Cindai menghela nafas berat.
Ingin rasanya ia menghindari pertanyaan Angel tersebut.
“Eh udah tau belom? Sekolah kita ini lagi heboh-hebohnya
sama berita ChelGas jadian. Nih liat” Angel langsung mengeluarkan Blackberry
nya dan memberikan sebuah screen capture dari laman Facebook dan di blog oleh
Angel yang bertuliskan “Agatha Chelsea in relationship with Bagas Rahman DS”
Flashback on
Gadis cantik dengan rambut dibiarkan terurai dan mengaitkan
sebuah jepitan pada poni-nya ini tengah sibuk di depan notebook miliknya dan
sibuk dengan jejaring social.
Tok. Tok. Tok
Sebuah ketukan pintu cukup membuat Chelsea –Gadis itu- tersentak lalu beranjak dari depan notebook
miliknya untuk membukakan pintu kamarnya.
“Kenapa bi?” ujar Chelsea pada Bi Sum yang mengetok pintu
kamarnya,
“Di bawah ada den Bagas katanya nyariin Non”. Chelsea
tersenyum,
“Suruh masuk aj…..” Belum sempat Chelsea menyelesaikan
kata-katanya tiba-tiba sosok yang tengah dibicarakannya sudah berada diantara
mereka. Chelsea mengernyit.
“Saya permisi ya” ucap Bi Sum yang langsung meninggalkan
Chelsea dan Bagas.
“Chel, gue mau ngomong sama lo,” ujar Bagas yang terlihat
sangat serius
Chelsea langsung mengajak Bagas ke belakang rumahnya dan
kebetulan dibelakang rumah Chelsea ada sebuah taman.
Jantung mereka saling berdegup tak beraturan. Mereka tengah
sibuk merapikan degup jantungnya masing-masing.
“Mau ngomong apa Gas?” ujar Chelsea sambil menatap Bagas
Bagas mendekat kearah Chelsea kemudian meraih tangan Chelsea
ke genggaman tangannya. Bagas sudah meyakinkan dirinya dan sekarang waktu yang
tepat.
“Chel…gue suka sama lo. Oke lebih tepatnya, gue cinta sama
lo. Gue tau ini terlalu cepat tapi gue ngga mau membiarkan perasaan gue ke elo
segini-gini aja. Can I be your man? I hope u can.”
Chelsea tersentak. Dia mengalihkan pandangannya yang sedari
tadi menatap Bagas. Chelsea tengah menimbang-nimbang.
“I can” ucap Chelsea sambil tersenyum.
Bagas tersenyum senang, dia tak bisa menyembunyikan perasaan
senangnya dia langsung memeluk Chelsea dalam pelukannya.
Flashback off
Bagaikan tersambar ribuan petir dan sebuah pisau belati yang
siap menohoknya. Sakit sekali. Ingin rasanya Cindai berteriak namun ia masih
melihat sedang dimana dia sekarang.
Sesakit inikah rasanya mencintai sahabat sendiri? Sesakit
inikah rasanya mengharapkan orang yang sama sekali tidak mengharapkan kita?
Sesakit inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sesakit inikah rasanya
Cinta diam-diam? Apakah ini sudah berakhir? Akankah Cindai dan Bagas selamanya
hanya akan menjadi sepasang ‘sahabat’? Air mata sudah berada dipelupuk mata
Cindai tak lagi bisa ia tahan. Air itu jatuh tetes demi tetes.
“Ndai, maaf gue ngga
bermaksud bikin lo kaya gini. Gue tau gue salah gue udah ngasih tau lo tentang
hubungan mereka. Ah Cindai maafin gue, coba aja tadi gue ngga ngasih tau lo. Lo
ngga bakalan kaya gini” ujar Angel lirih merasa bersalah
“Ngga kok, gapapa” ujar Cindai berusaha tersenyum.