Selasa, 26 Maret 2013

Love Hostory [Bagas-Cindai] Bag.1


Love History
Bag 1


Langit nampaknya sedang berwarna biru ditemani sang matahari yang sudah mengintip dari ufuk timur. Yap. Langit pagi ini sangat cerah secerah hati gadis cantik ini. Chindai Gloria.
“Selesai,” gumam Chindai setelah mematut dirinya pada cermin sambil tersenyum. Tiba-tiba dirasakan sebuah getaran dari meja riasnya. Sebuah benda persegi panjang milik Chindai yang terdapat pesan masuk dari seseorang yang berisi “Gue udah didepan rumah lo Ndai, jadi berangkat bareng kan?” Cindai tersenyum membaca pesan singkat tersebut lalu membalasnya “Oke jadi gas, tunggu yaaa J “ Yap, itu merupakan pesan masuk dari Bagas. Setelah membalas pesan dari Bagas, Cindai langsung memasukkan benda itu kedalam saku baju seragamnya.
Sejurus kemudian Cindai segera keluar kamar dan menemui Bagas yang sudah menunggunya diluar. “Pagi Mah, Pah” sapa Cindai saat melewati ruang makan. “Pagi sayang, ngga sarapan dulu?” Ucap mamah sambil menarik tangan Cindai yang sudah terlihat terburu-buru “Engga deh mah didepan udah ada Bagas nunggu, aku berangkat ya mah” ucap Cindai sambil mencium tangan mamahnya.
“Sorry Gas lama hehehe” Sapa Cindai saat bertemu Bagas yang sudah nangkring(?) di motor satria miliknya. “Ngga  kok Ndai, yaudah berangkat sekarang yuk nanti telat masuknya” ucap Bagas. Sejurus kemudian Cindai sudah menaiki motor Bagas dan Bagas segera mengemudikannya(?) dengan kelajuan sedang.
Tidak, Bagas dan Cindai tidak menjalin suatu hubungan. Hubungan mereka tak lebih dari seorang sahabat. Bagas dan Cindai sudah bersahabat sejak mereka duduk dibangku SMP. Dan kebetulan sampai kelas 11 SMA ini mereka selalu mendapat sekolah yang sama dan kelas yang sama. Tapi, ada sebuah getaran aneh  pada diri Cindai saat ia sedang bersama Bagas, jantungnya berdegup kencang pipinya mengeluarkan semburat rona merah. Entah apa yang Cindai rasakan, ia sendiri tidak bisa mendiskripsikan ini semua? Mungkinkah Cindai mulai Jatuh Cinta dengan Bagas?
Motor satria milik Bagas memasuki kawasan sekolah RSBI kawasan Jakarta Barat, plang bertuliskan “Nusa Bangsa International High School” sudah terlihat. Bagas segera memarkirkan Satria miliknya dan Cindai pun segera turun.
“Gas, gue duluan ya mau nyalin PR Kimia punya Angel nih hehe gue belom ngerjain semalem 10 menit lagi bel masuk,”ucap Cindai terlihat panik. “Hahaha selow aja kali Ndai, gurunya paling ngga masuk lagi muka lo ngga usah panik gitu eh tapi kalo lo panik tambah cantik ya,” Cindai yang merasa dirinya dipuji oleh Bagas merasa malu dan tertunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mengeluarkan semburat rona merah. Lagi-lagi Bagas yang membuatnya seperti ini. Uh! “Ke kantin dulu yuk laper Ndai” Ucap Bagas sambil menarik tangan Cindai. “Tapi gas…..” belum selesai Cindai mengucapkan kata-katanya Bagas sudah memotongnya “Sssstttt gausah bawel nanti cantiknya ilang”
***
Sesampainya dikantin Cindai dan Bagas bertemu dengan Chelsea. Entah karena apa semenjak ada Chelsea dikantin Cindai seperti obat nyamuk, yap sedari tadi Bagas dan Chelsea berbincang-bincang berdua terus hingga melupakan bahwa ada sosok makhluk juga disini. Cindai merasa kesal, moodnya yang tadi naik sekarang menjadi turun. Ada rasa sesak saat Cindai melihat Bagas dan Chelsea tertawa bersama dihadapannya. Apa ini? Apa mungkin yang Cindai rasakan adalah………….Cemburu?
Bel masuk berbunyi, Cindai berterimakasih karena berkat bel masuk itu Cindai tidak perlu melihat pemandangan yang me-nyesak-kan tadi.
***
Bel sekolah berbunyi Cindai segera merapikan buku yang berserakan dimejanya. Bagas pun langsung menghampiri Cindai “Ndai, mau nemenin gua dulu ngga? Ke Mall sebentar” ujar Bagas “Ngapain kesana? Tumben banget gas”
“Ada deh, gue mau beli something buat someone”
“Someone? Siapa dia?” Cindai mengernyit
“Udah nanti gue certain, udah yuk ah keburu sore” ujar Bagas ambil menarik tangan Cindai
***
Selama dalam perjalanan, hanya kesunyian yang menemani mereka tidak satupun diantara mereka yang angkat biacara. Sesampainya disebuah Mall terdekat setelah bagas memarkir Satria miliknya mereka segera masuk.
“Ndai, kira2 kalo cewek lagi ulangtahun itu kado yang cocok apaya” Ujar Bagas sambil memilih-milih aksesoris perempuan pada Mall tersebut. “Gatau,” Jawab Cindai sambil memanyunkan bibir.  “Kok jutek banget sih Ndai? Kenapa?”Bagas mengernyit heran “Pikir aja sendiri, emang buat siapa sih?” Jawab Cindai sambil mengalihkan pandangan “Ohiya gue belum cerita ya sama lo, yaudah makan dulu yuk biar enak ceritanya” Ajak Bagas. Cindai hanya mengangguk saja.
“Silahkan mba, mas mau pesen apa?” ucap sebuah pelayan
“Cappucino samaa…..” Bagas melirik Cindai. Cindaipun mengerti apa maksut Bagas. “Sama Moccacino coffe-nya” ucap Cindai. Setelah pelayan itu pergi, Bagas angkat bicara.
“Jadi gini Ndai, gue kayaknya lagi jatuh cinta sama seseorang, dia Cantik, manis, pinter. Pokoknya dimata gue dia sempurna deh inisialnya ‘C’.”
“Siapa?” Tanya Cindai antusias. Di lubuk hati yang paling dalam Cindai berharap orang yang dimaksut Bagas adalah dirinya.
“Chelsea, Ndai”
DUAR! Bagaikan disambar petir dan tertusuk oleh ribuan jarum. Sakit sekali rasanya, dadanya seolah terasa sangat sesak, harapan bahwa sosok yang dimaksud Bagas itu dirinya pupus sudah. Apa? Kenapa begini? Kenapa Cindai merasa seperti ini? Bukankah harusnya ia senang melihat sahabatnya seperti ini? Tapi kenapa malah seperti ini? Apa ia cemburu? Saat ini Cindai memastikan bahwa dia cemburu. Air matanya sudah sampai dipelupuk matanya. Tapi ia tetap berusaha tegar dan menahannya agar tidak jatuh.
“Sorry gas gue ga bisa lama-lama ada  janji sama mamah dirumah, bye” ucap Cindai sambil meninggalkan Bagas ditempat itu sendirian
“Eh…ehh Cindai mau kemana?” Tanya Bagas. Tapi tidak digubris oleh Cindai.
Setelah sampi dirumah ia langsung menjatuhkan diri dikamar dan tak terasa pipinya basah, airmatanya mengalir deras. Kenapa harus seperti ini. Baru tadi pagi Bagas membuatnya terbang tapi sekarang Bagas juga yang membuatnya Jatuh seperti ini. Untuk apa aku menangis? Memang aku siapanya dia? Punya hak apa aku untuk cemburu? Gumam Cindai.
***


2 komentar: