Sabtu, 22 Februari 2014

Hello ;-)

Hai, kalo boleh jujur aku lelah. Lelah dengan semua ini. Masalah yang terus datang bagaikan ombak menerjang karang yang tak kunjung berhenti. Suatu masalah yang selalu sama. Suatu masalah yang membuat suatu kepercayaan menjadi sebuah kekecewaan. Suatu masalah yang membuat suatu persahabatan menjadi perpecahan. Suatu masalah yang membuat rasa sayang menjadi benci.

Aku tau, aku salah. Aku yang dari awal salah. Tak seharusnya aku memiliki perasaan ini. Tak seharusnya aku menyayangi orang yang selama ini dekat dengan sahabatku sendiri. Bagaimana bisa?

Sosok itu yang dahulu menyayangiku tapi aku mengabaikannya. Sosok yang selalu memperhatikanku tapi aku hanya memandangnya sebelah mata. Jahat bukan? Ya aku tau! Dan sekarang ketika dia mencoba melupakanku, aku hadir dalam hidupnya.

Bukan hadir, lebih tepatnya aku peng-rusuh yang hadir diantara kamu dan sahabatku. Aku tau sahabatku hadir dalam hidupmu untuk membantumu melupakanku. Bahkan kau sempat sayang dengan sahabatku bukan?

Aku tau jelas bagaimana kedekatan antara dia dan sahabatku yang terjalin kurang lebih satu tahun ini. Mereka itu awalnya sahabat, dibilang sahabat? Tidak juga mereka terlihat lebih dari sahabat. Memang benar sahabatku sendiri menyayanginya sudah satu tahun lebih.
Lalu dengan jahatnya dengan lancangnya aku masuk dan hadir didalam lingkaran kehidupan kalian. Jahat bukan diriku?

Aku melakukan beberapa kejahatan disini. Yang pertama, aku datang terlambat dia keidupan dia. Dahulu, saat dia mengejar2 aku, aku mencampakannya. Yang kedua, kalian boleh menjuluki aku dengan berbagai macam julukan seperti Teman Makan Teman, Menusuk Sahabat Sendiri Dari Belakang, atau apalah. Ya memang begitu kenyaataanya.

Kalian boleh menghinaku, mencaci maki aku, memarahi aku, terserah kalian. Tapi Demi Allah aku juga tidak tau jika akhirnya seperti ini. Aku tidak tau kenapa bisa aku bersikap seperti ini? Perasaan itu datang kapan saja dan pada siapa saja tanpa pandang siapapun orang itu.

Untuk kesekian kali aku berusaha menyangkal perasaan itu, aku berusaha menahan perasaan itu, aku berusaha tidak membiarkan perasaan itu hadir dalam hati dan sanubariku. Tapi kenyatannnya nihil. Tak ada satu orang pun yang mampu menyangkalnya.

Kini sebuah ke-egoisan menghancurkan segalanya. Persahabatan, Kepercayaan, rasa Sayang semuanya hancur menjadi sebuah Kekecewaan, Kebencian, Perpecahan satu sama lain.

Awalnya aku ingin bersikap egois. Aku bisa saja dengan mudahnya merebut dia dari sahabatku, toh dia juga masih menyimpan perasaannya padaku.

Tapi, jika diantara kita masih saling memiliki sikap egois, sampai kapan kita bisa bersikap dewasa? Bersikap menerima kenyataan walaupun itu pahit. Berisikap positive thinking tidak seperti anak kecil lagi? Sampai kapan?

Masalah lain sudah cukup membuat persahabatan kita kacau, apa iya masalah ini akan membuat kita  semakin hancur berkeping – keping. Kita sudah dewasa  kita 3 tahun bersama –sama , hampir 2 tahun kita lewati bersama, 1 tahun lagi kita akan berpisah menentukan jalan hidup masing –masing.

Apa iya disaat perpisahan kita nanti masalah ini masih nyangkut diantara kita? Apa iya disaat perpisahan nanti yang seharusnya dipenuhi rasa persahabatan malah menjadi rasa kebencian yang tertanam dalam lubuk hati? Apa iya sampai saat perpisahan nanti masalah yang kita hadapai akan selalu seperti ini? Masalah cinta satu kelas. Apa iya?

Disini aku mencoba berfikir dewasa, aku mencoba meminimalisir ke-egoisanku. Aku teringat kata –kata guruku yang kurang lebih “Orang yang bisa menghargai dan menjaga perasaan sahabatnya, patut diacungi jempol”  dan disini, aku mencoba menghargai perasaan sahabatku, aku mencoba menjaga perasaan sahabatku.

Meskipun aku tau sahabatku sudah terlanjut kecewa denganku dan tidak bisa mempercayaiku lagi. Meskipun aku tau aku dan sahabatku tidak mungkin sedekat seperti dulu lagi. Yang selalu bercanda, tertawa, berisik, nyanyi2 dikelas, foto – foto bareng, curhat bareng, ngasih solusi bareng, kemana – mana bareng. Aku tau itu.

Tapi setidaknya, dengan aku tidak bersatu dengan dia itu tidak akan memperkeruh suasana. Dan kini, keputusanku sudah bulat tekadku sudah bulat bahwa aku tidak akan memilihnya, aku lebih baik mengalah walaupun semuanya sudah terlanjur.

Aku mengakui bahwa aku sayang dengan dia, dia juga sayang denganku. Tapi seperti kata pepatah, “Sayang sama seseorang nggak harus memiliki” dan aku mencoba melakukannya.
Untuk kamu, maaf ya maaf aku benar – benar minta maaf atas semuanya. Maaf jika aku mengecawakanmu, maaf:’) tapi disini aku lebih memilih persahabatan J

Untuk sahabatku, ini keputusan yang sudah aku fikirkan baik – baik aku tidak mungkin bersamanya. Karena aku bukan tipe orang yang bisa bahagia diatas penderitaan orang lain apalagi orang itu kamu, sahabatku sendiriJ kita sudah satu tahun kenal satu sama lain. Tapi jika kamu sudah terlanjur membenciku dan kecewa padaku, aku terima J

Tertanda,


Gadis Azizah.