Hai,
kalo boleh jujur aku lelah. Lelah dengan semua ini. Masalah yang terus datang
bagaikan ombak menerjang karang yang tak kunjung berhenti. Suatu masalah yang
selalu sama. Suatu masalah yang membuat suatu kepercayaan menjadi sebuah
kekecewaan. Suatu masalah yang membuat suatu persahabatan menjadi perpecahan.
Suatu masalah yang membuat rasa sayang menjadi benci.
Aku
tau, aku salah. Aku yang dari awal salah. Tak seharusnya aku memiliki perasaan
ini. Tak seharusnya aku menyayangi orang yang selama ini dekat dengan sahabatku
sendiri. Bagaimana bisa?
Sosok
itu yang dahulu menyayangiku tapi aku mengabaikannya. Sosok yang selalu
memperhatikanku tapi aku hanya memandangnya sebelah mata. Jahat bukan? Ya aku
tau! Dan sekarang ketika dia mencoba melupakanku, aku hadir dalam hidupnya.
Bukan
hadir, lebih tepatnya aku peng-rusuh yang hadir diantara kamu dan sahabatku.
Aku tau sahabatku hadir dalam hidupmu untuk membantumu melupakanku. Bahkan kau
sempat sayang dengan sahabatku bukan?
Aku
tau jelas bagaimana kedekatan antara dia dan sahabatku yang terjalin kurang
lebih satu tahun ini. Mereka itu awalnya sahabat, dibilang sahabat? Tidak juga
mereka terlihat lebih dari sahabat. Memang benar sahabatku sendiri
menyayanginya sudah satu tahun lebih.
Lalu
dengan jahatnya dengan lancangnya aku masuk dan hadir didalam lingkaran
kehidupan kalian. Jahat bukan diriku?
Aku
melakukan beberapa kejahatan disini. Yang pertama, aku datang terlambat dia
keidupan dia. Dahulu, saat dia mengejar2 aku, aku mencampakannya. Yang kedua,
kalian boleh menjuluki aku dengan berbagai macam julukan seperti Teman Makan
Teman, Menusuk Sahabat Sendiri Dari Belakang, atau apalah. Ya memang begitu
kenyaataanya.
Kalian
boleh menghinaku, mencaci maki aku, memarahi aku, terserah kalian. Tapi Demi
Allah aku juga tidak tau jika akhirnya seperti ini. Aku tidak tau kenapa bisa
aku bersikap seperti ini? Perasaan itu datang kapan saja dan pada siapa saja
tanpa pandang siapapun orang itu.
Untuk
kesekian kali aku berusaha menyangkal perasaan itu, aku berusaha menahan
perasaan itu, aku berusaha tidak membiarkan perasaan itu hadir dalam hati dan
sanubariku. Tapi kenyatannnya nihil. Tak ada satu orang pun yang mampu
menyangkalnya.
Kini
sebuah ke-egoisan menghancurkan segalanya. Persahabatan, Kepercayaan, rasa
Sayang semuanya hancur menjadi sebuah Kekecewaan, Kebencian, Perpecahan satu
sama lain.
Awalnya
aku ingin bersikap egois. Aku bisa saja dengan mudahnya merebut dia dari
sahabatku, toh dia juga masih menyimpan perasaannya padaku.
Tapi,
jika diantara kita masih saling memiliki sikap egois, sampai kapan kita bisa
bersikap dewasa? Bersikap menerima kenyataan walaupun itu pahit. Berisikap
positive thinking tidak seperti anak kecil lagi? Sampai kapan?
Masalah
lain sudah cukup membuat persahabatan kita kacau, apa iya masalah ini akan
membuat kita semakin hancur berkeping – keping.
Kita sudah dewasa kita 3 tahun bersama –sama
, hampir 2 tahun kita lewati bersama, 1 tahun lagi kita akan berpisah
menentukan jalan hidup masing –masing.
Apa
iya disaat perpisahan kita nanti masalah ini masih nyangkut diantara kita? Apa
iya disaat perpisahan nanti yang seharusnya dipenuhi rasa persahabatan malah
menjadi rasa kebencian yang tertanam dalam lubuk hati? Apa iya sampai saat
perpisahan nanti masalah yang kita hadapai akan selalu seperti ini? Masalah
cinta satu kelas. Apa iya?
Disini
aku mencoba berfikir dewasa, aku mencoba meminimalisir ke-egoisanku. Aku
teringat kata –kata guruku yang kurang lebih “Orang yang bisa menghargai dan menjaga perasaan sahabatnya, patut
diacungi jempol” dan disini, aku
mencoba menghargai perasaan sahabatku, aku mencoba menjaga perasaan sahabatku.
Meskipun
aku tau sahabatku sudah terlanjut kecewa denganku dan tidak bisa mempercayaiku
lagi. Meskipun aku tau aku dan sahabatku tidak mungkin sedekat seperti dulu
lagi. Yang selalu bercanda, tertawa, berisik, nyanyi2 dikelas, foto – foto bareng,
curhat bareng, ngasih solusi bareng, kemana – mana bareng. Aku tau itu.
Tapi
setidaknya, dengan aku tidak bersatu dengan dia itu tidak akan memperkeruh
suasana. Dan kini, keputusanku sudah bulat tekadku sudah bulat bahwa aku tidak
akan memilihnya, aku lebih baik mengalah walaupun semuanya sudah terlanjur.
Aku
mengakui bahwa aku sayang dengan dia, dia juga sayang denganku. Tapi seperti
kata pepatah, “Sayang sama seseorang
nggak harus memiliki” dan aku mencoba melakukannya.
Untuk
kamu, maaf ya maaf aku benar – benar minta maaf atas semuanya. Maaf jika aku
mengecawakanmu, maaf:’) tapi disini aku lebih memilih persahabatan J
Untuk
sahabatku, ini keputusan yang sudah aku fikirkan baik – baik aku tidak mungkin
bersamanya. Karena aku bukan tipe orang yang bisa bahagia diatas penderitaan
orang lain apalagi orang itu kamu, sahabatku sendiriJ kita sudah satu tahun kenal satu
sama lain. Tapi jika kamu sudah terlanjur membenciku dan kecewa padaku, aku
terima J
Tertanda,
Gadis
Azizah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar