Senin, 25 Januari 2016

Tiga Tahun Yang Tak Pernah Kembali.

Tiga tahun yang tak pernah kembali..



ialah masa putih abu-abu. Masa di mana seseorang mengalami perubahan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Masa remaja. Masa labilisasi.

Banyak orang yang mengatakan bahwa;

Masa-masa paling indah adalah masa SMA, yang hanya terjadi satu kali seumur hidup.

Awalnya aku mengira bahwa itu hanya sebuah kata-kata biasa. Aku berpikir bahwa SMA sama aja seperti SD atau SMP yang kegiatannya hanyalah belajar, bermain, berteman, dan mengerjakan tugas.

Awalnya, saat aku mendaftar SMA, aku akan mengira bahwa hidupku di SMA akan suram. Bagaimana tidak? Ayahku mendaftarkanku masuk jurusan yang jauh aku tidak mengerti dan jauh dari keinginanku.

Aku menginginkan masuk jurusan Akuntansi, tetapi ayahku malah mendaftarkanku ke jurusan Multimedia. What the hell, please?

Tapi, perkiraanku semua itu ternyata salah. Masa-masa SMA yang aku rasakan, berbeda. Bisa di bilang spesial, mungkin?

Jika tadi aku mengatakan bahwa aku kesal saat masuk jurusan Multimedia, mungkin sekarang aku akan meralatnya;

Aku bangga menjadi anak Multimedia.

Selama tiga tahun, kelas kami tidak pernah berpisah atau pun rolling. Selama tiga tahun, aku belajar tentang hal yang sama sekali belum aku mengerti sebelumnya. Satu kali seumur hidup.

Selama tiga tahun, aku di pertemukan oleh manusia-manusia aneh di dalam kelas. Selama tiga tahun, aku mengenal mereka satu persatu. Nyatanya, Allah memiliki kehendak lain saat aku masuk jurusan Multimedia. Ya, aku di pertemukan oleh kalian. Dan aku sangat bersyukur.

Apa kalian tahu, sebelum aku masuk jurusan Multimedia, pengetahuan ku tentang komputer hanya sekedar menyalakan dan mematikam komputer. Aku berani bersumpah!

Apa kalian tahu, sebelum aku bertemu dan satu kelas bersama kalian selama tiga tahun, aku anak yang pendiam, irit bicara, dan lebih banyak bengong. Tidak percaya? Tanyakan saja pada teman-temanku di SD dan di SMP.

Tapi, setelah aku masuk jurusan Multimedia dan di pertemukan dengan kalian, aku merasa bahwa, aku menemukan sosok jati diriku yang sebenarnya.

Aku merasa menjadi diri sendiri di hadapan kalian. Aku mengerti arti kebersamaan, kekompakan, kekonyolan, kegilaan, kesedihan, kebahagiaan hanya bersama kalian.

Tiga tahun, bukan waktu yang sebentar, juga bukan waktu yang lama pula.

Tiga tahun, banyak sekali kenangan yang kita ukir dia bangku kelas dalam balutan seragam putih abu-abu. Bahkan aku masih mengingat setiap detail kejadian di kelas kita.

Baiklah, akan aku ceritakan beberpa kejadian menarik selama tiga tahun itu.

Apa kalian ingat saat pertama kali kita memperkenalkan diri di kelas X pada Masa Orientasi Siswa? Hahaha, aku masih ingat beberapa wajah kocak kalian.

Kalian satu persatu maju ke depan kelas dengan di bina kakak-kakak OSIS lalu memperkenalkan diri. Lucu-lucu sekali ekspresi kalian.

Namun nyatanya, perkenalan itu hanya sebatas formalitas. Karena aku, lebih mengenal kalian dari pada apa yang kalian ucapkan saat perkenalan diri.

Kalian ingat, saat kelas kita mendapat wali kelas dari Kepala Program Jurusan Multimedia di kelas X? Ya, seharusnya kita merasa spesial. Seharusnya kita bisa menjadi lebih baik dari kelas-kelas lainnya.

Tapi, apa kalian ingat hari itu? Hari rabu, entah tanggal berapa aku lupa. Kita, yang masih kelas X, yang masih terbilang junior, untuk pertama kalinya, membuat wali kelas sekaligus Kepala Program Multimedia menangis di hadapan kita! Karena apa? Karena ulah kita yang tidak bisa di atur.

Beliau marah, sangat marah. Dan saking marahnya, beliau sampai menitikkan air mata. Dan hari itu, kita satu kelas di jemur di lapangan selama empat jam pelajaran!

Setelah itu, kami kembali ke kelas dan minta maaf kepada beliau serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan berubah menjadi lebih baik.

Namun nyatanya, itu hanya janji manis yang terucap di bibir kita. Hahaha.

Kemudian, hal yang paling tidak bisa aku lupakan ialah, tragedi 30 Maret 2013. Saat aku kecelakaan sepulang dari acara ulangtahun wali kelas di Sentul, Bogor.

Aku tidak akan menceritakan lebih lanjut, karena akan sangat panjang.

Kalian tau, di hari itu, walaupun aku menjadi korban, tapi aku tau, aku merasakan bagaimana kekompakan kalian. Aku merasa sangat di lindungi. Bahkan saat aku keluar ruang UGD, aku di sambut oleh kalian yang menungguku di luar. Aku terharu, kalian belum ada satu pun yang pulang kerumah padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.00!

Dan, di hari itulah, kekompakan kita berawal.

Kemudian, kalian ingat saat kita mengerjai guru bahasa indonesia? Saat ujian praktek dan beliau masuk kelas, kita semua kompak lari kabur keluar kelas, ada yang lari ke parkiran, ke kebun belakang, dan bahkan ada yang gabisa lari karena kejebak di kelas. Dan bodohnya, kita mengaku bahwa ada ujian produktif, lantas beliau pun kembali ke ruang guru.

Padahal, demi apapun, saat itu kita jam kosong dan memang jadwalnya ujian praktek Bahasa Indonesia. Maafkan kami yaa, bu!:)

Memasuki kelas sebelas, kelas di mana kita mulai PKL. Satu persatu siswa mulai pergi PKL dan kembali lagi setelah tiga bulan.

Dan, di kelas sebelas inilah, semua masalah berawal!

Di kelas sebelas inilah, saat dimana keegoisan, kehancuran, keretakan, dan permusuhan satu kelas di mulai.

Sebenarnya, masalahnya hanya satu; Cinta. Yap, cinta satu kelas memang tidaklah mudah.

Di mana banyaknya air mata yang jatuh, khususnya bagi cewek-cewek. Karena hampir 50% anak cewek lebih banyak menangis pada saat kelas sebelas.

Dan apa kalian tahu, semenjak perpecahan ini terjadi, menyatukannya kembali tidaklah mudah. Bahkan hingga saat ini, ketika kami mencoba memulai seperti awal lagi, semuanya tidak akan sama.

Intinya, kelas sebelas ini full of conflict, di tambah lagi wali kelas yang.... yah, bisa di bilang cuek. Sangat cuek.

Ah ya! Omong-omong soal wali kelas, ada kejadian lucu.

Jadi, ketika bagi raport semester, kelas itu memang seharusnya bersih dan rapi. Karena, orang tua akan hadir di kelas. Dan memang sudah tugas kami, sebagai penghuni, harus membersihkan kelas.

Tapi, pada saat kita berada di tangga ingin ke kelas, bermaksut ingin merapikan kelas. Tiba-tiba, entah siapa yang mengatakan, aku lupa. Teman kami itu mengatakan, "Eh udah jangan ke kelas dulu. Pak Kamto lagi bersih-bersih."

Spontan kita ngakak berjamaah. Heh, murid macam apa kita ini? Membiarkan wali kelas bersih-bersih sendirian? Hahaha. Dan bodohnya, benar-benar tidak ada yang ke kelas sampai setengah jam. Maafkan kami ya Pak!:)

Memasuki kelas dua belas. Kelasnya sibuk. Kelasnya pusing akan berbagai ujian.

Aku masih ingat saat kita awal memasuki kelas dua belas. Baru dua minggu kita menduduki kelas dua belas sebagai senior, namun kita sudah mencetak dua masalah sekaligus yang membuat wali kelas kita sakit kepala.

Bukan hanya wali kelas, bahkan kelas kita menjadi perbincangan hangat di ruang guru!

Masalah pertama, hari senin saat lomba 17 Agustusan. Kelas kita berantem, dan tonjok2an sama jurusan sebelah. Yang jelas, masalah ini membuat satu sekolah heboh dan acara terpaksa di hentikan. Tentu saja membuat semua guru-guru keluar tanduk. Aku rasa hal ini tidak usah di bahas karena akan menimbulkan rasis.

Masalah kedua, main kartu uno! Sebenarnya tidak apa-apa bermain kartu uno. Yang apa-apa itu, saat Bu Widi, guru BK masuk kelas, kita malah asik main uno di belakang kelas. Seolah-olah kehadiran Bu Widi tidak di anggap.

Langsunglah marah beliau dan memanggil wali kelas kita yang..... galaknya nggak diragukan lagi. Terus, di kasih surat SP deh satu-satu yang main kartu.

Bulan-bulan selanjutnya, kami menjalani murid kelas dua belas, layaknya murid sungguhan.

Maksutnya, kita lebih fokus ke ujian-ujian yang akan kita hadapi nantinya.

Saking fokusnya, kita hampir lupa, bahwa masa-masa SMA kita akan segera berakhir.

Memasuki semester dua, jadwal kami benar-benar padat. Tidak ada lagi kata main-main. Ujian di depan mata.

Diantara banyaknya ujian-ujian yang akan kita hadapapi, sesungguhnya ujian yang benar-benar membuat kita stress ialah; UJIKOM.

Menurut kami, Uji Kompetensi Keahlian lebih menyeramkan dan bikin pusing tujuh turunan dari pada Ujian Nasional.

Hari demi hari, kita lalui untuk menyelesaikan Project Ujikom. Bahkan di waktu senggang pun saat jam istirahat atau jam kosong, kita yang biasanya ngerumpi atau jajan ke kantin, sibuk berkutat dengan Laptop&Notebook masing-masing.

Bahkan beberapa TryOut dan Ujian Praktek kita menggunakan sistem kebut semalam. Karena jujur saja, otak dan pikiran kami hanya terfokus pada Ujikom ini.

Satu minggu sebelum Ujikom! Kami benar-benar kewalahan dan panik. Beberapa di antara kami, sampai menginap hanya untuk membuat project dan minta diajari cara bikinnya.

Satu hari menjelang Ujikom, aku yakin dan berani bertaruh, delapan puluh persen atau hampir seluruh anak Multimedia angkatan pertama, tidak tidur semalaman alias begadang. Atau mungkin hanya tidur beberapa jam saja, termasuk aku.

Hari yang paling tidak di tunggu-tunggu pun tiba! Ujikom berlangsung selama tiga hari dan alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

Hati kami lega, plong, bahagia karena berhasil melewati Ujikom dengan baik.

Namun, ada satu ujian yang masih menanti;
Ujian Nasional.

Semua orang tahu, bahwa Ujian Nasional itu sangat penting. Satu minggu menjelang Ujian Nasional, kami setiap pulang sekolah berbondong-bondong kerumah ini kerumah itu hanya untuk belajar bersama. Berbagi ilmu.

Hingga hari Ujian Nasional pun tiba! 14 April 2015. Empat hari di laksanakannya Ujian Nasional.

Pada hari terakhir, saat bel berbunyi, pertanda bahwa Ujian Nasional telah berakhir, semua siswa-siwa sontak berteriak keluar ruang ujian.

Teriakan bahagia, lega, lepas sudah beban yang selama tiga tahun menunggangi pundaknya.

Aku tahu, aku sadar, dengan berakhirnya Ujian Nasional. Maka berakhir pula masa-masa SMA kita.

Berakhir sudah segala cerita yang sudah kita tuangkan dalam sebuah memori.

Aku paham, bahwa setelah Ujian Nasional ini, aku tidak perlu memikirkan apapun lagi, termasuk pelajaran.

Aku tidak perlu repot-repot bangun pagi lagi, menyiapkan seragam, menyiapkan buku dan alat tulis, menyiapkan atribut sekolah, dan tidak perlu repot-repot berangkat ke sekolah lagi.

Tapi di saat yang bersamaan pula, aku sedih, aku akan berpisah dengan mereka. Teman-temanku. Sahabatku. Keluargaku. Saudaraku. Perpisahan menuju masa depan yang lebih baik.

Hingga akhirnya, hari kelulusan pun tiba! Kami di nyatakan lulus 100% dan aku bahagia, terharu.

Kami merayakan hari kelulusan di sebuah gedung di kawasan Bogor. Aku melangkahkan kaki menuju gedung itu bersama orang tua ku. Setelah aku menemukan teman-temanku, aku segera bergabung bersama mereka.

Tidak ada kesedihan yang teihat di hari kelulusan itu, hanya ada canda, tawa, bahagia.




Aku tahu, jauh di lubuk hati mereka, sebenarnya mereka sedih, karena tiga tahun kita telah berakhir. Mereka hanya menutupinya dengan canda tawa.

Hingga acara itu selesai, semua siswa-siswi, melangkahkan kaki keluar gedung.

Aku yakin, itu bukan sekedar langkah biasa. Langkah kaki mereka, adalah langkah menuju kesuksesan mereka.

Aku menatap kepergian teman-temanku satu persatu. Seperti ada sesuatu dalam diriku yang ikut pergi saat melihat mereka melangkah pulang.

Ya, tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Tiga tahun kita telah berakhir. Tiga tahun kita, tidak akan pernah kembali.

Aku tidak bisa lagi merasakan suasana kelas, aku tidak bisa lagi mendengar celotehan guru, aku tidak akan bisa lagi melihat mereka setiap hari.

Aku yakin, setelah ini, tidak mudah untuk kita bertemu. Tidak mudah untuk kita hanya sekedar bertegur sapa. Karena aku, kalian, kita akan sibuk mengejar cita-cita masing-masing.

Tiga tahun yang tak akan pernah kembali, masa putih abu-abu.

Aku tidak pernah menyesal menjadi anak Multimedia jika bertemu dengan kalian. Aku bersyukur telah di beri kesempatan untuk mengenal kalian selama tiga tahun...

Hei, sahabat-sahabatku, dimana pun kalian berada, aku merindukan kalian.

Dan sekarang, aku percaya, dan sangat percaya bahwa;

Masa-masa paling indah adalah masa SMA, yang hanya terjadi satu kali seumur hidup.

Dan aku, ingin mengulangnya. Sekali saja.

Jika di beri kesempatan, aku ingin mengulang masa-masas putih abu-abu; satu hari saja. Aku ingin mengingat bagaimana rasanya suasana kelas.

Aku ingin terlembat sekolah lagi, di hukum lagi, aku ingin mengerjakan tugas yang bejibun lagi..

Sungguh dan tak di pungkiri, aku sangat merindukan masa-masa itu..

Tapi waktu, memang tidak bisa di putar kembali.

Tiga tahun yang tak akan pernah kembali. Aku rindu berseragam. Aku rindu mengenakan seragam putih abu-abu. Aku rindu menggunakan almamater.


Aku rindu menggunakan seragam kebanggan Multimedia, seragam kejuruan.



Aku rindu menggunakan seragam olahraga sambil senam di lapangan,



Aku rindu menggunakan seragam pramuka dan apel siang.



Aku rindu menggunakan seragam batikku yang kebesaran.



Aku rindu berseragam.

Tapi, aku bisa apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengenang tiga tahun kita.

Terlalu banyak kenangan yang kita torehkan dalam memori..

Tiga tahun yang tidak akan pernah kembali; SMA.

Tidak ada yang bisa di salahkan, waktu terus berjalan ke depan. Tidak bisa mundur.

Teruntuk teman-temanku Multimedia 1 Angkatan Pertama; aku rindu kalian. Aku bangga pada kalian. Aku bahagia telah mengenal kalian.

Dimana pun kalian berada, doaku menyertai kalian. Sampai bertemu di kesuksesan kita ya.

Jangan pernah lupakan tiga tahun yang tak pernah kembali kita..

Setidaknya, kita pernah menertawakan hidup di bawah atap yang sama.





Dari temanmu yang selalu rindu,


Mantan Sekretaris MM1 -Gadis Azizah.-

Kamis, 19 Juni 2014

Fakhirah - Bag 1

Daripada inspirasi diotak gue mendem aja gak gue tulis di ms.word yaudah jadi langsung gue post aja bag 1 nya hahaha padahal baru beberapa menit yang lalu gue ngepost prolog. Kurang baik apa gue wkwk
Enjoy gaiss!;)

“Iya sayang aku juga kangen baaangeeet sama kamu” suara cempreng milik Firza –kakakku- membuatku menoleh sambil menatapnya jijik. Bukan apa-apa pasalnya kakak perempuanku yang satu itu kalo udah telfonan sama pacarnya tingkat ke-lebay-annya meningkat.

Bukan pas telfonan aja sih tapi kalo pacaran juga. Terbukti setiap kali pacarnya dateng kerumah, kak Firza langsung meluk gitu. Menurut mereka itu sosweet. Tapi tidak menurutku. Sebenernya aku alergi melihat gaya orang pacaran yang terlalu dibuat-buat seperti itu.

“Apa lo Ra liat-liat gue? Envy ya gak punya pacar?” yang diliatin langsung sewot dan membuatku berhenti melakukan aktivitas membaca novelku.

“Idih siapa yang envy? Oemji hellawww! Please deh kak apa yang perlu di-envy-in dari seorang elo yang pacarannya kelewat alay? Kalo putus ntar nangis Bombay, susah moveon, galau mulu” cibirku sambil terkekeh.

Firza langsung menghentikan telfonannya dengan pacarnya itu sambil melotot ke arahku. “Eh monyet kok lo doain gue putus sama Bayu? Adik macem apaan lo?”

“Gue gak doain kakakku yang cantik, gue ngomong berdasarkan fakta yang gue liat selama ini setiap kali lo putus sama mantan-mantan lo itu”

“Yaelah gue tau lo envy. Makanya cari pacar”

“Gak mau. Gapenting pacar-pacaran”

“Ah masa?”

“Iya”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Gabriel siapa?”

Hah? Seketika aku kaget mendengar kakakku menyebut nama orang itu. Sumpah demi apapun aku sudah berjanji tidak ingin mengingat-ingat lagi tentang orang itu. Darimana juga Firza tau mengenai aku dan Gabriel?

“Kenapa Ra? Kok diem? belom bisa move on ya dari Gabriel?” Sekarang malah ganti kak Firza yang mencibirku.

“Apaansih soktau. Gabriel siapa? Gue gak kenal! Lagian dia emang siapa gue? Mantan bukan, Pacar bukan, Temen juga apalagi. Udah ah gue mau mandi mau pergi sama temen-temen gue. Dadaah” ujarku seraja pergi meninggalkan kamar kak Firza.

Lagipula memang benar kok kenyataannya Gabriel bukan siapa-siapa. Aku sudah menyukainya sejak setahun yang lalu. Aku lebih memlih memendamnya daripada harus terang-terangan mengatakan. Bahkan ada usaha mendekatinya pun tidak.

Aku bukan tipikal seperti cewek-cewek SMA pada umumnya yang jika menyukai seseorang langsung berusaha mendekatinya dan mengatakannya terlebih dahulu lalu si cowok yang meminta si cewek menjadi pacarnya. Lalu jadian, bahagia, putus, nyesek.

HA. Aku sudah hafal betul bagimana kisah cinta anak zaman sekarang. Untuk itu aku lebih memilih memendamnya saja. Sampai aku mendengar kabar bahwa seminggu yang lalu Gabriel baru saja in relationship bersama adek kelas. Mendengar hal tersebut aku tambah tidak bisa apa-apa lagi. Rasa sakit itu pasti ada.

“Fakhirah Sakhila, udah gue bilang kalo suka sama orang tuh ya bilang. Gimana caranya dia bisa tau lo suka sama dia selama setahun ini kalo nyatanya lo gak ngelakuin usaha apapun buat kenal dia lebih dalem? Jangan salahin dia yang jadian sama orang lain. Jangan nyesek sendiri juga liat dia bahagia sama orang lain. Semua kembali sama elo..”

Suara Kak Firza masih dapat kudengar didepan pintu kamarnya. Aku segera berlari menuju kamarku diatas karena tidak ingin mendengar kak Firza meyeramahiku lebih lanjut.

Aku akui, kakakku memang lebay dalam hal pacaran. Tapi dalam hal curhat-curhatan kakakku selalu memberi nasihat nasihat yang dijamin membuat semua orang langsung mengcopy paste kata-kata kakakku. Bijak sekali. Dewasa sekali. Sepertinya kakak yang 3 tahun lebih tua dariku itu sudah khatam mengenai masalah cinta-cintaan anak remaja.

Ohiya aku hampir lupa memperanalkan diriku, Aku Fakhirah Shakila. Semua orang memanggilku, Farah.


***

Aku melangkahkan kakiku di koridor sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku datang kepagian. Aku melirik ke arah jam ditangan kiriku. 06.45. Hah? Pantas saja sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa motor yang baru terpakir diparkiran. Padahal 15 menit lagi bel akan berbunyi, tetapi kenapa masih sepi? Apa aku salah hari? Apa sekarang hari minggu? Ah tidak, sekarang hari Senin.

Untuk memastikan benar atau tidak mengenai hari dan jam aku mengambil handphone yang aku kantongi. Dan, oh my god! Memang benar sekarang hari Senin, tapi aku lupa jam ditanganku itu aku sengaja percepat 15 menit agar aku tidak terlambat sekolah. Jam di iPhone-ku masih puku 06.31. Dan yah cukup pagi untuk anak sepertiku yang biasa dateng telat ke sekolah.

Brukkk!

“Aduhh!” ringisku

Terlalu sibuk mengutak-atik handphone. Aku sampai tidak sadar aku tengah menabrak seseorang didepanku. Kalau saja orang itu tidak menahan lenganku, mungkin aku sudah jatuh mencium lantai koridor sekolah. Lagipula siapasih yang dateng pagi-pagi banget gini. Setauku murid-murid SMA Harapan Bangsa selalu dateng mepet dengan waktu bel berbunyi.

“Kalo jalan–“ Baru saja ingin memaki-maki orang yang menabrakku namun omonganku terhenti begitu tau kalau orang yang menabrakku adalah Gabirel. Gabriel guys! Aku langsung menjauhkan diri dan langsung berlari menuju kelasku tanpa melanjutkan omonganku yang tadi dan tanpa meminta maaf.

Yatuhan… Gimana bisa aku ngelupain dia kalo ternyata hampir setiap pagi ketemu. Mengingat setiap pagi aku hampir berpapasan dengan dia dan…..pacarnya.


*** 

Pendek ya? Emang. Jelek ya? Emang. Namanya juga masih amatir. Komennya ditunggu yang pedes-pedes;) Thxx

-@Gadisssap

Fakhirah - Prolog

Pernahkan kalian merasakan bagaimana rasanya berharap pada orang yang salah?

Aku pernah.

Pernakah kalian merasakan bagaimana rasanya mencintai orang yang salah?

Aku pernah.

Pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya kalian ditinggalkan oleh orang itu?

Aku pernah.

Ketika kalian hampir mencapai harapan yang tinggi itu lalu di waktu yang sama pula kalian dihempaskan kedalan samudera terdalam. Pernahkan kalian merasakan itu?

Aku pernah.

Aku, Fakhirah Sakhila. Pernah merasakan itu semua. Dan aku menyesal pernah mencintai seseorang yang masih mencintai mantan kekasihnya.

Bodoh! Seharusnya dari awal aku tahu dia hanya menjadikanku pelampiasannya saja.

Bodoh! Seharusnya aku tidak berharap lebih pada dia.

Bodoh! Seharusnya aku tidak menjadikannya prioritas ketika dia hanya menjadikanku sebagai pilihan.

Bodoh! Seharusnya aku tau dia laki-laki itu playboy dan suka memainkan hati para wanita.

Bodoh! Bagaimana bisa aku merasa nyaman dengan sosok itu?

Tapi, nasi sudah menjadi bubur.


Kisahku ini klasik, mungkin kisahku ini seperti kisah cinta kebanyakan para remaja SMA saat ini. Atau mungkin lebih mirip di novel-novel teenlit yang sering kubaca. Atau mungkin lagi lebih mirip FTV atau Drama Korea? Entahlah. Tapi novel, FTV, ataupun Drama Korea selalu berakhir bahagia, bukan?


Tapi kisahku ini? Mungkin akan berakhir sebaliknya.

Sabtu, 22 Februari 2014

Hello ;-)

Hai, kalo boleh jujur aku lelah. Lelah dengan semua ini. Masalah yang terus datang bagaikan ombak menerjang karang yang tak kunjung berhenti. Suatu masalah yang selalu sama. Suatu masalah yang membuat suatu kepercayaan menjadi sebuah kekecewaan. Suatu masalah yang membuat suatu persahabatan menjadi perpecahan. Suatu masalah yang membuat rasa sayang menjadi benci.

Aku tau, aku salah. Aku yang dari awal salah. Tak seharusnya aku memiliki perasaan ini. Tak seharusnya aku menyayangi orang yang selama ini dekat dengan sahabatku sendiri. Bagaimana bisa?

Sosok itu yang dahulu menyayangiku tapi aku mengabaikannya. Sosok yang selalu memperhatikanku tapi aku hanya memandangnya sebelah mata. Jahat bukan? Ya aku tau! Dan sekarang ketika dia mencoba melupakanku, aku hadir dalam hidupnya.

Bukan hadir, lebih tepatnya aku peng-rusuh yang hadir diantara kamu dan sahabatku. Aku tau sahabatku hadir dalam hidupmu untuk membantumu melupakanku. Bahkan kau sempat sayang dengan sahabatku bukan?

Aku tau jelas bagaimana kedekatan antara dia dan sahabatku yang terjalin kurang lebih satu tahun ini. Mereka itu awalnya sahabat, dibilang sahabat? Tidak juga mereka terlihat lebih dari sahabat. Memang benar sahabatku sendiri menyayanginya sudah satu tahun lebih.
Lalu dengan jahatnya dengan lancangnya aku masuk dan hadir didalam lingkaran kehidupan kalian. Jahat bukan diriku?

Aku melakukan beberapa kejahatan disini. Yang pertama, aku datang terlambat dia keidupan dia. Dahulu, saat dia mengejar2 aku, aku mencampakannya. Yang kedua, kalian boleh menjuluki aku dengan berbagai macam julukan seperti Teman Makan Teman, Menusuk Sahabat Sendiri Dari Belakang, atau apalah. Ya memang begitu kenyaataanya.

Kalian boleh menghinaku, mencaci maki aku, memarahi aku, terserah kalian. Tapi Demi Allah aku juga tidak tau jika akhirnya seperti ini. Aku tidak tau kenapa bisa aku bersikap seperti ini? Perasaan itu datang kapan saja dan pada siapa saja tanpa pandang siapapun orang itu.

Untuk kesekian kali aku berusaha menyangkal perasaan itu, aku berusaha menahan perasaan itu, aku berusaha tidak membiarkan perasaan itu hadir dalam hati dan sanubariku. Tapi kenyatannnya nihil. Tak ada satu orang pun yang mampu menyangkalnya.

Kini sebuah ke-egoisan menghancurkan segalanya. Persahabatan, Kepercayaan, rasa Sayang semuanya hancur menjadi sebuah Kekecewaan, Kebencian, Perpecahan satu sama lain.

Awalnya aku ingin bersikap egois. Aku bisa saja dengan mudahnya merebut dia dari sahabatku, toh dia juga masih menyimpan perasaannya padaku.

Tapi, jika diantara kita masih saling memiliki sikap egois, sampai kapan kita bisa bersikap dewasa? Bersikap menerima kenyataan walaupun itu pahit. Berisikap positive thinking tidak seperti anak kecil lagi? Sampai kapan?

Masalah lain sudah cukup membuat persahabatan kita kacau, apa iya masalah ini akan membuat kita  semakin hancur berkeping – keping. Kita sudah dewasa  kita 3 tahun bersama –sama , hampir 2 tahun kita lewati bersama, 1 tahun lagi kita akan berpisah menentukan jalan hidup masing –masing.

Apa iya disaat perpisahan kita nanti masalah ini masih nyangkut diantara kita? Apa iya disaat perpisahan nanti yang seharusnya dipenuhi rasa persahabatan malah menjadi rasa kebencian yang tertanam dalam lubuk hati? Apa iya sampai saat perpisahan nanti masalah yang kita hadapai akan selalu seperti ini? Masalah cinta satu kelas. Apa iya?

Disini aku mencoba berfikir dewasa, aku mencoba meminimalisir ke-egoisanku. Aku teringat kata –kata guruku yang kurang lebih “Orang yang bisa menghargai dan menjaga perasaan sahabatnya, patut diacungi jempol”  dan disini, aku mencoba menghargai perasaan sahabatku, aku mencoba menjaga perasaan sahabatku.

Meskipun aku tau sahabatku sudah terlanjut kecewa denganku dan tidak bisa mempercayaiku lagi. Meskipun aku tau aku dan sahabatku tidak mungkin sedekat seperti dulu lagi. Yang selalu bercanda, tertawa, berisik, nyanyi2 dikelas, foto – foto bareng, curhat bareng, ngasih solusi bareng, kemana – mana bareng. Aku tau itu.

Tapi setidaknya, dengan aku tidak bersatu dengan dia itu tidak akan memperkeruh suasana. Dan kini, keputusanku sudah bulat tekadku sudah bulat bahwa aku tidak akan memilihnya, aku lebih baik mengalah walaupun semuanya sudah terlanjur.

Aku mengakui bahwa aku sayang dengan dia, dia juga sayang denganku. Tapi seperti kata pepatah, “Sayang sama seseorang nggak harus memiliki” dan aku mencoba melakukannya.
Untuk kamu, maaf ya maaf aku benar – benar minta maaf atas semuanya. Maaf jika aku mengecawakanmu, maaf:’) tapi disini aku lebih memilih persahabatan J

Untuk sahabatku, ini keputusan yang sudah aku fikirkan baik – baik aku tidak mungkin bersamanya. Karena aku bukan tipe orang yang bisa bahagia diatas penderitaan orang lain apalagi orang itu kamu, sahabatku sendiriJ kita sudah satu tahun kenal satu sama lain. Tapi jika kamu sudah terlanjur membenciku dan kecewa padaku, aku terima J

Tertanda,


Gadis Azizah.


Rabu, 13 November 2013

Harapan dan Hujan (cerpen)

Harapan dan Hujan (cerpen)
 “Ketika harapanmu mulai diacuhkan, ketika perasaanmu mulai tak dianggap….”

***

Ashilla’s Side

Aku masih duduk di balkon rumahku ditemani guyuran hujan sore hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada seseorang. Seseorag di masalalu ku. Seseorang yang telah dengan jahat melepaskan aku demi oranglain.  Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah tidak peduli padaku. Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah bersama perempuan lain. Menyakitkan bukan?

Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa aku ini bodoh, ya bodoh! Bodoh menanti seseorang yang sudah tidak punya perasaan apapun padaku. Bodoh mengharapkan seseorang yang jelas – jelas sudah punya pasangan. Ya, itulah cinta. Kalau kata Mario Teguh, cinta dapat membuat seseorang pintar menjadi bodoh. Contohnya aku.

Tapi salahkah jika aku masih berharap padanya? Mengharapkannya kembali di sini, disisiku. Bukankah berharap itu hak setiap manusia? Walaupun pada akhirnya harapan itu akan menjadi sia – sia . Dan memberi sebuah kepastian pada setiap harapan itu kewajiban yang harus dilakukan?
Entah kenapa walaupun begitu, aku tetap tidak bisa membenci hujan. Justru aku sangat menyukai hujan.  Karena setelah hujan berhenti, akan ada pelangi yang indah yang menghiasi langit.

Begitu juga harapanku, aku berharap setelah aku berharap akan ada kebahagiaan yang menemaniku walaupun bukan bersamanya…

“Shill…”

Lamunanku terbuyar, aku menoleh tanpa mengubah posisi awalku yang sedang duduk sambil melamun.

“Eh elo Fy, kenapa? Sini duduk” ujarku seraya menarik tangan Ify dan mengajaknya duduk disampingku.

“Lo suka banget sama hujan ya, Shill?”

Aku tersenyum. “Suka banget, karena hujanlah yang bikin gue inget tentang dia, Fy. Tentang Alvin. Hujan juga selalu memutar kembali kenangan – kenangan gue sama dia dulu, Fy” Aku memandang lurus kedepan memandang hujan yang turun semakin deras.

“Lo inget gak Fy? Dulu dia nembak gue pas hujan – hujan juga loh.. Dia rela nyari mawar ungu sebagai persyaratan jadi cowo gue hujan – hujan juga waktu itu.. Lo inget gak? Gue putus sama Alvin juga pas hujan – hujan Fy. Dibawah derasnya hujan, di taman belakang Sekolah Fy..” Aku kembali menceritakan semuanya.
“Lo masih sayang banget sama dia? Lo masih berharap sama dia?” Dia kan udah punya…”

“Ssssttt, jangan dilanjutin Fy. Semakin lo terus – teru ngingetin hal itu, semakin gue susah buat nerima kenyataan. Biarin semua hilang secara perlahan, Fy. Gue udah tau, lo juga tau bahkan mungkin dunia juga tau kalo Alvin udah punya pacar, Sivia kan?”

“Kalo lo udah tau dia udah ada yang punya, mau sampe kapan lo berharap sama dia? Apa harapan lo ngga sia – sia?”

“Selagi gue masih bernafas, detak jantung gue masih berdetak, dan hati gue masih bisa merasakan. Kenapa engga?” Aku menghela nafas. “Gue juga ngga tau Fy kenapa gue masih bertahan buat nunggu. Menurut gue, menunggu itu asyik walaupun menyakitkan” sambungku.

“Tapi Shill, lo harus bisa nerima kenyataan kalo Alvin udah ada yang punya. Bukannya cinta itu harus merelakan ya? Merelakan orang yang lo sayang bahagia sama yang lain.” Ify menghela nafas panjang “Lo juga harus bahagia. Lo berhak bahagia. Mau sampe kapan lo terus – terusan nunggu dan berharap sama yang lo udah tau jawabannya. Gak mungkin.” Lanjut Ify

Aku tertawa miris. “Mungkin sampe Tuhan ngambil nyawa gue, baru dari situ gue mulai merelakan, melupakan, berhenti berharap, dan berhenti menunggu”

Ify mengangkat bahu pasrah. “Gue salut sama lo Shill, semoga harapan lo nantinya ngga sia – sia ya. Gue Cuma ngga mau ngeliat lo sedih Shill”

Aku hanya bisa tersenyum. Ify berdiri dan pergi meninggalkanku.

Aku kembali larut dalam lamunanku. Aku kembali sendiri. Aku suka saat – saat seperti ini. Saat aku sedang sendiri dan hanya ditemani hujan dan kembali memutas memoriku tentangnya, Alvin.

Lagi – lagi lamunanku terbuyarkan. Pandanganku tertuju saat dua orang remaja berseragam putih abu – abu turun dari motor dan keduanya meneduh di ruko depan rumahku. Aku mengenali mereka. Aku kenal sosok itu, sosok berkulit putih dan bermata sipit dengan motor Satria Ninja-nya.  Aku juga mengenal perempuan berambut agak pirang sebahu.

Hatiku kembali perih ketika Alvin –sosok- itu melepas jeketnya dan dan melindungi Sivia –perempuan itu- . Harusnya itu aku, harusnya. Dari kejauhan aku hanya bisa melihat mereka dengan sakit. Sakit rasanya ketika melihat orang yang kita sayang bahagia dengan oranglain.

Air mataku mengalir dengan sempurna di pipiku. Aku tak tahan, tak bisa menahan perihnya hati ini yang melihatnya bersama orang lain. Aku tau aku salah, aku yang dari awal salah.

Mereka terlihat tertawa bersama ketika Alvin mencubit pipi Sivia dan Sivia membalasnya dengan mencubit perut Alvin. Hatiku kembali perih… Dari kejauhan aku masih memperhatikannya, aku tetap tidak beranjak dari tempatku walaupun air mataku mengalir semakin deras.

Yatuhan….

Salahkah aku jika aku masih mengharapkannya kembali padaku? Salahkah jika aku masih mencintainya? Salahkah jika aku masih menyayanginya dan berharap dia berada disisi-ku lagi? Aku cemburu tapi…. Ah ya, aku sudah tidak punya hak, aku bukan siapa – sispa dia lagi….

***

Sore ini kembali hujan, sudah 2 jam aku berada di taman belakang sekolah sejak bel pulang sekolah. Taman yang menjadi saksi kandasnya hubunganku dengan Alvin. Taman yang menjadi saksi bisu bersatunya Aku dan Alvin 1 tahun yang lalu.

Dibawah derasnya hujan. Aku ber-nostalgia mengingat semua yang pernah terjadi. Membiarkan diriku terhanyut oleh masa lalu…

“Shill, ngapain lo disitu ujan – ujanan? Ayo kita pulang, biar gue anter” Gabriel memanggilku tapi aku tetap tidak menggubris panggilannya. Aku masih ingin disini.

Tiba – tiba Gabriel datang dengan mambawa payung dan menarik lenganku. Akupun pasrah dan ikut pergi bersama Gabriel. Aku bahkan hamper lupa kalau tubuhku ini tidak kuat dengan hawa dingin, apalagi hujan.

Bukannya pede, tapi aku tau sosok Gabriel dari dulu sangat menyayangiku tetapi aku terus – terusan menolaknya karena aku masih menunggu masa laluku.

Setelah aku sampai di mobil Gabriel aku hanya bisa diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gabriel melajukan mobilnya. 15 menit perjalanan tetap tidak ada percakapan sampai akhirnya mobil Gabriel berhenti di seberang rumahku.

“Shill..” Gabriel menahan pergelangan tanganku ketika aku hendak membuka pintu mobilnya.

“Kenapa?” sahutku

“Lo….masih sayang sama Alvin?”

Aku tersenyum miris, “Tanpa gue jawab, lo udah tau jawabannya kan, Gab?”
Gabriel menghela nafas. “Tapi sampe kapan lo berharap dia balik lagi sama lo, Shill?”

“Gue ngga tau, Cuma waktu yang bisa jawab semuanya. Lagipula susah buat ngelupain semua kenangan sama dia, Gab”

“Kapan lo mau coba buka hati buat orang lain? Sadar Shill, diluar sana banyak orang yang sayang sama lo. Banyak yang berharap bisa ada di sisi lo. Banyak yang bisa pengen bahagiain elo, Shill…. Termasuk gue”

Gabriel sudah berulang kali mengatakan hal yang hampir sama tapi entah kenapa hatiku tetap tidak luluh.

“Diluar sana juga banyak yang lebih baik dari gue Gab, kenapa lo masih tetep pengen bersama gue?”

Gabriel terdiam… tidak bisa berkata apa – apa lagi.

“Makasih ya Gab udah nganterin pulang. Lo hati – hati dijalan.” Ujarku. Sejurus kemudian aku membuka pintu mobil Gabriel dan langsung keluar.

***

Author’s Side

Saat Shilla hendak menyebrang menuju rumahnya tiba – tiba sebuah truk berdecit.
“SHILLAAAAA AWASSSS!!!!”

BRUUKKKK

Terlambat. Pertumpahan darah mewarnai jalanan sore itu diatas genangan air.
Gabriel langsung membawa Shilla ke rumah sakit dan langsung menelepon keluarga Shilla dan semua orang terdekat Shilla.

***

Setibanya di rumah sakit Shilla langsung dibawa ke ruang ICU dan langsung ditangani oleh sang dokter.

Berjam – jam kekhawatiran tampak pada diri Gabriel. Ia sangat takut, takut terjadi apa – apa pada diri Shilla.

“Gab, Shilla dimana?” ujar Ify spontan diikutin oleh Orang tua Shilla dan Alvin serta Sivia.

“Di ruang ICU, Fy lagi kritis. Tadi dikepalanya pendaharan hebat” jawab Gabriel
Selang beberapa waktu kemudian dokter keluar ruangan.

“Dok, gimana keadaan Shilla? Gimana keadaan sahabat saya?” ujar Ify

“Maaf sebelumnya, disini ada yang bernama Alvin?”

Semua langsung menoleh pada Alvin. Alvin yang merasa dirinya terpanggil langsung menghampiri dokter.”Iya dok, saya Alvin ada apa?”

“Selama operasi berjalan sedari tadi teman ada menyebut – nyebut nama anda, dan sekarang operasi sudah selesai, dia teteap memanggil nama Anda. Mungkin anda bisa melihatnya langsung ke dalam. Tapi hanya anda saja ya. Yang lain tetap tunggu diluar” ujar Dokter menjelaskan.

Alvin mengangguk. Ia membuka pintu ICU dan melangkahkan kakinya. Jantungnya bedegup kencang, ia merasa hal buruk sebentar lagi akan terjadi.
Alvin menggenggam tangan Shilla. Entah keajaiban darimana Shilla perlahan mengerjapkan matanya.

“Vin….” Gumamnya lirih

“Iya Shill, gue disini..” jawab Alvin

Shilla tersenyum. Wajahnya pucat, matanya sayu. “Lo kesini sama Sivia kan?” tanya Shilla

Alvin mengangguk “Emang kenapa?”

“Gapapa, gue Cuma mau ngomong sebentar dong sama lo sama Sivia juga Vin.. tolong panggil Sivia kesini”

Alvin langsung memanggil Sivia. Setelah Sivia berada di dalam ia juga ikut menggenggam tangan Shilla sama seperti yang Alvin lakukan.

“Kalian cocok, Alvin ganteng, Sivia cantik. Alvin sipit, Sivia juga” ujar Shilla lirih
Alvin dan Sivia tidak mengerti.

“Buat Alvin, jaga Sivia baik – baik ya Vin. Jangan tinggalin dia, selalu ada disamping dia ya. Sayangi dia dengan sepenuh hati lo vin..” Shilla menghela nafas. “Buat Sivia, jangan kecewain Alvin ya, dia sayang banget sama lo Vi.” Shilla kembali meneteskan air matanya.

“Gue sayang sama lo Vin, gue juga sayang sama Sivia… semoga kalian bahagia ya. Mulai sekarang, gue udah relain kalian kok. Gue udah berhenti berharap dan dan nggak nunggu lagi.”

“Maksutnya apa Shill?” ucap Sivia dan Alvin bersamaan.

Shilla hanya bisa tersenyum lalu mulai memejamkan matanya…
Tiiiitttt garis hijau dilayar berubah menjadu lurus.

***


Endingnyaaa berantakaaaannnn-_- kritik dan sarannya yah hehe masih belajar :-)

Sabtu, 09 November 2013

Circle of Love - Part 1

Part 1

“Ikatan Kovalen Koordinasi adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.” Ujar seorang guru Kimia menjelaskan di depan kelas.

Berjam-jam dengan pelajaran kimia memang bukan hal yang mengasyikan ditambah dengan perut yang belum sarapan pagi dari rumah. Membosankan bukan? Sama dengan hal yang dialami dengan gadis yang satu ini, Shilla.

Menulis diary mungkin salah satu hal yang lebih baik ia lakukan sekarang daripada harus mendengarkan celotehan guru didepan kelas tentang ikatan kovalenlah, atomlah, atau apapun itu yang membuat kepala Shilla pusing.

“Shilla! Coba gambarkan terbentuknya senyawa NH4!” bu Della dengan sigap langsung memberikan spidol di meja Shilla.

Aduh mampus gue, batin Shilla. Shilla melirik jam tangannya, bagus 5 menit lagi bel istirahat dan dia harus maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal laknat yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Kringggg….Kringggg…

Rupanya dewi fortuna sedang berpihak ke Shilla, tepat saat ia membuka tutup spidol bel istirahat berbunyi. “Shilla, silahkan kembali ke tempat duduk kamu” ucap bu Della

“Baik, anak-anak kita lanjutkan minggu depan. Terimakasih”

Semua murid bernafas lega saat guru kimia tersebut keluar kelas.

“Zevana, Dea, ke kantin yuk! Laper nih” ajak Shilla

“Yuk!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di kantin yang menjadi tempat paling sakral semua siswi saat jam istirahat.

“Shill, mau beli apa lo?” ujar Zevana saat mereka duduk di bangku kantin

“Gue nitip aja ya. Lagi males ngantri, hehe gue mau mie ayam sama es jeruk ya, Ze”

“Yehhh, yaudah deh. Dea, lo ikut gue yuk ngantri”

Sejurus kemudian Zevana dan Dea sudah berada di antrian. Shilla sibuk memainkan smarthpone miliknya ketika tiba2 dia merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Brukkk…

“Awww” rintih Shilla

“Eh sorry” ujar seseorang tersebut

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

“Halaaahhh minggir lo” ujar Shilla sambil mendorong orang tersebut

***

Hari ini benar – benar membuatnya kesal! Hari senin. Jam pertama pelajaran kimia, pelajaran yang memuakkan, ditambah dia harus pulang kerumah dan izin tidak mengikuti pelajaran lagi dikarenakan baju seragamnya yang kotor itu. Bingo senin! Kamu sudah membuatku sial, batin Shilla.

Shilla mendorong pintu rumah dengan malas. Dia tahu pasti papahnya sedang ada dirumah karena mobil papahnya terpakir dihalaman tadi.

“Loh?Shill?tumben jam 1 siang gini udah pulang?Itu baju kamu kenapa?” Zainal –Papah Shilla-  langsungnya menyerbunya dengan berbagai pertanyaan

“Apasih pah, gausah sok peduli sama aku deh! Urusin aja selingkuhan Papah sana!” bentak Shilla

“SHILLA! JAGA OMONGAN KAMU! DIA BUKAN SELINGKUHAN PAPAH, DIA REKAN KERJA!” ujar Papahnya dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Kalo papah mau aku jaga omongan aku, Papah juga harus jaga perasaan Mamah, gimana rasanya jadi Mamah! Puas?! Ohiya kalo rekan kerja, mana mungkin telfonan ngomongnya pake kata ‘sayang’ HAH?!” Shilla langsung lari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya.

Selalu begini, 3 bulan terakhir Shilla selalu adu mulut dengan Papahnya. Shilla benci papah! Dia jahat. Dia sudah meninggalkan Mamah dengan wanita lain! Shilla benci Papah!

Matanya tertuju pada sebuah bingkai, bingkai dimana didalam bingkat tersebut terdapat foto dirinya yang tertawa lebar sedang merayakan ulangtahun yang ke 10 disebelah kiri terdapat Papahnya yang memeluknya dan disebelah kanan nada Mamahnya yang mencium pipinya. Terlihat bahagia.

Shilla merindukan masa – masa itu, masa dimana dia dan keluarga kumpul dan tertawa. Tak terasa pertahanannya pecah. Shilla menangis. Shilla rindu. Rindu susasa hangat di keluarganya yang dulu pernah ia miliki.

***

Sivia masih berkutat didepan laptop-nya mengerjakan persentasi pelajaran IPS yang tak kunjung selesai. Tapi pikirannya tertuju pada kejaian tadi siang saat jam istirahat saat dia tidak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan kuah baksonya.

‘Gue jadi ngga enak’ batinnya. ‘Gua harus minta maaf ke dia, kayaknya dia marah banget tadi’ sambungnya.

***

06.15
Kringggg…. Shilla meraih handphone-nya lalu mematikan handphone-nya dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Kringgggg… namun suara itu masih tetap berbunyi. Suara apa itu? Shilla tetap tidak peduli, Shilla menutup kepalanya dengan bantal mickey mousenya. Kringgggg…. Shilla kesal. Dia terbangun dan tatapannya langsung tertuju pada jam wekeer di meja belajarnya.

Sial! Gue telat! Dengan cepat dia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. 15 menit kemudian Shilla sudah menggunakan seragam putih abu – abu nya dan merapikan penampilannya.

Dia menuruni anak tangga dan melirik sebentar kea rah meja makan yang hanya berisi Papahnya. Dia tau Mamahnya pasti masih di dalam kamar dengan keadaan menangis lagi. Meningat hal itu Shilla mengurungkan niatnya untuk sarapan terlebih dahulu. Dia langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja makan.

***

07.00
Shilla sudah berada didepan gerbang sekolahnya. Untungnya dia tidak terlambat. Saat ia hendak memasuki kelasnya langkahnya terhenti karena seseorang dari belakang menarik tangannya. Shilla menoleh.

“Shilla, tunggu!” ujar Sivia – orang tersebut.

Shilla berdecak kesal. “Mau apalagi sih? Mau numpahin kuah bakso lo di baju gue lagi?” sahut Shilla dengan nada menyindir.

Sivia mengernyit. “Enggak kok. Justru gue nyamperin lo karena mau minta maaf. Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya” ujar Sivia kekeuh.

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Sivia lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.

Lo pikir lo siapa? Enak aja minta maaf sama gue, batin Shilla

***

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” tubuh Sivia seketika menegang. Ternyata dia belum mau maafin gua, gumamnya. Sivia masih diam di tempat sementara Shilla sudah berlalu dari hadapannya. Gue harus minta maaf sampe dia mau maafin gue, batinnya.
Sivia kemudian kembali ke kelasnya.

***

Ini cerbung ancur bgt wkwkwk :D sorry for typo-_-