Rabu, 13 November 2013

Harapan dan Hujan (cerpen)

Harapan dan Hujan (cerpen)
 “Ketika harapanmu mulai diacuhkan, ketika perasaanmu mulai tak dianggap….”

***

Ashilla’s Side

Aku masih duduk di balkon rumahku ditemani guyuran hujan sore hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada seseorang. Seseorag di masalalu ku. Seseorang yang telah dengan jahat melepaskan aku demi oranglain.  Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah tidak peduli padaku. Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah bersama perempuan lain. Menyakitkan bukan?

Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa aku ini bodoh, ya bodoh! Bodoh menanti seseorang yang sudah tidak punya perasaan apapun padaku. Bodoh mengharapkan seseorang yang jelas – jelas sudah punya pasangan. Ya, itulah cinta. Kalau kata Mario Teguh, cinta dapat membuat seseorang pintar menjadi bodoh. Contohnya aku.

Tapi salahkah jika aku masih berharap padanya? Mengharapkannya kembali di sini, disisiku. Bukankah berharap itu hak setiap manusia? Walaupun pada akhirnya harapan itu akan menjadi sia – sia . Dan memberi sebuah kepastian pada setiap harapan itu kewajiban yang harus dilakukan?
Entah kenapa walaupun begitu, aku tetap tidak bisa membenci hujan. Justru aku sangat menyukai hujan.  Karena setelah hujan berhenti, akan ada pelangi yang indah yang menghiasi langit.

Begitu juga harapanku, aku berharap setelah aku berharap akan ada kebahagiaan yang menemaniku walaupun bukan bersamanya…

“Shill…”

Lamunanku terbuyar, aku menoleh tanpa mengubah posisi awalku yang sedang duduk sambil melamun.

“Eh elo Fy, kenapa? Sini duduk” ujarku seraya menarik tangan Ify dan mengajaknya duduk disampingku.

“Lo suka banget sama hujan ya, Shill?”

Aku tersenyum. “Suka banget, karena hujanlah yang bikin gue inget tentang dia, Fy. Tentang Alvin. Hujan juga selalu memutar kembali kenangan – kenangan gue sama dia dulu, Fy” Aku memandang lurus kedepan memandang hujan yang turun semakin deras.

“Lo inget gak Fy? Dulu dia nembak gue pas hujan – hujan juga loh.. Dia rela nyari mawar ungu sebagai persyaratan jadi cowo gue hujan – hujan juga waktu itu.. Lo inget gak? Gue putus sama Alvin juga pas hujan – hujan Fy. Dibawah derasnya hujan, di taman belakang Sekolah Fy..” Aku kembali menceritakan semuanya.
“Lo masih sayang banget sama dia? Lo masih berharap sama dia?” Dia kan udah punya…”

“Ssssttt, jangan dilanjutin Fy. Semakin lo terus – teru ngingetin hal itu, semakin gue susah buat nerima kenyataan. Biarin semua hilang secara perlahan, Fy. Gue udah tau, lo juga tau bahkan mungkin dunia juga tau kalo Alvin udah punya pacar, Sivia kan?”

“Kalo lo udah tau dia udah ada yang punya, mau sampe kapan lo berharap sama dia? Apa harapan lo ngga sia – sia?”

“Selagi gue masih bernafas, detak jantung gue masih berdetak, dan hati gue masih bisa merasakan. Kenapa engga?” Aku menghela nafas. “Gue juga ngga tau Fy kenapa gue masih bertahan buat nunggu. Menurut gue, menunggu itu asyik walaupun menyakitkan” sambungku.

“Tapi Shill, lo harus bisa nerima kenyataan kalo Alvin udah ada yang punya. Bukannya cinta itu harus merelakan ya? Merelakan orang yang lo sayang bahagia sama yang lain.” Ify menghela nafas panjang “Lo juga harus bahagia. Lo berhak bahagia. Mau sampe kapan lo terus – terusan nunggu dan berharap sama yang lo udah tau jawabannya. Gak mungkin.” Lanjut Ify

Aku tertawa miris. “Mungkin sampe Tuhan ngambil nyawa gue, baru dari situ gue mulai merelakan, melupakan, berhenti berharap, dan berhenti menunggu”

Ify mengangkat bahu pasrah. “Gue salut sama lo Shill, semoga harapan lo nantinya ngga sia – sia ya. Gue Cuma ngga mau ngeliat lo sedih Shill”

Aku hanya bisa tersenyum. Ify berdiri dan pergi meninggalkanku.

Aku kembali larut dalam lamunanku. Aku kembali sendiri. Aku suka saat – saat seperti ini. Saat aku sedang sendiri dan hanya ditemani hujan dan kembali memutas memoriku tentangnya, Alvin.

Lagi – lagi lamunanku terbuyarkan. Pandanganku tertuju saat dua orang remaja berseragam putih abu – abu turun dari motor dan keduanya meneduh di ruko depan rumahku. Aku mengenali mereka. Aku kenal sosok itu, sosok berkulit putih dan bermata sipit dengan motor Satria Ninja-nya.  Aku juga mengenal perempuan berambut agak pirang sebahu.

Hatiku kembali perih ketika Alvin –sosok- itu melepas jeketnya dan dan melindungi Sivia –perempuan itu- . Harusnya itu aku, harusnya. Dari kejauhan aku hanya bisa melihat mereka dengan sakit. Sakit rasanya ketika melihat orang yang kita sayang bahagia dengan oranglain.

Air mataku mengalir dengan sempurna di pipiku. Aku tak tahan, tak bisa menahan perihnya hati ini yang melihatnya bersama orang lain. Aku tau aku salah, aku yang dari awal salah.

Mereka terlihat tertawa bersama ketika Alvin mencubit pipi Sivia dan Sivia membalasnya dengan mencubit perut Alvin. Hatiku kembali perih… Dari kejauhan aku masih memperhatikannya, aku tetap tidak beranjak dari tempatku walaupun air mataku mengalir semakin deras.

Yatuhan….

Salahkah aku jika aku masih mengharapkannya kembali padaku? Salahkah jika aku masih mencintainya? Salahkah jika aku masih menyayanginya dan berharap dia berada disisi-ku lagi? Aku cemburu tapi…. Ah ya, aku sudah tidak punya hak, aku bukan siapa – sispa dia lagi….

***

Sore ini kembali hujan, sudah 2 jam aku berada di taman belakang sekolah sejak bel pulang sekolah. Taman yang menjadi saksi kandasnya hubunganku dengan Alvin. Taman yang menjadi saksi bisu bersatunya Aku dan Alvin 1 tahun yang lalu.

Dibawah derasnya hujan. Aku ber-nostalgia mengingat semua yang pernah terjadi. Membiarkan diriku terhanyut oleh masa lalu…

“Shill, ngapain lo disitu ujan – ujanan? Ayo kita pulang, biar gue anter” Gabriel memanggilku tapi aku tetap tidak menggubris panggilannya. Aku masih ingin disini.

Tiba – tiba Gabriel datang dengan mambawa payung dan menarik lenganku. Akupun pasrah dan ikut pergi bersama Gabriel. Aku bahkan hamper lupa kalau tubuhku ini tidak kuat dengan hawa dingin, apalagi hujan.

Bukannya pede, tapi aku tau sosok Gabriel dari dulu sangat menyayangiku tetapi aku terus – terusan menolaknya karena aku masih menunggu masa laluku.

Setelah aku sampai di mobil Gabriel aku hanya bisa diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gabriel melajukan mobilnya. 15 menit perjalanan tetap tidak ada percakapan sampai akhirnya mobil Gabriel berhenti di seberang rumahku.

“Shill..” Gabriel menahan pergelangan tanganku ketika aku hendak membuka pintu mobilnya.

“Kenapa?” sahutku

“Lo….masih sayang sama Alvin?”

Aku tersenyum miris, “Tanpa gue jawab, lo udah tau jawabannya kan, Gab?”
Gabriel menghela nafas. “Tapi sampe kapan lo berharap dia balik lagi sama lo, Shill?”

“Gue ngga tau, Cuma waktu yang bisa jawab semuanya. Lagipula susah buat ngelupain semua kenangan sama dia, Gab”

“Kapan lo mau coba buka hati buat orang lain? Sadar Shill, diluar sana banyak orang yang sayang sama lo. Banyak yang berharap bisa ada di sisi lo. Banyak yang bisa pengen bahagiain elo, Shill…. Termasuk gue”

Gabriel sudah berulang kali mengatakan hal yang hampir sama tapi entah kenapa hatiku tetap tidak luluh.

“Diluar sana juga banyak yang lebih baik dari gue Gab, kenapa lo masih tetep pengen bersama gue?”

Gabriel terdiam… tidak bisa berkata apa – apa lagi.

“Makasih ya Gab udah nganterin pulang. Lo hati – hati dijalan.” Ujarku. Sejurus kemudian aku membuka pintu mobil Gabriel dan langsung keluar.

***

Author’s Side

Saat Shilla hendak menyebrang menuju rumahnya tiba – tiba sebuah truk berdecit.
“SHILLAAAAA AWASSSS!!!!”

BRUUKKKK

Terlambat. Pertumpahan darah mewarnai jalanan sore itu diatas genangan air.
Gabriel langsung membawa Shilla ke rumah sakit dan langsung menelepon keluarga Shilla dan semua orang terdekat Shilla.

***

Setibanya di rumah sakit Shilla langsung dibawa ke ruang ICU dan langsung ditangani oleh sang dokter.

Berjam – jam kekhawatiran tampak pada diri Gabriel. Ia sangat takut, takut terjadi apa – apa pada diri Shilla.

“Gab, Shilla dimana?” ujar Ify spontan diikutin oleh Orang tua Shilla dan Alvin serta Sivia.

“Di ruang ICU, Fy lagi kritis. Tadi dikepalanya pendaharan hebat” jawab Gabriel
Selang beberapa waktu kemudian dokter keluar ruangan.

“Dok, gimana keadaan Shilla? Gimana keadaan sahabat saya?” ujar Ify

“Maaf sebelumnya, disini ada yang bernama Alvin?”

Semua langsung menoleh pada Alvin. Alvin yang merasa dirinya terpanggil langsung menghampiri dokter.”Iya dok, saya Alvin ada apa?”

“Selama operasi berjalan sedari tadi teman ada menyebut – nyebut nama anda, dan sekarang operasi sudah selesai, dia teteap memanggil nama Anda. Mungkin anda bisa melihatnya langsung ke dalam. Tapi hanya anda saja ya. Yang lain tetap tunggu diluar” ujar Dokter menjelaskan.

Alvin mengangguk. Ia membuka pintu ICU dan melangkahkan kakinya. Jantungnya bedegup kencang, ia merasa hal buruk sebentar lagi akan terjadi.
Alvin menggenggam tangan Shilla. Entah keajaiban darimana Shilla perlahan mengerjapkan matanya.

“Vin….” Gumamnya lirih

“Iya Shill, gue disini..” jawab Alvin

Shilla tersenyum. Wajahnya pucat, matanya sayu. “Lo kesini sama Sivia kan?” tanya Shilla

Alvin mengangguk “Emang kenapa?”

“Gapapa, gue Cuma mau ngomong sebentar dong sama lo sama Sivia juga Vin.. tolong panggil Sivia kesini”

Alvin langsung memanggil Sivia. Setelah Sivia berada di dalam ia juga ikut menggenggam tangan Shilla sama seperti yang Alvin lakukan.

“Kalian cocok, Alvin ganteng, Sivia cantik. Alvin sipit, Sivia juga” ujar Shilla lirih
Alvin dan Sivia tidak mengerti.

“Buat Alvin, jaga Sivia baik – baik ya Vin. Jangan tinggalin dia, selalu ada disamping dia ya. Sayangi dia dengan sepenuh hati lo vin..” Shilla menghela nafas. “Buat Sivia, jangan kecewain Alvin ya, dia sayang banget sama lo Vi.” Shilla kembali meneteskan air matanya.

“Gue sayang sama lo Vin, gue juga sayang sama Sivia… semoga kalian bahagia ya. Mulai sekarang, gue udah relain kalian kok. Gue udah berhenti berharap dan dan nggak nunggu lagi.”

“Maksutnya apa Shill?” ucap Sivia dan Alvin bersamaan.

Shilla hanya bisa tersenyum lalu mulai memejamkan matanya…
Tiiiitttt garis hijau dilayar berubah menjadu lurus.

***


Endingnyaaa berantakaaaannnn-_- kritik dan sarannya yah hehe masih belajar :-)

Sabtu, 09 November 2013

Circle of Love - Part 1

Part 1

“Ikatan Kovalen Koordinasi adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.” Ujar seorang guru Kimia menjelaskan di depan kelas.

Berjam-jam dengan pelajaran kimia memang bukan hal yang mengasyikan ditambah dengan perut yang belum sarapan pagi dari rumah. Membosankan bukan? Sama dengan hal yang dialami dengan gadis yang satu ini, Shilla.

Menulis diary mungkin salah satu hal yang lebih baik ia lakukan sekarang daripada harus mendengarkan celotehan guru didepan kelas tentang ikatan kovalenlah, atomlah, atau apapun itu yang membuat kepala Shilla pusing.

“Shilla! Coba gambarkan terbentuknya senyawa NH4!” bu Della dengan sigap langsung memberikan spidol di meja Shilla.

Aduh mampus gue, batin Shilla. Shilla melirik jam tangannya, bagus 5 menit lagi bel istirahat dan dia harus maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal laknat yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Kringggg….Kringggg…

Rupanya dewi fortuna sedang berpihak ke Shilla, tepat saat ia membuka tutup spidol bel istirahat berbunyi. “Shilla, silahkan kembali ke tempat duduk kamu” ucap bu Della

“Baik, anak-anak kita lanjutkan minggu depan. Terimakasih”

Semua murid bernafas lega saat guru kimia tersebut keluar kelas.

“Zevana, Dea, ke kantin yuk! Laper nih” ajak Shilla

“Yuk!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di kantin yang menjadi tempat paling sakral semua siswi saat jam istirahat.

“Shill, mau beli apa lo?” ujar Zevana saat mereka duduk di bangku kantin

“Gue nitip aja ya. Lagi males ngantri, hehe gue mau mie ayam sama es jeruk ya, Ze”

“Yehhh, yaudah deh. Dea, lo ikut gue yuk ngantri”

Sejurus kemudian Zevana dan Dea sudah berada di antrian. Shilla sibuk memainkan smarthpone miliknya ketika tiba2 dia merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Brukkk…

“Awww” rintih Shilla

“Eh sorry” ujar seseorang tersebut

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

“Halaaahhh minggir lo” ujar Shilla sambil mendorong orang tersebut

***

Hari ini benar – benar membuatnya kesal! Hari senin. Jam pertama pelajaran kimia, pelajaran yang memuakkan, ditambah dia harus pulang kerumah dan izin tidak mengikuti pelajaran lagi dikarenakan baju seragamnya yang kotor itu. Bingo senin! Kamu sudah membuatku sial, batin Shilla.

Shilla mendorong pintu rumah dengan malas. Dia tahu pasti papahnya sedang ada dirumah karena mobil papahnya terpakir dihalaman tadi.

“Loh?Shill?tumben jam 1 siang gini udah pulang?Itu baju kamu kenapa?” Zainal –Papah Shilla-  langsungnya menyerbunya dengan berbagai pertanyaan

“Apasih pah, gausah sok peduli sama aku deh! Urusin aja selingkuhan Papah sana!” bentak Shilla

“SHILLA! JAGA OMONGAN KAMU! DIA BUKAN SELINGKUHAN PAPAH, DIA REKAN KERJA!” ujar Papahnya dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Kalo papah mau aku jaga omongan aku, Papah juga harus jaga perasaan Mamah, gimana rasanya jadi Mamah! Puas?! Ohiya kalo rekan kerja, mana mungkin telfonan ngomongnya pake kata ‘sayang’ HAH?!” Shilla langsung lari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya.

Selalu begini, 3 bulan terakhir Shilla selalu adu mulut dengan Papahnya. Shilla benci papah! Dia jahat. Dia sudah meninggalkan Mamah dengan wanita lain! Shilla benci Papah!

Matanya tertuju pada sebuah bingkai, bingkai dimana didalam bingkat tersebut terdapat foto dirinya yang tertawa lebar sedang merayakan ulangtahun yang ke 10 disebelah kiri terdapat Papahnya yang memeluknya dan disebelah kanan nada Mamahnya yang mencium pipinya. Terlihat bahagia.

Shilla merindukan masa – masa itu, masa dimana dia dan keluarga kumpul dan tertawa. Tak terasa pertahanannya pecah. Shilla menangis. Shilla rindu. Rindu susasa hangat di keluarganya yang dulu pernah ia miliki.

***

Sivia masih berkutat didepan laptop-nya mengerjakan persentasi pelajaran IPS yang tak kunjung selesai. Tapi pikirannya tertuju pada kejaian tadi siang saat jam istirahat saat dia tidak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan kuah baksonya.

‘Gue jadi ngga enak’ batinnya. ‘Gua harus minta maaf ke dia, kayaknya dia marah banget tadi’ sambungnya.

***

06.15
Kringggg…. Shilla meraih handphone-nya lalu mematikan handphone-nya dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Kringgggg… namun suara itu masih tetap berbunyi. Suara apa itu? Shilla tetap tidak peduli, Shilla menutup kepalanya dengan bantal mickey mousenya. Kringgggg…. Shilla kesal. Dia terbangun dan tatapannya langsung tertuju pada jam wekeer di meja belajarnya.

Sial! Gue telat! Dengan cepat dia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. 15 menit kemudian Shilla sudah menggunakan seragam putih abu – abu nya dan merapikan penampilannya.

Dia menuruni anak tangga dan melirik sebentar kea rah meja makan yang hanya berisi Papahnya. Dia tau Mamahnya pasti masih di dalam kamar dengan keadaan menangis lagi. Meningat hal itu Shilla mengurungkan niatnya untuk sarapan terlebih dahulu. Dia langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja makan.

***

07.00
Shilla sudah berada didepan gerbang sekolahnya. Untungnya dia tidak terlambat. Saat ia hendak memasuki kelasnya langkahnya terhenti karena seseorang dari belakang menarik tangannya. Shilla menoleh.

“Shilla, tunggu!” ujar Sivia – orang tersebut.

Shilla berdecak kesal. “Mau apalagi sih? Mau numpahin kuah bakso lo di baju gue lagi?” sahut Shilla dengan nada menyindir.

Sivia mengernyit. “Enggak kok. Justru gue nyamperin lo karena mau minta maaf. Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya” ujar Sivia kekeuh.

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Sivia lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.

Lo pikir lo siapa? Enak aja minta maaf sama gue, batin Shilla

***

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” tubuh Sivia seketika menegang. Ternyata dia belum mau maafin gua, gumamnya. Sivia masih diam di tempat sementara Shilla sudah berlalu dari hadapannya. Gue harus minta maaf sampe dia mau maafin gue, batinnya.
Sivia kemudian kembali ke kelasnya.

***

Ini cerbung ancur bgt wkwkwk :D sorry for typo-_-


Jumat, 08 November 2013

Circle of Love - Prolog

Prolog...

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

***

“Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya”

“Gausah lebay! Pergi lo sana!”

***

“Lo udah ngerjain PR? Mau gue bantu nggak? Ya itung-itung sebagai tanda permintaan maaf gue ke elo” Gadis itu tetap bersikeras untuk meminta maaf atas kesalahannya.

“Gausah! Gue bisa sendiri! Udah deh mending lo pergi sana ngapain sih deket-deket gua, jijik tau ngga!”

***

“Lo kenapa? Kenapa muka lo seolah – olah sedih? Lo ada masalah?

Gadis itu tetap diam, tidak menggubris.

“Kalo ada masalah, cerita. siapa tau gue bisa bantu lo”

Gadis itu merasa masalah kali ini membuatnya frustasi, entah dorongan darimana dia merasa orang yang tepat untuk menceritakan semua masalahnya adalah orang yang disebelahnya kali ini.

“Jadi gini…….”

***

“Makasih ya, udah dengerin cerita dan keluh kesah semua masalah gue, makasih juga udah ngasih saran dan solusi”

“Anytime, selagi gue masih bisa bantu lo kenapa enggak?”

“Iya, ohiya lo jangan khawatir masalah yang lo numpahin kuah bakso di baju gue, itu udah gue maafin kok anggep aja itu angin lewat.  Boleh minta sesuatu ngga?”

“Apa?”

“Mulai sekarang kita temenan ya, kalo bisa sahabatan. Entah kenapa gue ngerasa lo adalah orang yang tepat untuk dijadiin sahabat. Lo mau kan sahabatan sama gue?”

“Dengan senang hati”

***

“Serius lo?!”

“Iya, aduh gimana gue ngga suka coba orang dia ganteng gitu alisnya tebel punya lesung pipi jago main futsal. Aduh tolong gue jatuh cinta sama dia”

***

Angin malam bertiup kencang.
Gadis itu merapatkan jaketnya, tapi tetap saja angin itu masih sangat terasa menerpa wajahnya. Serapat apapun dia mencoba merapatkan jaketnya tetap saja angin itu masih terasa. Sama halnya dengan serapat apapun dia menutupi rasa sakitnya, yang ada rasa sakit itu semakin bertambah.

Dia berjalan menyusuri taman kecil itu, tanpa peduli bahwa sekarang sudah lewat tengah malam, tanpa peduli ada orang lain yang mengkhawatirkannya, tanpa peduli bagaimana perasaannya sendiri. Ia hanya ingin bebas. Bebas dari semua rintangan yang ia lalui. Bebas dari rasa sakit yang ia alami.


***
Haaaiiii ini cerbung baru aku yeaa haha hayo kira2 siapa ya pemerannya? Haha sok misterius gt aku-_- Owkey tunggu kelanjutannya di part 1 yaaa;-)