Enjoy gaiss!;)
“Iya sayang aku juga kangen baaangeeet sama kamu” suara
cempreng milik Firza –kakakku- membuatku menoleh sambil menatapnya jijik. Bukan
apa-apa pasalnya kakak perempuanku yang satu itu kalo udah telfonan sama pacarnya
tingkat ke-lebay-annya meningkat.
Bukan pas telfonan aja sih tapi kalo pacaran juga.
Terbukti setiap kali pacarnya dateng kerumah, kak Firza langsung meluk gitu.
Menurut mereka itu sosweet. Tapi tidak menurutku. Sebenernya aku alergi melihat
gaya orang pacaran yang terlalu dibuat-buat seperti itu.
“Apa lo Ra liat-liat gue? Envy ya gak punya pacar?” yang
diliatin langsung sewot dan membuatku berhenti melakukan aktivitas membaca
novelku.
“Idih siapa yang envy? Oemji hellawww! Please deh kak apa
yang perlu di-envy-in dari seorang elo yang pacarannya kelewat alay? Kalo putus
ntar nangis Bombay, susah moveon, galau mulu” cibirku sambil terkekeh.
Firza langsung menghentikan telfonannya dengan pacarnya
itu sambil melotot ke arahku. “Eh monyet kok lo doain gue putus sama Bayu? Adik
macem apaan lo?”
“Gue gak doain kakakku yang cantik, gue ngomong
berdasarkan fakta yang gue liat selama ini setiap kali lo putus sama
mantan-mantan lo itu”
“Yaelah gue tau lo envy.
Makanya cari pacar”
“Gak mau. Gapenting
pacar-pacaran”
“Ah masa?”
“Iya”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Gabriel siapa?”
Hah? Seketika aku kaget
mendengar kakakku menyebut nama orang itu. Sumpah demi apapun aku sudah
berjanji tidak ingin mengingat-ingat lagi tentang orang itu. Darimana juga
Firza tau mengenai aku dan Gabriel?
“Kenapa Ra? Kok diem? belom
bisa move on ya dari Gabriel?” Sekarang malah ganti kak Firza yang mencibirku.
“Apaansih soktau. Gabriel
siapa? Gue gak kenal! Lagian dia emang siapa gue? Mantan bukan, Pacar bukan,
Temen juga apalagi. Udah ah gue mau mandi mau pergi sama temen-temen gue.
Dadaah” ujarku seraja pergi meninggalkan kamar kak Firza.
Lagipula memang benar kok
kenyataannya Gabriel bukan siapa-siapa. Aku sudah menyukainya sejak setahun
yang lalu. Aku lebih memlih memendamnya daripada harus terang-terangan
mengatakan. Bahkan ada usaha mendekatinya pun tidak.
Aku bukan tipikal seperti
cewek-cewek SMA pada umumnya yang jika menyukai seseorang langsung berusaha
mendekatinya dan mengatakannya terlebih dahulu lalu si cowok yang meminta si
cewek menjadi pacarnya. Lalu jadian, bahagia, putus, nyesek.
HA. Aku sudah hafal betul
bagimana kisah cinta anak zaman sekarang. Untuk itu aku lebih memilih
memendamnya saja. Sampai aku mendengar kabar bahwa seminggu yang lalu Gabriel
baru saja in relationship bersama
adek kelas. Mendengar hal tersebut aku tambah tidak bisa apa-apa lagi. Rasa
sakit itu pasti ada.
“Fakhirah Sakhila, udah gue
bilang kalo suka sama orang tuh ya bilang. Gimana caranya dia bisa tau lo suka
sama dia selama setahun ini kalo nyatanya lo gak ngelakuin usaha apapun buat
kenal dia lebih dalem? Jangan salahin dia yang jadian sama orang lain. Jangan
nyesek sendiri juga liat dia bahagia sama orang lain. Semua kembali sama elo..”
Suara Kak Firza masih dapat
kudengar didepan pintu kamarnya. Aku segera berlari menuju kamarku diatas
karena tidak ingin mendengar kak Firza meyeramahiku lebih lanjut.
Aku akui, kakakku memang
lebay dalam hal pacaran. Tapi dalam hal curhat-curhatan kakakku selalu memberi nasihat
nasihat yang dijamin membuat semua orang langsung mengcopy paste kata-kata
kakakku. Bijak sekali. Dewasa sekali. Sepertinya kakak yang 3 tahun lebih tua
dariku itu sudah khatam mengenai masalah cinta-cintaan anak remaja.
Ohiya aku hampir lupa
memperanalkan diriku, Aku Fakhirah Shakila. Semua orang memanggilku, Farah.
***
Aku melangkahkan kakiku di
koridor sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku datang kepagian. Aku melirik ke
arah jam ditangan kiriku. 06.45. Hah? Pantas saja sekolah masih sepi. Hanya ada
beberapa motor yang baru terpakir diparkiran. Padahal 15 menit lagi bel akan
berbunyi, tetapi kenapa masih sepi? Apa aku salah hari? Apa sekarang hari
minggu? Ah tidak, sekarang hari Senin.
Untuk memastikan benar atau
tidak mengenai hari dan jam aku mengambil handphone yang aku kantongi. Dan, oh
my god! Memang benar sekarang hari Senin, tapi aku lupa jam ditanganku itu aku
sengaja percepat 15 menit agar aku tidak terlambat sekolah. Jam di iPhone-ku
masih puku 06.31. Dan yah cukup pagi untuk anak sepertiku yang biasa dateng telat
ke sekolah.
Brukkk!
“Aduhh!” ringisku
Terlalu sibuk mengutak-atik
handphone. Aku sampai tidak sadar aku tengah menabrak seseorang didepanku. Kalau
saja orang itu tidak menahan lenganku, mungkin aku sudah jatuh mencium lantai
koridor sekolah. Lagipula siapasih yang dateng pagi-pagi banget gini. Setauku
murid-murid SMA Harapan Bangsa selalu dateng mepet dengan waktu bel berbunyi.
“Kalo jalan–“ Baru saja
ingin memaki-maki orang yang menabrakku namun omonganku terhenti begitu tau
kalau orang yang menabrakku adalah Gabirel. Gabriel guys! Aku langsung
menjauhkan diri dan langsung berlari menuju kelasku tanpa melanjutkan omonganku
yang tadi dan tanpa meminta maaf.
Yatuhan… Gimana bisa aku
ngelupain dia kalo ternyata hampir setiap pagi ketemu. Mengingat setiap pagi
aku hampir berpapasan dengan dia dan…..pacarnya.
***
Pendek ya? Emang. Jelek ya? Emang. Namanya juga masih amatir. Komennya ditunggu yang pedes-pedes;) Thxx
-@Gadisssap