Kamis, 19 Juni 2014

Fakhirah - Bag 1

Daripada inspirasi diotak gue mendem aja gak gue tulis di ms.word yaudah jadi langsung gue post aja bag 1 nya hahaha padahal baru beberapa menit yang lalu gue ngepost prolog. Kurang baik apa gue wkwk
Enjoy gaiss!;)

“Iya sayang aku juga kangen baaangeeet sama kamu” suara cempreng milik Firza –kakakku- membuatku menoleh sambil menatapnya jijik. Bukan apa-apa pasalnya kakak perempuanku yang satu itu kalo udah telfonan sama pacarnya tingkat ke-lebay-annya meningkat.

Bukan pas telfonan aja sih tapi kalo pacaran juga. Terbukti setiap kali pacarnya dateng kerumah, kak Firza langsung meluk gitu. Menurut mereka itu sosweet. Tapi tidak menurutku. Sebenernya aku alergi melihat gaya orang pacaran yang terlalu dibuat-buat seperti itu.

“Apa lo Ra liat-liat gue? Envy ya gak punya pacar?” yang diliatin langsung sewot dan membuatku berhenti melakukan aktivitas membaca novelku.

“Idih siapa yang envy? Oemji hellawww! Please deh kak apa yang perlu di-envy-in dari seorang elo yang pacarannya kelewat alay? Kalo putus ntar nangis Bombay, susah moveon, galau mulu” cibirku sambil terkekeh.

Firza langsung menghentikan telfonannya dengan pacarnya itu sambil melotot ke arahku. “Eh monyet kok lo doain gue putus sama Bayu? Adik macem apaan lo?”

“Gue gak doain kakakku yang cantik, gue ngomong berdasarkan fakta yang gue liat selama ini setiap kali lo putus sama mantan-mantan lo itu”

“Yaelah gue tau lo envy. Makanya cari pacar”

“Gak mau. Gapenting pacar-pacaran”

“Ah masa?”

“Iya”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Gabriel siapa?”

Hah? Seketika aku kaget mendengar kakakku menyebut nama orang itu. Sumpah demi apapun aku sudah berjanji tidak ingin mengingat-ingat lagi tentang orang itu. Darimana juga Firza tau mengenai aku dan Gabriel?

“Kenapa Ra? Kok diem? belom bisa move on ya dari Gabriel?” Sekarang malah ganti kak Firza yang mencibirku.

“Apaansih soktau. Gabriel siapa? Gue gak kenal! Lagian dia emang siapa gue? Mantan bukan, Pacar bukan, Temen juga apalagi. Udah ah gue mau mandi mau pergi sama temen-temen gue. Dadaah” ujarku seraja pergi meninggalkan kamar kak Firza.

Lagipula memang benar kok kenyataannya Gabriel bukan siapa-siapa. Aku sudah menyukainya sejak setahun yang lalu. Aku lebih memlih memendamnya daripada harus terang-terangan mengatakan. Bahkan ada usaha mendekatinya pun tidak.

Aku bukan tipikal seperti cewek-cewek SMA pada umumnya yang jika menyukai seseorang langsung berusaha mendekatinya dan mengatakannya terlebih dahulu lalu si cowok yang meminta si cewek menjadi pacarnya. Lalu jadian, bahagia, putus, nyesek.

HA. Aku sudah hafal betul bagimana kisah cinta anak zaman sekarang. Untuk itu aku lebih memilih memendamnya saja. Sampai aku mendengar kabar bahwa seminggu yang lalu Gabriel baru saja in relationship bersama adek kelas. Mendengar hal tersebut aku tambah tidak bisa apa-apa lagi. Rasa sakit itu pasti ada.

“Fakhirah Sakhila, udah gue bilang kalo suka sama orang tuh ya bilang. Gimana caranya dia bisa tau lo suka sama dia selama setahun ini kalo nyatanya lo gak ngelakuin usaha apapun buat kenal dia lebih dalem? Jangan salahin dia yang jadian sama orang lain. Jangan nyesek sendiri juga liat dia bahagia sama orang lain. Semua kembali sama elo..”

Suara Kak Firza masih dapat kudengar didepan pintu kamarnya. Aku segera berlari menuju kamarku diatas karena tidak ingin mendengar kak Firza meyeramahiku lebih lanjut.

Aku akui, kakakku memang lebay dalam hal pacaran. Tapi dalam hal curhat-curhatan kakakku selalu memberi nasihat nasihat yang dijamin membuat semua orang langsung mengcopy paste kata-kata kakakku. Bijak sekali. Dewasa sekali. Sepertinya kakak yang 3 tahun lebih tua dariku itu sudah khatam mengenai masalah cinta-cintaan anak remaja.

Ohiya aku hampir lupa memperanalkan diriku, Aku Fakhirah Shakila. Semua orang memanggilku, Farah.


***

Aku melangkahkan kakiku di koridor sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku datang kepagian. Aku melirik ke arah jam ditangan kiriku. 06.45. Hah? Pantas saja sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa motor yang baru terpakir diparkiran. Padahal 15 menit lagi bel akan berbunyi, tetapi kenapa masih sepi? Apa aku salah hari? Apa sekarang hari minggu? Ah tidak, sekarang hari Senin.

Untuk memastikan benar atau tidak mengenai hari dan jam aku mengambil handphone yang aku kantongi. Dan, oh my god! Memang benar sekarang hari Senin, tapi aku lupa jam ditanganku itu aku sengaja percepat 15 menit agar aku tidak terlambat sekolah. Jam di iPhone-ku masih puku 06.31. Dan yah cukup pagi untuk anak sepertiku yang biasa dateng telat ke sekolah.

Brukkk!

“Aduhh!” ringisku

Terlalu sibuk mengutak-atik handphone. Aku sampai tidak sadar aku tengah menabrak seseorang didepanku. Kalau saja orang itu tidak menahan lenganku, mungkin aku sudah jatuh mencium lantai koridor sekolah. Lagipula siapasih yang dateng pagi-pagi banget gini. Setauku murid-murid SMA Harapan Bangsa selalu dateng mepet dengan waktu bel berbunyi.

“Kalo jalan–“ Baru saja ingin memaki-maki orang yang menabrakku namun omonganku terhenti begitu tau kalau orang yang menabrakku adalah Gabirel. Gabriel guys! Aku langsung menjauhkan diri dan langsung berlari menuju kelasku tanpa melanjutkan omonganku yang tadi dan tanpa meminta maaf.

Yatuhan… Gimana bisa aku ngelupain dia kalo ternyata hampir setiap pagi ketemu. Mengingat setiap pagi aku hampir berpapasan dengan dia dan…..pacarnya.


*** 

Pendek ya? Emang. Jelek ya? Emang. Namanya juga masih amatir. Komennya ditunggu yang pedes-pedes;) Thxx

-@Gadisssap

Fakhirah - Prolog

Pernahkan kalian merasakan bagaimana rasanya berharap pada orang yang salah?

Aku pernah.

Pernakah kalian merasakan bagaimana rasanya mencintai orang yang salah?

Aku pernah.

Pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya kalian ditinggalkan oleh orang itu?

Aku pernah.

Ketika kalian hampir mencapai harapan yang tinggi itu lalu di waktu yang sama pula kalian dihempaskan kedalan samudera terdalam. Pernahkan kalian merasakan itu?

Aku pernah.

Aku, Fakhirah Sakhila. Pernah merasakan itu semua. Dan aku menyesal pernah mencintai seseorang yang masih mencintai mantan kekasihnya.

Bodoh! Seharusnya dari awal aku tahu dia hanya menjadikanku pelampiasannya saja.

Bodoh! Seharusnya aku tidak berharap lebih pada dia.

Bodoh! Seharusnya aku tidak menjadikannya prioritas ketika dia hanya menjadikanku sebagai pilihan.

Bodoh! Seharusnya aku tau dia laki-laki itu playboy dan suka memainkan hati para wanita.

Bodoh! Bagaimana bisa aku merasa nyaman dengan sosok itu?

Tapi, nasi sudah menjadi bubur.


Kisahku ini klasik, mungkin kisahku ini seperti kisah cinta kebanyakan para remaja SMA saat ini. Atau mungkin lebih mirip di novel-novel teenlit yang sering kubaca. Atau mungkin lagi lebih mirip FTV atau Drama Korea? Entahlah. Tapi novel, FTV, ataupun Drama Korea selalu berakhir bahagia, bukan?


Tapi kisahku ini? Mungkin akan berakhir sebaliknya.

Sabtu, 22 Februari 2014

Hello ;-)

Hai, kalo boleh jujur aku lelah. Lelah dengan semua ini. Masalah yang terus datang bagaikan ombak menerjang karang yang tak kunjung berhenti. Suatu masalah yang selalu sama. Suatu masalah yang membuat suatu kepercayaan menjadi sebuah kekecewaan. Suatu masalah yang membuat suatu persahabatan menjadi perpecahan. Suatu masalah yang membuat rasa sayang menjadi benci.

Aku tau, aku salah. Aku yang dari awal salah. Tak seharusnya aku memiliki perasaan ini. Tak seharusnya aku menyayangi orang yang selama ini dekat dengan sahabatku sendiri. Bagaimana bisa?

Sosok itu yang dahulu menyayangiku tapi aku mengabaikannya. Sosok yang selalu memperhatikanku tapi aku hanya memandangnya sebelah mata. Jahat bukan? Ya aku tau! Dan sekarang ketika dia mencoba melupakanku, aku hadir dalam hidupnya.

Bukan hadir, lebih tepatnya aku peng-rusuh yang hadir diantara kamu dan sahabatku. Aku tau sahabatku hadir dalam hidupmu untuk membantumu melupakanku. Bahkan kau sempat sayang dengan sahabatku bukan?

Aku tau jelas bagaimana kedekatan antara dia dan sahabatku yang terjalin kurang lebih satu tahun ini. Mereka itu awalnya sahabat, dibilang sahabat? Tidak juga mereka terlihat lebih dari sahabat. Memang benar sahabatku sendiri menyayanginya sudah satu tahun lebih.
Lalu dengan jahatnya dengan lancangnya aku masuk dan hadir didalam lingkaran kehidupan kalian. Jahat bukan diriku?

Aku melakukan beberapa kejahatan disini. Yang pertama, aku datang terlambat dia keidupan dia. Dahulu, saat dia mengejar2 aku, aku mencampakannya. Yang kedua, kalian boleh menjuluki aku dengan berbagai macam julukan seperti Teman Makan Teman, Menusuk Sahabat Sendiri Dari Belakang, atau apalah. Ya memang begitu kenyaataanya.

Kalian boleh menghinaku, mencaci maki aku, memarahi aku, terserah kalian. Tapi Demi Allah aku juga tidak tau jika akhirnya seperti ini. Aku tidak tau kenapa bisa aku bersikap seperti ini? Perasaan itu datang kapan saja dan pada siapa saja tanpa pandang siapapun orang itu.

Untuk kesekian kali aku berusaha menyangkal perasaan itu, aku berusaha menahan perasaan itu, aku berusaha tidak membiarkan perasaan itu hadir dalam hati dan sanubariku. Tapi kenyatannnya nihil. Tak ada satu orang pun yang mampu menyangkalnya.

Kini sebuah ke-egoisan menghancurkan segalanya. Persahabatan, Kepercayaan, rasa Sayang semuanya hancur menjadi sebuah Kekecewaan, Kebencian, Perpecahan satu sama lain.

Awalnya aku ingin bersikap egois. Aku bisa saja dengan mudahnya merebut dia dari sahabatku, toh dia juga masih menyimpan perasaannya padaku.

Tapi, jika diantara kita masih saling memiliki sikap egois, sampai kapan kita bisa bersikap dewasa? Bersikap menerima kenyataan walaupun itu pahit. Berisikap positive thinking tidak seperti anak kecil lagi? Sampai kapan?

Masalah lain sudah cukup membuat persahabatan kita kacau, apa iya masalah ini akan membuat kita  semakin hancur berkeping – keping. Kita sudah dewasa  kita 3 tahun bersama –sama , hampir 2 tahun kita lewati bersama, 1 tahun lagi kita akan berpisah menentukan jalan hidup masing –masing.

Apa iya disaat perpisahan kita nanti masalah ini masih nyangkut diantara kita? Apa iya disaat perpisahan nanti yang seharusnya dipenuhi rasa persahabatan malah menjadi rasa kebencian yang tertanam dalam lubuk hati? Apa iya sampai saat perpisahan nanti masalah yang kita hadapai akan selalu seperti ini? Masalah cinta satu kelas. Apa iya?

Disini aku mencoba berfikir dewasa, aku mencoba meminimalisir ke-egoisanku. Aku teringat kata –kata guruku yang kurang lebih “Orang yang bisa menghargai dan menjaga perasaan sahabatnya, patut diacungi jempol”  dan disini, aku mencoba menghargai perasaan sahabatku, aku mencoba menjaga perasaan sahabatku.

Meskipun aku tau sahabatku sudah terlanjut kecewa denganku dan tidak bisa mempercayaiku lagi. Meskipun aku tau aku dan sahabatku tidak mungkin sedekat seperti dulu lagi. Yang selalu bercanda, tertawa, berisik, nyanyi2 dikelas, foto – foto bareng, curhat bareng, ngasih solusi bareng, kemana – mana bareng. Aku tau itu.

Tapi setidaknya, dengan aku tidak bersatu dengan dia itu tidak akan memperkeruh suasana. Dan kini, keputusanku sudah bulat tekadku sudah bulat bahwa aku tidak akan memilihnya, aku lebih baik mengalah walaupun semuanya sudah terlanjur.

Aku mengakui bahwa aku sayang dengan dia, dia juga sayang denganku. Tapi seperti kata pepatah, “Sayang sama seseorang nggak harus memiliki” dan aku mencoba melakukannya.
Untuk kamu, maaf ya maaf aku benar – benar minta maaf atas semuanya. Maaf jika aku mengecawakanmu, maaf:’) tapi disini aku lebih memilih persahabatan J

Untuk sahabatku, ini keputusan yang sudah aku fikirkan baik – baik aku tidak mungkin bersamanya. Karena aku bukan tipe orang yang bisa bahagia diatas penderitaan orang lain apalagi orang itu kamu, sahabatku sendiriJ kita sudah satu tahun kenal satu sama lain. Tapi jika kamu sudah terlanjur membenciku dan kecewa padaku, aku terima J

Tertanda,


Gadis Azizah.