Rabu, 13 November 2013

Harapan dan Hujan (cerpen)

Harapan dan Hujan (cerpen)
 “Ketika harapanmu mulai diacuhkan, ketika perasaanmu mulai tak dianggap….”

***

Ashilla’s Side

Aku masih duduk di balkon rumahku ditemani guyuran hujan sore hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada seseorang. Seseorag di masalalu ku. Seseorang yang telah dengan jahat melepaskan aku demi oranglain.  Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah tidak peduli padaku. Seseorang yang selama ini masih aku harapkan tetapi dia sudah bersama perempuan lain. Menyakitkan bukan?

Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa aku ini bodoh, ya bodoh! Bodoh menanti seseorang yang sudah tidak punya perasaan apapun padaku. Bodoh mengharapkan seseorang yang jelas – jelas sudah punya pasangan. Ya, itulah cinta. Kalau kata Mario Teguh, cinta dapat membuat seseorang pintar menjadi bodoh. Contohnya aku.

Tapi salahkah jika aku masih berharap padanya? Mengharapkannya kembali di sini, disisiku. Bukankah berharap itu hak setiap manusia? Walaupun pada akhirnya harapan itu akan menjadi sia – sia . Dan memberi sebuah kepastian pada setiap harapan itu kewajiban yang harus dilakukan?
Entah kenapa walaupun begitu, aku tetap tidak bisa membenci hujan. Justru aku sangat menyukai hujan.  Karena setelah hujan berhenti, akan ada pelangi yang indah yang menghiasi langit.

Begitu juga harapanku, aku berharap setelah aku berharap akan ada kebahagiaan yang menemaniku walaupun bukan bersamanya…

“Shill…”

Lamunanku terbuyar, aku menoleh tanpa mengubah posisi awalku yang sedang duduk sambil melamun.

“Eh elo Fy, kenapa? Sini duduk” ujarku seraya menarik tangan Ify dan mengajaknya duduk disampingku.

“Lo suka banget sama hujan ya, Shill?”

Aku tersenyum. “Suka banget, karena hujanlah yang bikin gue inget tentang dia, Fy. Tentang Alvin. Hujan juga selalu memutar kembali kenangan – kenangan gue sama dia dulu, Fy” Aku memandang lurus kedepan memandang hujan yang turun semakin deras.

“Lo inget gak Fy? Dulu dia nembak gue pas hujan – hujan juga loh.. Dia rela nyari mawar ungu sebagai persyaratan jadi cowo gue hujan – hujan juga waktu itu.. Lo inget gak? Gue putus sama Alvin juga pas hujan – hujan Fy. Dibawah derasnya hujan, di taman belakang Sekolah Fy..” Aku kembali menceritakan semuanya.
“Lo masih sayang banget sama dia? Lo masih berharap sama dia?” Dia kan udah punya…”

“Ssssttt, jangan dilanjutin Fy. Semakin lo terus – teru ngingetin hal itu, semakin gue susah buat nerima kenyataan. Biarin semua hilang secara perlahan, Fy. Gue udah tau, lo juga tau bahkan mungkin dunia juga tau kalo Alvin udah punya pacar, Sivia kan?”

“Kalo lo udah tau dia udah ada yang punya, mau sampe kapan lo berharap sama dia? Apa harapan lo ngga sia – sia?”

“Selagi gue masih bernafas, detak jantung gue masih berdetak, dan hati gue masih bisa merasakan. Kenapa engga?” Aku menghela nafas. “Gue juga ngga tau Fy kenapa gue masih bertahan buat nunggu. Menurut gue, menunggu itu asyik walaupun menyakitkan” sambungku.

“Tapi Shill, lo harus bisa nerima kenyataan kalo Alvin udah ada yang punya. Bukannya cinta itu harus merelakan ya? Merelakan orang yang lo sayang bahagia sama yang lain.” Ify menghela nafas panjang “Lo juga harus bahagia. Lo berhak bahagia. Mau sampe kapan lo terus – terusan nunggu dan berharap sama yang lo udah tau jawabannya. Gak mungkin.” Lanjut Ify

Aku tertawa miris. “Mungkin sampe Tuhan ngambil nyawa gue, baru dari situ gue mulai merelakan, melupakan, berhenti berharap, dan berhenti menunggu”

Ify mengangkat bahu pasrah. “Gue salut sama lo Shill, semoga harapan lo nantinya ngga sia – sia ya. Gue Cuma ngga mau ngeliat lo sedih Shill”

Aku hanya bisa tersenyum. Ify berdiri dan pergi meninggalkanku.

Aku kembali larut dalam lamunanku. Aku kembali sendiri. Aku suka saat – saat seperti ini. Saat aku sedang sendiri dan hanya ditemani hujan dan kembali memutas memoriku tentangnya, Alvin.

Lagi – lagi lamunanku terbuyarkan. Pandanganku tertuju saat dua orang remaja berseragam putih abu – abu turun dari motor dan keduanya meneduh di ruko depan rumahku. Aku mengenali mereka. Aku kenal sosok itu, sosok berkulit putih dan bermata sipit dengan motor Satria Ninja-nya.  Aku juga mengenal perempuan berambut agak pirang sebahu.

Hatiku kembali perih ketika Alvin –sosok- itu melepas jeketnya dan dan melindungi Sivia –perempuan itu- . Harusnya itu aku, harusnya. Dari kejauhan aku hanya bisa melihat mereka dengan sakit. Sakit rasanya ketika melihat orang yang kita sayang bahagia dengan oranglain.

Air mataku mengalir dengan sempurna di pipiku. Aku tak tahan, tak bisa menahan perihnya hati ini yang melihatnya bersama orang lain. Aku tau aku salah, aku yang dari awal salah.

Mereka terlihat tertawa bersama ketika Alvin mencubit pipi Sivia dan Sivia membalasnya dengan mencubit perut Alvin. Hatiku kembali perih… Dari kejauhan aku masih memperhatikannya, aku tetap tidak beranjak dari tempatku walaupun air mataku mengalir semakin deras.

Yatuhan….

Salahkah aku jika aku masih mengharapkannya kembali padaku? Salahkah jika aku masih mencintainya? Salahkah jika aku masih menyayanginya dan berharap dia berada disisi-ku lagi? Aku cemburu tapi…. Ah ya, aku sudah tidak punya hak, aku bukan siapa – sispa dia lagi….

***

Sore ini kembali hujan, sudah 2 jam aku berada di taman belakang sekolah sejak bel pulang sekolah. Taman yang menjadi saksi kandasnya hubunganku dengan Alvin. Taman yang menjadi saksi bisu bersatunya Aku dan Alvin 1 tahun yang lalu.

Dibawah derasnya hujan. Aku ber-nostalgia mengingat semua yang pernah terjadi. Membiarkan diriku terhanyut oleh masa lalu…

“Shill, ngapain lo disitu ujan – ujanan? Ayo kita pulang, biar gue anter” Gabriel memanggilku tapi aku tetap tidak menggubris panggilannya. Aku masih ingin disini.

Tiba – tiba Gabriel datang dengan mambawa payung dan menarik lenganku. Akupun pasrah dan ikut pergi bersama Gabriel. Aku bahkan hamper lupa kalau tubuhku ini tidak kuat dengan hawa dingin, apalagi hujan.

Bukannya pede, tapi aku tau sosok Gabriel dari dulu sangat menyayangiku tetapi aku terus – terusan menolaknya karena aku masih menunggu masa laluku.

Setelah aku sampai di mobil Gabriel aku hanya bisa diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gabriel melajukan mobilnya. 15 menit perjalanan tetap tidak ada percakapan sampai akhirnya mobil Gabriel berhenti di seberang rumahku.

“Shill..” Gabriel menahan pergelangan tanganku ketika aku hendak membuka pintu mobilnya.

“Kenapa?” sahutku

“Lo….masih sayang sama Alvin?”

Aku tersenyum miris, “Tanpa gue jawab, lo udah tau jawabannya kan, Gab?”
Gabriel menghela nafas. “Tapi sampe kapan lo berharap dia balik lagi sama lo, Shill?”

“Gue ngga tau, Cuma waktu yang bisa jawab semuanya. Lagipula susah buat ngelupain semua kenangan sama dia, Gab”

“Kapan lo mau coba buka hati buat orang lain? Sadar Shill, diluar sana banyak orang yang sayang sama lo. Banyak yang berharap bisa ada di sisi lo. Banyak yang bisa pengen bahagiain elo, Shill…. Termasuk gue”

Gabriel sudah berulang kali mengatakan hal yang hampir sama tapi entah kenapa hatiku tetap tidak luluh.

“Diluar sana juga banyak yang lebih baik dari gue Gab, kenapa lo masih tetep pengen bersama gue?”

Gabriel terdiam… tidak bisa berkata apa – apa lagi.

“Makasih ya Gab udah nganterin pulang. Lo hati – hati dijalan.” Ujarku. Sejurus kemudian aku membuka pintu mobil Gabriel dan langsung keluar.

***

Author’s Side

Saat Shilla hendak menyebrang menuju rumahnya tiba – tiba sebuah truk berdecit.
“SHILLAAAAA AWASSSS!!!!”

BRUUKKKK

Terlambat. Pertumpahan darah mewarnai jalanan sore itu diatas genangan air.
Gabriel langsung membawa Shilla ke rumah sakit dan langsung menelepon keluarga Shilla dan semua orang terdekat Shilla.

***

Setibanya di rumah sakit Shilla langsung dibawa ke ruang ICU dan langsung ditangani oleh sang dokter.

Berjam – jam kekhawatiran tampak pada diri Gabriel. Ia sangat takut, takut terjadi apa – apa pada diri Shilla.

“Gab, Shilla dimana?” ujar Ify spontan diikutin oleh Orang tua Shilla dan Alvin serta Sivia.

“Di ruang ICU, Fy lagi kritis. Tadi dikepalanya pendaharan hebat” jawab Gabriel
Selang beberapa waktu kemudian dokter keluar ruangan.

“Dok, gimana keadaan Shilla? Gimana keadaan sahabat saya?” ujar Ify

“Maaf sebelumnya, disini ada yang bernama Alvin?”

Semua langsung menoleh pada Alvin. Alvin yang merasa dirinya terpanggil langsung menghampiri dokter.”Iya dok, saya Alvin ada apa?”

“Selama operasi berjalan sedari tadi teman ada menyebut – nyebut nama anda, dan sekarang operasi sudah selesai, dia teteap memanggil nama Anda. Mungkin anda bisa melihatnya langsung ke dalam. Tapi hanya anda saja ya. Yang lain tetap tunggu diluar” ujar Dokter menjelaskan.

Alvin mengangguk. Ia membuka pintu ICU dan melangkahkan kakinya. Jantungnya bedegup kencang, ia merasa hal buruk sebentar lagi akan terjadi.
Alvin menggenggam tangan Shilla. Entah keajaiban darimana Shilla perlahan mengerjapkan matanya.

“Vin….” Gumamnya lirih

“Iya Shill, gue disini..” jawab Alvin

Shilla tersenyum. Wajahnya pucat, matanya sayu. “Lo kesini sama Sivia kan?” tanya Shilla

Alvin mengangguk “Emang kenapa?”

“Gapapa, gue Cuma mau ngomong sebentar dong sama lo sama Sivia juga Vin.. tolong panggil Sivia kesini”

Alvin langsung memanggil Sivia. Setelah Sivia berada di dalam ia juga ikut menggenggam tangan Shilla sama seperti yang Alvin lakukan.

“Kalian cocok, Alvin ganteng, Sivia cantik. Alvin sipit, Sivia juga” ujar Shilla lirih
Alvin dan Sivia tidak mengerti.

“Buat Alvin, jaga Sivia baik – baik ya Vin. Jangan tinggalin dia, selalu ada disamping dia ya. Sayangi dia dengan sepenuh hati lo vin..” Shilla menghela nafas. “Buat Sivia, jangan kecewain Alvin ya, dia sayang banget sama lo Vi.” Shilla kembali meneteskan air matanya.

“Gue sayang sama lo Vin, gue juga sayang sama Sivia… semoga kalian bahagia ya. Mulai sekarang, gue udah relain kalian kok. Gue udah berhenti berharap dan dan nggak nunggu lagi.”

“Maksutnya apa Shill?” ucap Sivia dan Alvin bersamaan.

Shilla hanya bisa tersenyum lalu mulai memejamkan matanya…
Tiiiitttt garis hijau dilayar berubah menjadu lurus.

***


Endingnyaaa berantakaaaannnn-_- kritik dan sarannya yah hehe masih belajar :-)

Sabtu, 09 November 2013

Circle of Love - Part 1

Part 1

“Ikatan Kovalen Koordinasi adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.” Ujar seorang guru Kimia menjelaskan di depan kelas.

Berjam-jam dengan pelajaran kimia memang bukan hal yang mengasyikan ditambah dengan perut yang belum sarapan pagi dari rumah. Membosankan bukan? Sama dengan hal yang dialami dengan gadis yang satu ini, Shilla.

Menulis diary mungkin salah satu hal yang lebih baik ia lakukan sekarang daripada harus mendengarkan celotehan guru didepan kelas tentang ikatan kovalenlah, atomlah, atau apapun itu yang membuat kepala Shilla pusing.

“Shilla! Coba gambarkan terbentuknya senyawa NH4!” bu Della dengan sigap langsung memberikan spidol di meja Shilla.

Aduh mampus gue, batin Shilla. Shilla melirik jam tangannya, bagus 5 menit lagi bel istirahat dan dia harus maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal laknat yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Kringggg….Kringggg…

Rupanya dewi fortuna sedang berpihak ke Shilla, tepat saat ia membuka tutup spidol bel istirahat berbunyi. “Shilla, silahkan kembali ke tempat duduk kamu” ucap bu Della

“Baik, anak-anak kita lanjutkan minggu depan. Terimakasih”

Semua murid bernafas lega saat guru kimia tersebut keluar kelas.

“Zevana, Dea, ke kantin yuk! Laper nih” ajak Shilla

“Yuk!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di kantin yang menjadi tempat paling sakral semua siswi saat jam istirahat.

“Shill, mau beli apa lo?” ujar Zevana saat mereka duduk di bangku kantin

“Gue nitip aja ya. Lagi males ngantri, hehe gue mau mie ayam sama es jeruk ya, Ze”

“Yehhh, yaudah deh. Dea, lo ikut gue yuk ngantri”

Sejurus kemudian Zevana dan Dea sudah berada di antrian. Shilla sibuk memainkan smarthpone miliknya ketika tiba2 dia merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Brukkk…

“Awww” rintih Shilla

“Eh sorry” ujar seseorang tersebut

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

“Halaaahhh minggir lo” ujar Shilla sambil mendorong orang tersebut

***

Hari ini benar – benar membuatnya kesal! Hari senin. Jam pertama pelajaran kimia, pelajaran yang memuakkan, ditambah dia harus pulang kerumah dan izin tidak mengikuti pelajaran lagi dikarenakan baju seragamnya yang kotor itu. Bingo senin! Kamu sudah membuatku sial, batin Shilla.

Shilla mendorong pintu rumah dengan malas. Dia tahu pasti papahnya sedang ada dirumah karena mobil papahnya terpakir dihalaman tadi.

“Loh?Shill?tumben jam 1 siang gini udah pulang?Itu baju kamu kenapa?” Zainal –Papah Shilla-  langsungnya menyerbunya dengan berbagai pertanyaan

“Apasih pah, gausah sok peduli sama aku deh! Urusin aja selingkuhan Papah sana!” bentak Shilla

“SHILLA! JAGA OMONGAN KAMU! DIA BUKAN SELINGKUHAN PAPAH, DIA REKAN KERJA!” ujar Papahnya dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Kalo papah mau aku jaga omongan aku, Papah juga harus jaga perasaan Mamah, gimana rasanya jadi Mamah! Puas?! Ohiya kalo rekan kerja, mana mungkin telfonan ngomongnya pake kata ‘sayang’ HAH?!” Shilla langsung lari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya.

Selalu begini, 3 bulan terakhir Shilla selalu adu mulut dengan Papahnya. Shilla benci papah! Dia jahat. Dia sudah meninggalkan Mamah dengan wanita lain! Shilla benci Papah!

Matanya tertuju pada sebuah bingkai, bingkai dimana didalam bingkat tersebut terdapat foto dirinya yang tertawa lebar sedang merayakan ulangtahun yang ke 10 disebelah kiri terdapat Papahnya yang memeluknya dan disebelah kanan nada Mamahnya yang mencium pipinya. Terlihat bahagia.

Shilla merindukan masa – masa itu, masa dimana dia dan keluarga kumpul dan tertawa. Tak terasa pertahanannya pecah. Shilla menangis. Shilla rindu. Rindu susasa hangat di keluarganya yang dulu pernah ia miliki.

***

Sivia masih berkutat didepan laptop-nya mengerjakan persentasi pelajaran IPS yang tak kunjung selesai. Tapi pikirannya tertuju pada kejaian tadi siang saat jam istirahat saat dia tidak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan kuah baksonya.

‘Gue jadi ngga enak’ batinnya. ‘Gua harus minta maaf ke dia, kayaknya dia marah banget tadi’ sambungnya.

***

06.15
Kringggg…. Shilla meraih handphone-nya lalu mematikan handphone-nya dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Kringgggg… namun suara itu masih tetap berbunyi. Suara apa itu? Shilla tetap tidak peduli, Shilla menutup kepalanya dengan bantal mickey mousenya. Kringgggg…. Shilla kesal. Dia terbangun dan tatapannya langsung tertuju pada jam wekeer di meja belajarnya.

Sial! Gue telat! Dengan cepat dia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. 15 menit kemudian Shilla sudah menggunakan seragam putih abu – abu nya dan merapikan penampilannya.

Dia menuruni anak tangga dan melirik sebentar kea rah meja makan yang hanya berisi Papahnya. Dia tau Mamahnya pasti masih di dalam kamar dengan keadaan menangis lagi. Meningat hal itu Shilla mengurungkan niatnya untuk sarapan terlebih dahulu. Dia langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja makan.

***

07.00
Shilla sudah berada didepan gerbang sekolahnya. Untungnya dia tidak terlambat. Saat ia hendak memasuki kelasnya langkahnya terhenti karena seseorang dari belakang menarik tangannya. Shilla menoleh.

“Shilla, tunggu!” ujar Sivia – orang tersebut.

Shilla berdecak kesal. “Mau apalagi sih? Mau numpahin kuah bakso lo di baju gue lagi?” sahut Shilla dengan nada menyindir.

Sivia mengernyit. “Enggak kok. Justru gue nyamperin lo karena mau minta maaf. Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya” ujar Sivia kekeuh.

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Sivia lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.

Lo pikir lo siapa? Enak aja minta maaf sama gue, batin Shilla

***

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” tubuh Sivia seketika menegang. Ternyata dia belum mau maafin gua, gumamnya. Sivia masih diam di tempat sementara Shilla sudah berlalu dari hadapannya. Gue harus minta maaf sampe dia mau maafin gue, batinnya.
Sivia kemudian kembali ke kelasnya.

***

Ini cerbung ancur bgt wkwkwk :D sorry for typo-_-


Jumat, 08 November 2013

Circle of Love - Prolog

Prolog...

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

***

“Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya”

“Gausah lebay! Pergi lo sana!”

***

“Lo udah ngerjain PR? Mau gue bantu nggak? Ya itung-itung sebagai tanda permintaan maaf gue ke elo” Gadis itu tetap bersikeras untuk meminta maaf atas kesalahannya.

“Gausah! Gue bisa sendiri! Udah deh mending lo pergi sana ngapain sih deket-deket gua, jijik tau ngga!”

***

“Lo kenapa? Kenapa muka lo seolah – olah sedih? Lo ada masalah?

Gadis itu tetap diam, tidak menggubris.

“Kalo ada masalah, cerita. siapa tau gue bisa bantu lo”

Gadis itu merasa masalah kali ini membuatnya frustasi, entah dorongan darimana dia merasa orang yang tepat untuk menceritakan semua masalahnya adalah orang yang disebelahnya kali ini.

“Jadi gini…….”

***

“Makasih ya, udah dengerin cerita dan keluh kesah semua masalah gue, makasih juga udah ngasih saran dan solusi”

“Anytime, selagi gue masih bisa bantu lo kenapa enggak?”

“Iya, ohiya lo jangan khawatir masalah yang lo numpahin kuah bakso di baju gue, itu udah gue maafin kok anggep aja itu angin lewat.  Boleh minta sesuatu ngga?”

“Apa?”

“Mulai sekarang kita temenan ya, kalo bisa sahabatan. Entah kenapa gue ngerasa lo adalah orang yang tepat untuk dijadiin sahabat. Lo mau kan sahabatan sama gue?”

“Dengan senang hati”

***

“Serius lo?!”

“Iya, aduh gimana gue ngga suka coba orang dia ganteng gitu alisnya tebel punya lesung pipi jago main futsal. Aduh tolong gue jatuh cinta sama dia”

***

Angin malam bertiup kencang.
Gadis itu merapatkan jaketnya, tapi tetap saja angin itu masih sangat terasa menerpa wajahnya. Serapat apapun dia mencoba merapatkan jaketnya tetap saja angin itu masih terasa. Sama halnya dengan serapat apapun dia menutupi rasa sakitnya, yang ada rasa sakit itu semakin bertambah.

Dia berjalan menyusuri taman kecil itu, tanpa peduli bahwa sekarang sudah lewat tengah malam, tanpa peduli ada orang lain yang mengkhawatirkannya, tanpa peduli bagaimana perasaannya sendiri. Ia hanya ingin bebas. Bebas dari semua rintangan yang ia lalui. Bebas dari rasa sakit yang ia alami.


***
Haaaiiii ini cerbung baru aku yeaa haha hayo kira2 siapa ya pemerannya? Haha sok misterius gt aku-_- Owkey tunggu kelanjutannya di part 1 yaaa;-)

Sabtu, 28 September 2013

Labil?Iya.

Hai udah lama ngga tjurhat haha ok kali ini gue mau curhat tentang perasaan gue yang super duper labil.

Gue gangerti sama perasaan gue sendiri gimana. Disaat gue udah bener-bener 'mau' move on atau ngilangin perasaan gue disaat itu juga gue pengen hubungan gue sama doi balik lagi kayak dulu. Ok gue perjelas, maksutnya 'kayak dulu' itu bisa sahabatan lagi, temenan lagi, becanda2 lagi memperbaik tali silaturahmi.

Nggak kayak gini diem-dieman gajelas gini. Perang dingin taugak, dikira enak apa?GAK SAMA SEKALI! Justru gue nyesek dalam keadaan kayak gitu. Nah sampe suatu ketika takdir yang ngatur ini semua, waktu yang menjawab gue sama doi bisa baikan lagi, Ok harapan gue udah terkabul.

Saat hubungan gue sama doi udah membaik gue seneng bukan main yaallah bisa saling tegur sama dia, saling bercanda2 lagi, ngobrol2 lagi, sumpah senengnya bukan main. Sebenernya gue pengen bisa lebih lama lagi buat ngerasain hal itu sam doi, tapi sayang PKL memisahkan kita. Asik apaansih wkwkwk. Nah saat itu juga perasaan gue sm doi udah 'mulai' bener2 ilang ya walaupun masih belum sepenuhnya. Karena jujur gue lebih nyaman sahabatan sama dia tanpa mendem perasaan apapun.

Ya, okelah seminggu hubungan gue sm doi masih membaik, dua minggu juga masih saling tegor, tiga minggu malah doi ngeledekin gue grgr duit gue ilang wkwkwk. Nah, minggu keempat nih tadi siang sumpah nggak saling negor lagi. Mukanya kalo ngeliat gue berubah jadi jutek lagi.

Ditambah hasil stalking gue di socmed, doi ternyata udah punya pacar. Entah kenapa gue nyesek dengernya. Sakit taugak. Tapi gue sadar gue harus ngelupain dia gimanapun caranya! Ditambah lagi kalo gue dari awal udah janji mau move on dan ngelupain doi tapi kenapa malah gini kenyataannya?!!?

Gatau kenapa kalo gue liat doi disekolah ngobrol sama cewe pikiran gue selalu ngomong 'itu pacarnya kaliya' selalu begitu padahal SALAH KAPRAH! wkwkwk setelah gue korek-korek informasi pacarnya itu adek kelas dan udah jadian semenjak 2 minggu yang lalu. Oajaya.

Sampe sekarang gue gangerti sm perasaan gue. Labil banget taugaksih. Dikit dikit bilang mau move on dikit dikit masih suka galau. LABIIIILLLLL!!!! LABIL EKONOMIIIII-_- Kontroversi hati gue kenapasiihh?HAHAHAHAHA gatau ah gue bingung.

Gatau lagi mau tjurhat sama siapa . Kalo sama temen sekolah pasti nggak lain dan nggak bukan jawabannya rata2 "Move On dis!" Yelahhh lo tau kan move on itu easy to say hard to do?!!! Ditambah lagi dia baru unfollow gue di twitter. Di remove di facebook?Udah. Unfollow di twitter?Udah. KENAPA NGGAK SEKALIAN AJA BLOCK GUE BIAR PUAASSS?!?!

Doi sendiri loh yang bilang "Woles aja dis gue ngeremove lo cuma di dumay kok nggak di dunia nyata" HEELLOOOO?!!? buktiin omongan lo kek! Kalo emang kita bisa temenan kenapa harus ngeremove dan unfollow gue?! Nggak gitu caranya khelesss kalo kayak gitu kesannya kayak ngejauh bgt.

Gue ngga tau persis apa alesan lo kaya gitu yang jelas gue punya satu alasan yaahh mngkn itu bukan alesan yang bener. Gue punya sala apa sama doi sih? Yaallah maafin deh gue udah berkali kali minta maafT_T dimaafin sih tp kenapa kayak gini?:(

Yaudahlahya itu aca tjurhatan gue yang intinya gue Labil sama perasaan gue sendiri Labil sama pikiran gue. Doa'a gue, Semoga Langgeng sama pacar barunya, jangan sakitin pacarnya, Lindungin dia, Jangan cuekin pacarnya, gue tau dia lbih lebih lebih dari gue dari segi apapun. Oke?:"")

Thankyou. Sorry kalo typo-_-

Selasa, 24 September 2013

This is My Story....

Ini hanyalah sebuah kisah klasik seorang remaja yang sedang megalami siklus percintaan. Dan juga liku-liku yang dilaluinya.

***

Hari ini cuaca di Jakarta terlihat normal. Tidak panas, tidak juga juga berawan. Aku kini tengah menikmati udara segar dipagi hari didepan kelasku, burung burung terbang sesuka hati seolah juga sedang menikmati cuaca pagi ini, matahari terlihat sudah mulai terbangun dari tidur malamnya, rumput rumput ditaman belakang bergoyang seolah sedang menari sambil menikmati cuaca pagi ini.

Shilla!” sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh, ternyata Gabriel sahabatku. Aku tersenyum
“Kenapa gab?” jawabku sambil memalingkan wajah
“Sendirian aja diluar. Ngga masuk kelas?”
“Hehe ngga apa apa kok lagi pengen nyari angin aja diluar”
“Oh yaudah, gue masuk ke kelas ya? Hati-hati nanti kesambet”
“Ih apaansih Gab, enggalah weee”
“Hahahahahahaha”

Entah mengapa dan entah sejak kapan jika aku berada didekatnya aku merasa sangat nyaman aku merasa sangat senang dengan Candaannya yang yah, mungkin menurut orang itu garing dan biasa saja. Tapi menurutku itu cukup menghibur. Dan entah sejak kapan pula aku mulai suka memperhatikannya, dari mulai tingkah lakunya, senyumnya, tawanya, matanya yang menyejukkan hati. Oh tuhan…. Inikah yang dinamakan Cinta? Mungkinkah aku jatuh cinta dengan sahabat sendiri? Bolehkah aku? Jika tidak, ku mohon hilangkan perasaan ini. Aku takut…sangat takut jika hal itu benar-benar terjadi ya Tuhan… Aku tidak ingin jatuh cinta dengan sahabatku sendiri. Aku takut hal buruk nanti terjadi jika aku jatuh cinta..

Lamunanku terbuyarkan oleh bel tanda masuk berbunyi. Aku memasuki ruang kelas dan sosok yang pertama aku lihat adalah Gabriel, Oh God…

***

Sepulang sekolah ketika yang aku sedang membereskan semua buku buku yang ada dimejaku. Gabriel datang menghampiriku. Aneh, degup jantungku berdegup kencang. Aku pernah membaca artikel tentang orang yang sedang jatuh cinta dan salah satu gejalanya yaitu degup jantung jadi berdegup kencang ketika bertemu dengan sosok yang ia cintai. Dan aku merasakan itu. Yatuhan… jika aku ditakdirkan olehmu untuk mencintainya,maka akan aku jalani.

Shill, mau kerja kelompok dimana nih?” tanya Gabriel
“Terserah lo aja Gab, tanya yang lain coba deh”  jawabku sambil mengambil pulpenku yang sempat jatuh tadi. Belum sempat aku mengambil pulpenku yang jatuh, pulpen tersebut sudah berada dimejaku lagi dengan tangan Gabriel yang menaruhnya.
“Thanks Gab” ucapku sambil tersenyum
“Santai. Eh gimana kalo tugasnya kelompoknya kita bagi-bagi aja Shill?”
“Maksudnya?”
“Yakan kita ada 4 materi nih, gue misalnya nyari materi Bab1, Elo Bab2, Ayu Bab3, Winda Bab4. Nanti gue sms-in materi materi apa aja yang harus lo cari besok kita sebelum pelajaran mulai kita bikin power point-nya dulu trus baru kita persentasi-kan bareng bareng. Gimana?”
“Oh yaudah, okedeh Gab”
“Gue duluan ya kalo gitu. Bye” ujar Gabriel lalu pergi meninggalkanku

***

Malam harinya, aku tengah berdiam diri dibalkon rumahku sambil sesekali tersenyum setiap kali mengingat tentang Gabriel. Senyumnya, matanya, suarana, tawanya, semua tentang dia. Kali ini aku sudah meyakinkan diri bahwa aku benar-benar jatuh cinta dengan dia, Gabriel sahabatku sendiri. Tanpa ada yang tahu. Hanya diriku sendiri.

Drrrt drrt

Ponselku bergetar tanda ada sebuah telepon masuk. Aku langsung mengambil ponselku, nama ‘Gabriel J’ tertera pada layar ponsel aku tersenyum lalu aku ingat bahwa Gabriel pasti akan memberi materi tentang tugas kelompok aku langsung menekan tombol warna hijau pada Blackberry-ku.

“Hallo, Gab?” sapaku
“Hai, Shill. Lagi ngapain?” sahut suara diseberang sana
“Ngga lagi ngapa-ngapain kok. Lagi duduk aja di balkon. Kenapa? Pasti mau ngasih materi kelompok ya, Gab?”
“Hehe iya nih. Lo cari materi tentang menggabungkan gambar 2D dalam sajian multimedia  sama menerapkan efek khusus pada objek produksi ya.”
“Oh oke deh segitu aja Gab?”
“Iya. Yaudah cari cepetan jangan tidur malem malem juga besok harus bangun pagi trus bikin power point disekolah ya.”
“Hahahaha perhatian banget sama gue. Oke deh bye”
Klik. Aku menutup sambungan telepon lalu tersenyum. Padahal sudah biasa Gabriel memperlakukanku seperti itu menyuruhku agar tida tidur malam-malam. Tapi kali ini rasanya berbeda, ada rasa senang dalam hatiku ketika Gabriel memperlakukanku seperti itu

***

 “Shilla” sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh, Sivia ternyata dia juga sahabatku.
Sedikit informasi Aku dan Adis ini termasuk couple dongo dalam kelas karena kita berdua jika sudah bertemu tingkah kita layaknya seperti cacing kelaperan. Aku cewek tertinggi dikelas sedangkah Sivia cewek ter-mini dikelas. Kami duduk sebangku
 “Eh gembel. Tumben udah dateng lu” sapanya
“Haha iyadong. Lo ngga liat gue lagi ngapain sama kelompok gue? Bikin power point Vi, buat pelajaran produktif jam 3-4 nanti. Lo ngapain dateng pagi-pagi?” jawabku
“Mau liat Gabriel si Sivia mah. Ye ngga Vi?” celetuk Ayu
“Apaansih Yu, fitness aja lo” bantah Sivia
“Halahh gausah sok iye. Jujur aja kali Vi. Gab, tuh dicariin Gab” samber Winda
Gabriel yang sedari tadi dibicarakan hanya diam dan berkutat dengan laptopnya karena sedang membuat persentasi kelompok kami.
Ada yang mengganjal dalam hatiku. Apa maksud dari Winda dan Ayu yang ngeledekin Sivia dengan Gabriel tadi? Benarkah Sivia juga menyukai Gabriel? Ah tidak! Tidak mungkin! Mungkin ada baiknya jika Aku bertanya langsung pada Sivia

***

“Baik. Sekian persentasi dari kelompok kami terimakasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum wr.rb” ujarku seraya menutup persentasi dari kelompokku

Teeettt… Teettt

 Bel istirahat berbunyi seluruh siswa/i dikelasku berhamburan keluar mungkin hanya beberapa siswi yang berdiam dikelas karena membaa termasuk Aku.

Viaaaa, gue mau nanya dong sama lo. Sini empat mata tapi kayak tukul” ujarku pada Sivia seraya menarik tangannya keluar kelas

“Apaan?” jawabnya saat sudah berada diluar kelas
“Jawab jujur ya tapi. Dikelas ada yang lo suka ngga?” tanyaku langsung to the point
“Emang kenapa? Tumbenan lo nanya kayak gitu Shill?” sahutnya penasaran
“Ngga papa. Cuma mau nanya aja. Udah jawab. Kalo ada, siapa orangnya?”
“Ada Shill, Gabriel orangnya. Kenapa?”
Jleb. Rasa sesak menghimpit dadaku. Bukan karena apa-apa. Aku sesak karena Aku dan Sivia, yang notabenya adalah sahabatku jatuh cinta pada orang yang sama. Oh god….
Aku tak dapat berkata apa apa lagi. Hanya bisa diam tanpa kata sambil menahan sesak dalam dadaku. Pandanganku lurus menerawang kedepan. Jika aku dan sahabatku mencintai orang yang sama, haruskah ada yang mengalah? Haruskah ada yang tersakiti? Haruskah aku lanjutkan perasaan ini? Haruskah aku jujur pada sahabatku juga?
Shill?”
“Eh.. iya kenapa”
“Lo nanya kayak gitu kenapa deh emang?” tanyanya
“Kita sama Via….” Ucapku lirih
“Hah? Maksut lo? Lo juga suka sama Gabriel?”
“Iya….”

***

“Jam kosong nih enaknya ngapain ya? Pada ngga bete apa lu? Main kek yuk main apa gitu” ujarku saat berkumpul dengan teman-temanku dikelas
“Iya nih gue bete. Eh gimana kalo kita main ToD aja?” sahut Fidhi
“ToD? Ayukk bolehhh” jawabku bersemangat
“”ToD itu apa gangerti” sahut Winda
“ToD itu permainan Truth or Dare. Jujur atau Tantangan, lo harus pilih salah satu. Kalo lo pilih Jujur berarti lo harus jawab jujur dengan sejujur-jujurnya pertanyaan dari kita. Tapi kalo lo pilih tantangan, lo harus berani ngelakuin tantangan dari kita apapun itu tantangannya. Ngerti?” ujarku panjang lebar
“Ohhh iya ngerti ngerti. Tapi ajak anak cowoknya juga dong biar seru masa anak ceweknya aja” jawab Winda
“Iyanihhh yaudah gue panggil anak cowonya dulu ya” ujar Oci
Selang beberapa waktu kita semua berkumpul di kelas dan membentuk formasi lingkaran. Kami bermain menggunakan botol. Jadi botol tersebut diputarkan lalu dimana botol itu akan berhenti berarti dia yang akan memilih Truth or Dare
Ternyata botol berhenti tepat didepan Ayu, akhirnya Ayu yang harus memilih Truth or Dare.
“Ayuuuuuu! Lo pilih apa? T apa D?” ujar Cakka
“Hmmm... D deh” jawab Ayu
“Asikkkk apaan yah tantangannya?” ujarku
“Hmmm joget ke semua kelas yang lagi free class Yu” sahut Winda
“Ahh jangan joget ah malu guaaaa” rengek Ayu
“Yaudah karena suara lo bagus mending lo nyanyi dangdut ke kelas yang ngga ada gurunya hahaaha” celetuk Sivia

Tanpa meminta persetujuan dari yang memilih D tersebut, kita udah menggiring Ayu ke kelas sebelah yang kebetulan lagi ngga ada guru. Akhirnya dengan sedikit menanggung malu, Ayu bernyanyi dedepan kelas tersebut. Semua bertepuk tangan dan tertawa
Permainan pun berlanjut, kali ini botol sepertinya sedang tidak berbaik hati kepada Gabriel. Botol tersebut berhenti tepat didepan Gabriel.

“Nah yel, sekarang nih lo kena. Lo milih apaan? T apa D?” tanya Deva
“Hmmm T deh” jawab Gabriel
“Pertanyaannya apaan ya?” sahut Alvin
“Nih. Dikelas siapa yang lo suka?Hahaaha mampus lo mumpung ada orangnya nih” ujar Rafli sambil melirik kearahku. Aku tak menegerti. Aku hanya diam.
Semua teman-temanku penasaran. Sambil melirikku. ‘Ohgod.... jangan jangan.... Eh engga engga gue gaboleh ke-pede-an’ ujarku dalam hati
“Buruaaan ih siapa elah udah pada tau ini bilang aja kali” ujar Ayu tak sabar
“Siapa sih? Ngga ada yang gue suka disini” jawabnya sambil menahan senyum dan wajahnya merah
“Tuh kan muka lu merah gitu. Keringetan. Udah tinggal ngomong namanya susah amat” sambung Ayu
Semua diam melihat Gabriel, Gabriel duduk dilantai sambil salah tingkah.
“Hmmm.. Shilla” ucapnya lalu langsung lari keluar kelas
“Ciyeeeeeee” sontak semua teman-temanku langsung meledeki-ku
“Ciyeeee Gadis seneng tuh perasaannya terbalaskan kiww” sorak Peri
“Apaansih” ujarku langsung melengos
Aku hanya diam. Bengong dengan tatapan kosong.

***

Hari demi hari aku lewati, hari demi hari pula perasaanku semakin dalam tanpa ada yang tahu kecuali diriku, Sivia, dan Tuhan pastinya. Sivia, rela mengalah demi diriku dia rela membuang jauh jauh perasaannya pada Gabriel karena aku dan karena dia tidak ingin persahabatannya denganku terputus karena cowok.

Hari demi hari pula Gabriel semakin perhatian padaku, seperti halnya menyuruhku agar tdak terlambat makan, tidur tidak terlalu malam, dan lain sebagainya. Hal-hal sederhana itu mungkin biasa baginya tapi tidak denganku. Hal se-sederhana itu sangat membuatku nyaman.

Kini semua teman temanku sudah mengetahui tentang perasaanku pada Gabriel, bahkan kaum cowok juga sudah mengetahui-nya. Entah darimana berita ini cepat sekali merambat. Entah bagaimana pula Gabriel. Aku tidak tau apakah dia mengetahui juga atau tidak?

“Gab, ngga istirahat?” sapaku pada Gabriel saat jam istirahat
“Eh nanti ah gue lagi nyatet dikit lagi selesai kok” jawabnya
“Yaudah, gue duluan ya. Eh mau nitip makanan ngga? Apa kek gitu ntar lo telat makan terus sakit gimana?” sahutku dengan nada penuh ke-khawatiran
“Haha udah biasa kali, Shill. Udah nanti aja gampang istirahat kedua juga bisa kok”
“Ya seenggaknya isi dulu itu perut lo” ujarku ngeyel
“Engga ah. Udah sana duluan aja” ujarnya
Aku pun pergi keluar kelas. Yatuhan… tidak bisa-kah dia melihat ke-khawatiran dari sorot mataku?

***

Hari ini terasa begitu melelahkan. Mungkin karena pelajaran olahraga yang materinya cukup menggunakan fisik. Ditambah lagi olahraganya 4jam pelajaran dan itu pada jam terakhir.

“Baik anak-anak. Cukup disini materi kita. Kalian boleh langsung ganti pakaian lalu pulang” ujar guru Olahraga
“Yeeee pulaaanggg!!” sorak Anggi kegirangan
“Yee alay lu Sapri!” celotehku

Aku langsung masuk ke kelas. Niatnya sih mau ganti baju tapi rasa males sepertinya sedang menggeluti tubuhku. Akhirnya aku hanya duduk istirahat dikelas sambil meminum air putih yang ada dibotol minumanku.

Aku memperhatikan sosok Gabriel sedang berbicara serius sepertinya dengan Alvin. Ekspresi kekecewaan tampak diwajahnya. Sesekali ia menghela nafas. Aku tak menegerti betul apa yang Gabriel dan Alvin bicarakan yang jelas mereka tampak serius
Sejurus kemudian Gabriel beranjak pergi dan menyambar tasnya yang berada diatas meja kemudian menepuk pundak Alvin sambil tersenyum. Bukan, bukan tersenyum sepertinya. Itu hanyalah sebuah senyum pahit yang berusaha ia keluarkan. Aku tahu betul bagaimana sosok Gabriel jika tersenyum. Dan itu tadi, bukanlah senyum Gabriel yang aku kenal.
Sebuah perasaan aneh menyelimuti diriku. Aku tak tahu apa itu yang jelas semenjak aku melihat perbincangan Gabriel dan Alvin yang terkesan serius didalam kelas tadi membuat perasaanku tidak karuan. Firasatku berkata akan terjadi sesuatu yang buruk terjadi
‘Yatuhan… hilangkan pikiran negative ini dari otakku’ batinku

***

Malam harinya, perasaan tidak enak itu kembali menyelimutiku. Karena aku tidak suka dibikin penasaran, akhirnya aku memutuskan untk menelepon Gabriel.
Tapi hasilnya nihil! Aku menelepon Gabriel tidak diangkat, sudah berkali-kali aku coba telepon hasilnya tetap sama. Akhirnya aku coba untuk mengirim sebuah pesan.

To: Gabriel J
Gab, angkat telepon gue! Penting gue mau nanya sesuatu sama lo.

Sudah 2 jam aku menunggu balasan dari Gabriel tetapi tidak ada satupun balasan. Aku berusaha mengirim lagi sebuah pesan untuknya

To: Gabriel J
Gab, gue mau nanya tadi lo disekolah ngomongin apa sama Alvin?Kok serius banget keliatannya. Ekspresi wajah lo juga kusut gitu?Kenapa? Jawab Gab plis L
Mungkin dengan menambahkan emoticon “L” dibelakangnya Gabriel akan membalas pesanku. Ternyata benar. Tak lama kemudian handphone-ku bergetar tanda pesan aku. Seujurus kemudian aku langsung mengambil dan membuka pesan tersebut

From: Gabriel J
Gausah kepo!

Baru saja Aku tersenyum karena pesan singkat dari Gabriel tapi senyum dibibirku kembali  menyusut karena balasan pesan Gabriel yang membuatku badmood . Aku memutuskan untuk mematikan handphone-ku lalu terlelap tidur.

***

Semakin hari Gabriel semakin menjauh dariku. Aku tak mengerti betul mengapa alasan dia menjauh dariku. Yang jelas semenjak perbincangannya dengan Alvin itu dia mulai berubah. Aku merasa hal buruk itu benar-benar terjadi. Tapi aku juga tak tahu apa hal buruk itu..

“Gab, minjem pulpen dong” sebenarnya aku juga malas karena pasti aku didiamkan.
Tanpa sedikit pun kata yang terlontar dari mulutnya, dia langsung memberiku sebuah pulpen dengan tatapan wajah yang acuh tak acuh.

Seperti halnya juga saat aku sedang butuh teman untuk cerita dan berbagi. Biasanya selalu ada Gabriel yang menemaniku. Tapi kini sosok itu menjauh dariku. Awalnya aku berfikir mungkin dia menjauh karena dia sudah tau tentang perasaanku dan dia tak mau Aku terlalu berharap padanya.

Tapi dugaan itu salah. Ketika aku memutuskan untuk menemuinya langsung saat pulang sekolah di taman belakang.

“Gab! Ikut gue sekarang ke taman belakang!”  ujarku dan langsung menarik tangan Gabriel
Sesampainya ditaman belakang. Hening. Tidak ada yang berani memulai duluan.
“Cepetan! Mau ngomong apaan lo?” ujarnya membuka pembicaraan dengan nada seolah membentak dan ekspresi wajah acuh tak acuh
“Yaudah sihya biasa aja kali”
“Gausah sok misterius gitu deh, udah cepetan!”
Aku menghela nafas panjang
“Oke, gue mau nanya sama lo kenapa belakangan ini lo berubah?”
“Berubah gimana sih Shill?”
“Gausah pura-pura bego dan sok ngga tau! Lo ga sadar lo itu berubah Gab, berubah! Lo ga sadar kalo persahabatan diantara kita ini mulai renggang. Lo ga sadar kalo belakangan ini lo jutek banget sama gue Gab? Lo ga sadar kalo….. kalo gue sayang sama lo…” emosiku memuncak. Tangisku pecah. Suaraku terdengar lirih saat bagian terakhir ucapanku
Gabriel tersentak. Lalu menoleh padaku
“Gue berubah karena sahabat” jawabnya yang juga terdengar lirih
“Maksut lo?”
“Ya… gue berubah karena sahabat. Lo cerna sendiri kata kata gue, Shill
“Gab, plis gue lagi ngga mau mikir. Udah cepet ngomong langsung aja gausah muter-muter”
“Apa lo tau kalo selama ini ada yang sayang sama lo Shill?”
“Siapa Gab?” dari lubuk hati yang paling dalam aku berharap orang itu adalah Gabriel
“Alvin, Shill. Ternyata dia udah lama sayang sama lo sebelum gue suka sama lo. Intinya gue sama Alvin suka sama orang yang sama dan gue yang ngalah. Walaupun itu berat, berat banget buat gue. Gue juga tau kok berita tentang lo sama Sivia yang suka sama gue, iya kan? Dan akhirnya salah satu dari kalian ada yang ngalah kan? Sivia ngalah. Begitu juga dengan Gue dan Alvin yang senasib sama kalian. Ngerti?” ujar Gabriel panjang lebar yang mala membuat tangisku semakin pecah
“Percuma Gab! lo tau kan kalo gue sayangnya sama lo bukan sama Alvin?”
“I know Shill. But I’m sorry I already have a new girlfriend” sahutnya menerawang
“Hah?”

Gabriel langsung pergi meninggalkanku yang diam ditempat. Baru beberapa langkah dia berjalan dia kembali berbalik badan

“Ohiya.. soal yang main ToD itu sebenernya gue ngga bener-bener suka sama lo Shill
Astagaaa… aku tak lagi mampu berkata-kata. Hanya rasa sakit yang menyelimutiku saat ini.
“Gab,” panggilku saat Gabriel belum jauh berjalan. Gabriel berhenti kemudian menengok kearahku
“Ok, I’ll stop to loving u” ujarku lirih sambil menitikkan air mata tentunya. Gabriel tersenyum pahit lalu berbalik badan dan kembali berjalan

***

Berhari-hari bahkan berminggu-minggu pasca kejadian Aku dan Gabriel debat ditaman belakang. Perlahan aku mulai bisa melupakan Gabriel. Aku mencoba mengikhlaskan dia. Jika dia bisa bahagia dengan yang lain, kenapa aku tidak?

Hari ini adalah acara pensi disekolah atu biasa disebut Pentas Seni. Pensi disekolahku ini diisi oleh beberapa kegiatan diantaranya drama dari setiap kelas, tarian daerah, paduan suara, dan beberapa dance modern.

Kini saatnya bagian Shuffle Dance untuk tampil. Semua bertepuk tangan meriah. Termasuk aku. Aku sebenarnya tak terlalu suka untuk dance shuffle seperti ini. Tapi ada sesuatu yang seolah-olah mengajakku untuk terus menyaksikan shuffle dance ini hingga selesai.

Sosok itu, dia ganteng, manis, putih, tinggi, mempunya lesung pipi, cool terlihat sangat menarik dimataku. Entah sejak menit keberapa aku mulai mengaguminya. Ternyata benar kata orang, untuk jatuh cinta hanya butuh 1 detik sedangkan untuk melupakan seseorang butuh waktu seumur hidup.

‘Siapa ya namanya? Manis ih hihi’ gumamku

***

Selang beberapa hari setelah acara pensi tersebut, aku masih mengaguminya. Tapi kini aku sudah tau siapa namanya, Rio. Setelah waktu itu Sivia member tahuku.

Shill, si Rio ganteng bgt ya pas Shuffle kemaren” ujar Winda
“Haha engga ah biasa aja” jawabku, padahal sesungguhnya aku setuju dengan kata kata Winda. Hanya saja aku menyembunyikan semuanya
“Lo suka Win sama Rio?” Tanya Ify
“Hmm… bias jadi bisa jadi” jawab Winda

Ups. Untuk kali keduanya aku jatuh cinta dengan orang yang sama dengan sahabatku. Yatuhan…. Tapi kali ini aku hanya bisa menyembunyikannya sendiri.

Win, dia kan banyak yang suka tau di sekolah. Secara dia ganteng gitu.” Ujar Sivia dengan nada yang dilebih-lebihkan pada kata ‘dia ganteng gitu’
“Iya juga sih. Disini yang suka sama Rio lagi selain gue siapa?” Tanya Winda
“G…” ups hamper saja aku mengucapkan kalau aku juga suka. Tapi tidak.
“Kenapa Shill?” Tanya Ayu
“Engga. Gue ke kamar mandi dulu ya” jawabku lalu aku langsung pergi kekamar mandi.
Ketika aku sedang berjalan menunduk kea rah kamar mandi seseorang menabrakku.
Brukkk
“Eh sorry sorry ngga sengaja” ucapnya
‘Tunggu. Dia…. Dia kan Rio. Ohmygod seorang Rio yang notabenya most wanted di sekolah nabrak gue secara ngga sengaja dan bilang sorry gitu haha’ batinku
“eh lo gapapa kan?” ujarnya
“Engga kok”

***

Malam harinya sosok Rio kembali membayangiku. Kali ini aku kembali jatuh cinta (lagi) dengan orang yang sama dengan sahabatku (lagi). Aku teringat kata-kata Sivia tadi siang ‘dia kan banyak yang suka disekolah. Secara dia ganteng gitu’

Berarti otomatis sainganku selain sahabatku sendiri, Winda yaitu juga anak anak sekolahanku. Tiba-tiba handphone-ku bergetar tanda sebuah pesan masuk

From: Winda
Shillaaaaaaaa gue seneng banget gue lagi sms-an sama Riooooo!!;***

Aku tersenyum kecut. Harus menahan cemburu.

To: Peri
Ohya? Ciyeeee hahaha :D

***

Aku hanyalah sebagian kecil bahkan mungkin hanya sebuah titik yang tak terlihat dari puluhan huruf yang tertulis di sebuah kertas. Aku hanyalah seorang dari puluhan pengagum rahasia yang mengagumi Rio.

Dikenal dengan Rio saja sudah membuatku senang. Aku dan Rio memang sudah saling kenal tapi di dunia maya di jejaring social Facebook. Aku sering bahkan pernah chattingan dengannya hingga larut malam.

Stalking itu hal yang paling asyik yang aku lakukan. Dari mulai foto-fotonya, status facebook, tweet twitter, ava twitter, dia mentionan dengan siapa saja, dia wall-wall-an dengan siapa aja. Itu yang menjadi rutinitasku selama menjadi secret admirer-nya Rio
Awalnya hubunganku dengannya baik baik saja. Hingga entah apa yang membuat Rio menghindar dariku. Aku sudah cukup bodoh jika memendam perasaan hanya sebatas secret admirer. Tapi akan lebih bodoh lagi jika aku terus terang mengungkapkannya.

Aku masih ingat betul bagaimana dia menasihatiku lewat pesan. Padahal yang sedang aku ceritakan itu dirinya. Entah ini dia ngga peka apa gimana.

To: Rio J
Rio, gue mau cerita nih

From: Rio J
Cerita aja dis

To: Rio J
Jadi gue lagi suka sama orang nih yo ceritanya. Tapi gue cuma jadi pengagum rahasianya aja gitu. Soalnya dia itu most wanted disekolah. Banyak yang suka yo. Menurut lo gimana?Perasaan gue salah ngga?

From: Rio J
Ya perasaan sih ngga salah dis, kalo menurut lo itu perasaan lo pantes ya jangan takut diperjuangkan dis. Jangan ngerasa kalo lo cewek lo ngga pantes dis. Semangat yaa J

Yap. Itulah sepenggal percakapan aku dan Rio yang mungkin tinggal kenangan. Hm aku juga ingat saat pertama kali bertatap langsung dengannya saat itu dimana dia sedang ada praktek laundry dan dia masuk ke kelasku untuk menawari. Aku memang sudah tau kalau hari ini itu jadwalnya dia yang praktek makanya aku sengaja dari rumah bawa mukena untuk di laundry.

Saat dia masuk ke kelas aku dan Winda hanya senyam senyum sedangkan temen teman dikelasku hanya geleng geleng kepala melihat tingkah aku dan Wind.
Tapi lama-kelamaan aku sadar. Aku tak pantas jika terus menerus menjadi secret admirer Rio. Sedangkan Rio sendiri sudah punya pacar. Lama kelamaan perasaanku pada Rio mulai hilang.

***

Hubunganku dengan Gabriel masih belum membaik semenjak kejadian itu. Aku hanya ingin persahabatanku dengan Gabriel membaik seperti dahulu. Saat tidak ada perasaan apapun diantara kita.

Aku hanya ingin seperti dahulu lagi denganya tapi rasanya sulit sekali. Untuk sekedar mengobrol saja jarang bahkan tidak pernah.

***

Shill, gue mau ngomong sama lo” ucap seseorang dibelakangku, Gabriel ternyata
“Apa Gab?” jawabku
“Gue mau minta maaf atas semua kesalahan gue sama lo. Termasuk perasaan ini. Termasuk perasaan ini gue tau perasaan gue ke elo yang dulu pernah ada bikin persahabatan kita jadi gini, Shill
“Engga Gab, ngga ada yang perlu disalahin kok. Lo udah gue maafin dari dulu. Yaudah mulai sekarang kita sahabatan lagi ya Gab”
“Iya Shill” ucap Gabriel sambil tersenyum dan kita saling menautkan jari kelingking tanda persahabatan. 

****

Kringggg!!!!

Alaramku ternyata bunyi. Hah?ternyata semalam itu hanya… mimpi? Yatuhannnn segitu tekad-nya kah keinginanku untuk bersahabat kembali dengan Gabriel? Aku menghela nafas.Aku beranjak dari tempat tidurku lalu membuka handphone-ku. Aku kaget karena ada sebuah alarm berbunyi dan ketika aku lihat ada sebuah tulisan ‘Gabriel’s 16th J!!’ Aku baru inat bahwa hari ini adalah hari ulangtahunnya.

Awalnya aku bingung antara mau mengucapkan happy birthday atau tidak. Bagaikan makan buah simalakama. Jika aku mengucapkan, pasti dia mengira aku masih berharap padanya padahal engga. Jika aku tidak mengucapkannya ada rasa tidak enak dihatiku.
Entah dorongan darimana munculnya aku mengetikkan sebuah pesan singkat padanya

To: Gabriel J
Ulangtahun ya? Ciyee Happy birthday ya semoga semua keinginan lo terkabul pokoknya wishes dari gue yang baik baik deh termasuk bisa taken sama adek kelas haha PU bisa khelesss~

Biarin ngga dibales juga yang penting gue udah ngucapin ikhlas. Selang beberapa menit handphone-ku bergetar tanda pesan masuk. Nama ‘Gabriel J’ tertera pada layar monitorku

From: Gabriel J
Hahaha, amin yaallah. Makasih ya Shill J

Aku tersenyum membaca pesan tersebut, kemudian aku mengingat  beberapa hari yang lalu ketika aku membuka akun jejaring sosialku, facebook biasanya pada chat list selalu muncul nama Gabriel Stevent tetapi aneh, ini tidak ada sama sekali.

Kemudian aku mengetik namanya pada kotak Pencarian, firasatku tidak enak dan betul saja ketika muncul profil Gabriel langsung ada tulisan ‘Tambahkan Sebagai Teman’ aku tersentak kaget. Sesak sekali rasanya.

Itu berarti tandanya, dia menghapus pertemananya denganku di Facebook. Yatuhan sedalam itukah Gabriel ingin benar-benar menjauh dariku?

Aku berencana menanyakan langsung padanya, tapi berhubung nyali-ku yang segede tempe ini akhirnya aku menanyakan melalui pesan. Aku membalas pesan Gabriel

To : Gabriel J
Urwelcome, gab J btw lo nge-remove gue yang di fb?

From : Gabriel J
Hah?hmm iya tapi tenang aja itu Cuma di dumay aja kok Shill kita ngga temenan di dunia nyata kan kita temenan..

Aku kembali kaget, jadi selama ini Gabriel masih menganggapnya sebagi teman?

To: Alasan lo nge-remove gue apa? Jadi kalo di dunia nyata kita temenan nih ya?Yakin? Ngga diem-diem lagi?

From: Gabriel J
Ada deh, ada alasan sesuatu kenapa gue nge-remove elo Shill. Haha iya tenang aja makanya kalo ketemu negor dong..

***

Saat ini aku dan Gabriel tengah mengerjakan tugas kelompok lagi, tidak ada rasa canggung lagi diantara kami berdua, tidak ada sebuah perasaan yang muncul dihati kami berdua lagi, semua berjalan dan kembali seperti biasa. Aku dan Gabriel kembali bersahabat.

Sekarang, aku tidak memperdulikan apa dan kenapa alasan dia menghapus pertemanannya denganku di jejaring sosial yang jelas sekarang aku sudah cukup bahagia karena semua harapanku selama ini terkabul dengan seiring berjalannya waktu.

Hal yang harus aku ketahui, bahwa Persahabatan lebih penting dari apapun, Persahabatan dapat terjadi karena suatu hal kecil, Persahabatan juga dapat pecah karena suatu hal kecil, Cinta misalnya.

***


The End.