Ini hanyalah sebuah kisah klasik seorang remaja
yang sedang megalami siklus percintaan. Dan juga liku-liku yang dilaluinya.
***
Hari
ini cuaca di Jakarta terlihat normal. Tidak panas, tidak juga juga berawan. Aku
kini tengah menikmati udara segar dipagi hari didepan kelasku, burung burung
terbang sesuka hati seolah juga sedang menikmati cuaca pagi ini, matahari
terlihat sudah mulai terbangun dari tidur malamnya, rumput rumput ditaman
belakang bergoyang seolah sedang menari sambil menikmati cuaca pagi ini.
“Shilla!” sapa seseorang
dibelakangku. Aku menoleh, ternyata Gabriel sahabatku. Aku tersenyum
“Kenapa
gab?” jawabku sambil memalingkan wajah
“Sendirian
aja diluar. Ngga masuk kelas?”
“Hehe
ngga apa apa kok lagi pengen nyari angin aja diluar”
“Oh
yaudah, gue masuk ke kelas ya? Hati-hati nanti kesambet”
“Ih
apaansih Gab, enggalah weee”
“Hahahahahahaha”
Entah
mengapa dan entah sejak kapan jika aku berada didekatnya aku merasa sangat
nyaman aku merasa sangat senang dengan Candaannya yang yah, mungkin menurut
orang itu garing dan biasa saja. Tapi menurutku itu cukup menghibur. Dan entah
sejak kapan pula aku mulai suka memperhatikannya, dari mulai tingkah lakunya,
senyumnya, tawanya, matanya yang menyejukkan hati. Oh tuhan…. Inikah yang
dinamakan Cinta? Mungkinkah aku jatuh cinta dengan sahabat sendiri? Bolehkah
aku? Jika tidak, ku mohon hilangkan perasaan ini. Aku takut…sangat takut jika
hal itu benar-benar terjadi ya Tuhan… Aku tidak ingin jatuh cinta dengan
sahabatku sendiri. Aku takut hal buruk nanti terjadi jika aku jatuh cinta..
Lamunanku
terbuyarkan oleh bel tanda masuk berbunyi. Aku memasuki ruang kelas dan sosok
yang pertama aku lihat adalah Gabriel, Oh God…
***
Sepulang
sekolah ketika yang aku sedang membereskan semua buku buku yang ada dimejaku.
Gabriel datang menghampiriku. Aneh, degup jantungku berdegup kencang. Aku
pernah membaca artikel tentang orang yang sedang jatuh cinta dan salah satu
gejalanya yaitu degup jantung jadi berdegup kencang ketika bertemu dengan sosok
yang ia cintai. Dan aku merasakan itu. Yatuhan… jika aku ditakdirkan olehmu
untuk mencintainya,maka akan aku jalani.
“Shill, mau kerja kelompok
dimana nih?” tanya Gabriel
“Terserah
lo aja Gab, tanya yang lain coba deh” jawabku sambil mengambil pulpenku yang sempat
jatuh tadi. Belum sempat aku mengambil pulpenku yang jatuh, pulpen tersebut
sudah berada dimejaku lagi dengan tangan Gabriel yang menaruhnya.
“Thanks
Gab” ucapku sambil tersenyum
“Santai.
Eh gimana kalo tugasnya kelompoknya kita bagi-bagi aja Shill?”
“Maksudnya?”
“Yakan
kita ada 4 materi nih, gue misalnya nyari materi Bab1, Elo Bab2, Ayu Bab3, Winda Bab4. Nanti gue sms-in
materi materi apa aja yang harus lo cari besok kita sebelum pelajaran mulai
kita bikin power point-nya dulu trus baru kita persentasi-kan bareng bareng.
Gimana?”
“Oh
yaudah, okedeh Gab”
“Gue
duluan ya kalo gitu. Bye” ujar Gabriel lalu pergi meninggalkanku
***
Malam
harinya, aku tengah berdiam diri dibalkon rumahku sambil sesekali tersenyum
setiap kali mengingat tentang Gabriel. Senyumnya, matanya, suarana, tawanya,
semua tentang dia. Kali ini aku sudah meyakinkan diri bahwa aku benar-benar
jatuh cinta dengan dia, Gabriel sahabatku sendiri. Tanpa ada yang tahu. Hanya
diriku sendiri.
Drrrt drrt
Ponselku
bergetar tanda ada sebuah telepon masuk. Aku langsung mengambil ponselku, nama
‘Gabriel J’ tertera pada layar ponsel aku
tersenyum lalu aku ingat bahwa Gabriel pasti akan memberi materi tentang tugas
kelompok aku langsung menekan tombol warna hijau pada Blackberry-ku.
“Hallo,
Gab?” sapaku
“Hai,
Shill. Lagi ngapain?” sahut
suara diseberang sana
“Ngga
lagi ngapa-ngapain kok. Lagi duduk aja di balkon. Kenapa? Pasti mau ngasih
materi kelompok ya, Gab?”
“Hehe
iya nih. Lo cari materi tentang menggabungkan gambar 2D dalam sajian
multimedia sama menerapkan efek khusus
pada objek produksi ya.”
“Oh
oke deh segitu aja Gab?”
“Iya.
Yaudah cari cepetan jangan tidur malem malem juga besok harus bangun pagi trus
bikin power point disekolah ya.”
“Hahahaha
perhatian banget sama gue. Oke deh bye”
Klik.
Aku menutup sambungan telepon lalu tersenyum. Padahal sudah biasa Gabriel
memperlakukanku seperti itu menyuruhku agar tida tidur malam-malam. Tapi kali
ini rasanya berbeda, ada rasa senang dalam hatiku ketika Gabriel
memperlakukanku seperti itu
***
“Shilla”
sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh, Sivia
ternyata dia juga sahabatku.
Sedikit
informasi Aku dan Adis ini termasuk couple dongo dalam kelas karena kita berdua
jika sudah bertemu tingkah kita layaknya seperti cacing kelaperan. Aku cewek tertinggi
dikelas sedangkah Sivia
cewek ter-mini dikelas. Kami duduk sebangku
“Eh gembel. Tumben udah dateng
lu” sapanya
“Haha
iyadong. Lo ngga liat gue lagi ngapain sama kelompok gue? Bikin power point Vi, buat pelajaran produktif
jam 3-4 nanti. Lo ngapain dateng
pagi-pagi?” jawabku
“Mau
liat Gabriel si Sivia
mah. Ye ngga Vi?”
celetuk Ayu
“Apaansih
Yu, fitness aja lo” bantah Sivia
“Halahh
gausah sok iye. Jujur aja kali Vi.
Gab, tuh dicariin Gab”
samber Winda
Gabriel
yang sedari tadi dibicarakan hanya diam dan berkutat dengan laptopnya karena
sedang membuat persentasi kelompok kami.
Ada
yang mengganjal dalam hatiku. Apa maksud dari Winda dan Ayu yang ngeledekin Sivia dengan Gabriel tadi?
Benarkah Sivia
juga menyukai Gabriel? Ah tidak! Tidak mungkin! Mungkin ada baiknya jika Aku
bertanya langsung pada Sivia
***
“Baik.
Sekian persentasi dari kelompok kami terimakasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum wr.rb” ujarku seraya menutup persentasi dari kelompokku
Teeettt…
Teettt
Bel istirahat berbunyi seluruh siswa/i
dikelasku berhamburan keluar mungkin hanya beberapa siswi yang berdiam dikelas
karena membaa termasuk Aku.
“Viaaaa, gue mau nanya dong sama
lo. Sini empat mata tapi kayak tukul” ujarku pada Sivia seraya menarik tangannya
keluar kelas
“Apaan?”
jawabnya saat sudah berada diluar kelas
“Jawab
jujur ya tapi. Dikelas ada yang lo suka ngga?” tanyaku langsung to the point
“Emang
kenapa? Tumbenan lo nanya kayak gitu Shill?”
sahutnya penasaran
“Ngga
papa. Cuma mau nanya aja. Udah jawab. Kalo ada, siapa orangnya?”
“Ada
Shill, Gabriel orangnya.
Kenapa?”
Jleb.
Rasa sesak menghimpit dadaku. Bukan karena apa-apa. Aku sesak karena Aku dan Sivia, yang notabenya adalah
sahabatku
jatuh cinta pada orang yang sama. Oh god….
Aku
tak dapat berkata apa apa lagi. Hanya bisa
diam tanpa kata sambil menahan sesak dalam dadaku. Pandanganku lurus menerawang
kedepan. Jika aku dan sahabatku mencintai orang yang sama, haruskah ada yang
mengalah? Haruskah ada yang tersakiti? Haruskah aku lanjutkan perasaan ini?
Haruskah aku jujur pada sahabatku juga?
“Shill?”
“Eh..
iya kenapa”
“Lo
nanya kayak gitu kenapa deh emang?” tanyanya
“Kita
sama Via….”
Ucapku lirih
“Hah?
Maksut lo? Lo juga suka sama Gabriel?”
“Iya….”
***
“Jam kosong nih enaknya ngapain ya? Pada ngga bete apa lu? Main kek yuk
main apa gitu” ujarku saat berkumpul dengan teman-temanku dikelas
“Iya nih gue bete. Eh gimana kalo kita main ToD aja?” sahut Fidhi
“ToD? Ayukk bolehhh” jawabku bersemangat
“”ToD itu apa gangerti” sahut Winda
“ToD itu permainan Truth or Dare. Jujur atau Tantangan, lo harus pilih
salah satu. Kalo lo pilih Jujur berarti lo harus jawab jujur dengan
sejujur-jujurnya pertanyaan dari kita. Tapi kalo lo pilih tantangan, lo harus
berani ngelakuin tantangan dari kita apapun itu tantangannya. Ngerti?” ujarku
panjang lebar
“Ohhh iya ngerti ngerti. Tapi ajak anak cowoknya juga dong biar seru masa
anak ceweknya aja” jawab Winda
“Iyanihhh yaudah gue panggil anak cowonya dulu ya” ujar Oci
Selang beberapa waktu kita semua berkumpul di kelas dan membentuk formasi
lingkaran. Kami bermain menggunakan botol. Jadi botol tersebut diputarkan lalu
dimana botol itu akan berhenti berarti dia yang akan memilih Truth or Dare
Ternyata botol berhenti tepat didepan Ayu, akhirnya Ayu yang harus memilih
Truth or Dare.
“Ayuuuuuu! Lo pilih apa? T apa D?” ujar Cakka
“Hmmm... D deh” jawab Ayu
“Asikkkk apaan yah tantangannya?” ujarku
“Hmmm joget ke semua kelas yang lagi free class Yu” sahut Winda
“Ahh jangan joget ah malu guaaaa” rengek Ayu
“Yaudah karena suara lo bagus mending lo nyanyi dangdut ke kelas yang ngga
ada gurunya hahaaha” celetuk Sivia
Tanpa meminta persetujuan dari yang memilih D tersebut, kita udah
menggiring Ayu ke kelas sebelah yang kebetulan lagi ngga ada guru. Akhirnya dengan
sedikit menanggung malu, Ayu bernyanyi dedepan kelas tersebut. Semua bertepuk
tangan dan tertawa
Permainan pun berlanjut, kali ini botol sepertinya sedang tidak berbaik
hati kepada Gabriel. Botol tersebut berhenti tepat didepan Gabriel.
“Nah yel, sekarang nih lo kena. Lo milih apaan? T apa D?” tanya Deva
“Hmmm T deh” jawab Gabriel
“Pertanyaannya apaan ya?” sahut Alvin
“Nih. Dikelas siapa yang lo suka?Hahaaha mampus lo mumpung ada orangnya
nih” ujar Rafli sambil melirik kearahku. Aku tak menegerti. Aku hanya diam.
Semua teman-temanku penasaran. Sambil melirikku. ‘Ohgod.... jangan
jangan.... Eh engga engga gue gaboleh ke-pede-an’ ujarku dalam hati
“Buruaaan ih siapa elah udah pada tau ini bilang aja kali” ujar Ayu tak
sabar
“Siapa sih? Ngga ada yang gue suka disini” jawabnya sambil menahan senyum
dan wajahnya merah
“Tuh kan muka lu merah gitu. Keringetan. Udah tinggal ngomong namanya susah
amat” sambung Ayu
Semua diam melihat Gabriel, Gabriel duduk dilantai sambil salah tingkah.
“Hmmm.. Shilla” ucapnya lalu langsung lari keluar kelas
“Ciyeeeeeee” sontak semua teman-temanku langsung meledeki-ku
“Ciyeeee
Gadis seneng tuh perasaannya terbalaskan kiww” sorak Peri
“Apaansih”
ujarku langsung melengos
Aku hanya diam. Bengong dengan tatapan kosong.
***
Hari demi hari aku lewati, hari demi hari pula perasaanku semakin dalam
tanpa ada yang tahu kecuali diriku, Sivia, dan Tuhan pastinya. Sivia, rela
mengalah demi diriku dia rela membuang jauh jauh perasaannya pada Gabriel
karena aku dan karena dia tidak ingin persahabatannya denganku terputus karena
cowok.
Hari demi hari pula Gabriel semakin perhatian padaku, seperti halnya
menyuruhku agar tdak terlambat makan, tidur tidak terlalu malam, dan lain
sebagainya. Hal-hal sederhana itu mungkin biasa baginya tapi tidak denganku.
Hal se-sederhana itu sangat membuatku nyaman.
Kini
semua teman temanku sudah mengetahui tentang perasaanku pada Gabriel, bahkan
kaum cowok juga sudah mengetahui-nya. Entah darimana berita ini cepat sekali
merambat. Entah bagaimana pula Gabriel. Aku tidak tau apakah dia mengetahui juga
atau tidak?
“Gab,
ngga istirahat?” sapaku pada Gabriel saat jam istirahat
“Eh
nanti ah gue lagi nyatet dikit lagi selesai kok” jawabnya
“Yaudah,
gue duluan ya. Eh mau nitip makanan ngga? Apa kek gitu ntar lo telat makan
terus sakit gimana?” sahutku dengan nada penuh ke-khawatiran
“Haha
udah biasa kali, Shill.
Udah nanti aja gampang istirahat kedua juga bisa kok”
“Ya
seenggaknya isi dulu itu perut lo” ujarku ngeyel
“Engga
ah. Udah sana duluan aja” ujarnya
Aku
pun pergi keluar kelas. Yatuhan… tidak bisa-kah dia melihat ke-khawatiran dari
sorot mataku?
***
Hari
ini terasa begitu melelahkan. Mungkin karena pelajaran olahraga yang materinya
cukup menggunakan fisik. Ditambah lagi olahraganya 4jam pelajaran dan itu pada
jam terakhir.
“Baik
anak-anak. Cukup disini materi kita. Kalian boleh langsung ganti pakaian lalu
pulang” ujar guru Olahraga
“Yeeee
pulaaanggg!!” sorak Anggi kegirangan
“Yee
alay lu Sapri!” celotehku
Aku
langsung masuk ke kelas. Niatnya sih mau ganti baju tapi rasa males sepertinya
sedang menggeluti tubuhku. Akhirnya aku hanya duduk istirahat dikelas sambil
meminum air putih yang ada dibotol minumanku.
Aku
memperhatikan sosok Gabriel sedang berbicara serius sepertinya dengan Alvin.
Ekspresi kekecewaan tampak diwajahnya. Sesekali ia menghela nafas. Aku tak
menegerti betul apa yang Gabriel dan Alvin bicarakan yang jelas mereka tampak
serius
Sejurus
kemudian Gabriel beranjak pergi dan menyambar tasnya yang berada diatas meja
kemudian menepuk pundak Alvin sambil tersenyum. Bukan, bukan tersenyum
sepertinya. Itu hanyalah sebuah senyum pahit yang berusaha ia keluarkan. Aku
tahu betul bagaimana sosok Gabriel jika tersenyum. Dan itu tadi, bukanlah
senyum Gabriel yang aku kenal.
Sebuah
perasaan aneh menyelimuti diriku. Aku tak tahu apa itu yang jelas semenjak aku
melihat perbincangan Gabriel dan Alvin yang terkesan serius didalam kelas tadi
membuat perasaanku tidak karuan. Firasatku berkata akan terjadi sesuatu yang
buruk terjadi
‘Yatuhan…
hilangkan pikiran negative ini dari otakku’ batinku
***
Malam
harinya, perasaan tidak enak itu kembali menyelimutiku. Karena aku tidak suka
dibikin penasaran, akhirnya aku memutuskan untk menelepon Gabriel.
Tapi
hasilnya nihil! Aku menelepon Gabriel tidak diangkat, sudah berkali-kali aku
coba telepon hasilnya tetap sama. Akhirnya aku coba untuk mengirim sebuah pesan.
To: Gabriel J
Gab, angkat
telepon gue! Penting gue mau nanya sesuatu sama lo.
Sudah
2 jam aku menunggu balasan dari Gabriel tetapi tidak ada satupun balasan. Aku
berusaha mengirim lagi sebuah pesan untuknya
To: Gabriel J
Gab, gue mau
nanya tadi lo disekolah ngomongin apa sama Alvin?Kok serius banget keliatannya.
Ekspresi wajah lo juga kusut gitu?Kenapa? Jawab Gab plis L
Mungkin
dengan menambahkan emoticon “L” dibelakangnya Gabriel
akan membalas pesanku. Ternyata benar. Tak lama kemudian handphone-ku bergetar
tanda pesan aku. Seujurus kemudian aku langsung mengambil dan membuka pesan
tersebut
From:
Gabriel J
Gausah kepo!
Baru
saja Aku tersenyum karena pesan singkat dari Gabriel tapi senyum dibibirku
kembali menyusut karena balasan pesan
Gabriel yang membuatku badmood . Aku
memutuskan untuk mematikan handphone-ku lalu terlelap tidur.
***
Semakin
hari Gabriel semakin menjauh dariku. Aku tak mengerti betul mengapa alasan dia
menjauh dariku. Yang jelas semenjak perbincangannya dengan Alvin itu dia mulai
berubah. Aku merasa hal buruk itu benar-benar terjadi. Tapi aku juga tak tahu
apa hal buruk itu..
“Gab,
minjem pulpen dong” sebenarnya aku juga malas karena pasti aku didiamkan.
Tanpa
sedikit pun kata yang terlontar dari mulutnya, dia langsung memberiku sebuah
pulpen dengan tatapan wajah yang acuh tak acuh.
Seperti
halnya juga saat aku sedang butuh teman untuk cerita dan berbagi. Biasanya
selalu ada Gabriel yang menemaniku. Tapi kini sosok itu menjauh dariku. Awalnya
aku berfikir mungkin dia menjauh karena dia sudah tau tentang perasaanku dan
dia tak mau Aku terlalu berharap padanya.
Tapi
dugaan itu salah. Ketika aku memutuskan untuk menemuinya langsung saat pulang
sekolah di taman belakang.
“Gab!
Ikut gue sekarang ke taman belakang!” ujarku dan langsung menarik tangan Gabriel
Sesampainya
ditaman belakang. Hening. Tidak ada yang berani memulai duluan.
“Cepetan!
Mau ngomong apaan lo?” ujarnya membuka pembicaraan dengan nada seolah membentak
dan ekspresi wajah acuh tak acuh
“Yaudah
sihya biasa aja kali”
“Gausah
sok misterius gitu deh, udah cepetan!”
Aku
menghela nafas panjang
“Oke,
gue mau nanya sama lo kenapa belakangan ini lo berubah?”
“Berubah
gimana sih Shill?”
“Gausah
pura-pura bego dan sok ngga tau! Lo ga sadar lo itu berubah Gab, berubah! Lo ga
sadar kalo persahabatan diantara kita ini mulai renggang. Lo ga sadar kalo
belakangan ini lo jutek banget sama gue Gab? Lo ga sadar kalo….. kalo gue
sayang sama lo…” emosiku memuncak. Tangisku pecah. Suaraku terdengar lirih saat
bagian terakhir ucapanku
Gabriel
tersentak. Lalu menoleh padaku
“Gue
berubah karena sahabat” jawabnya yang juga terdengar lirih
“Maksut
lo?”
“Ya…
gue berubah karena sahabat. Lo cerna sendiri kata kata gue, Shill”
“Gab,
plis gue lagi ngga mau mikir. Udah cepet ngomong langsung aja gausah
muter-muter”
“Apa
lo tau kalo selama ini ada yang sayang sama lo Shill?”
“Siapa
Gab?” dari lubuk hati yang paling dalam aku berharap orang itu adalah Gabriel
“Alvin, Shill.” Ternyata dia udah lama
sayang sama lo sebelum gue suka sama lo. Intinya gue sama Alvin suka sama orang
yang sama dan gue yang ngalah. Walaupun itu berat, berat banget buat gue. Gue
juga tau kok berita tentang lo sama Sivia
yang suka sama gue, iya kan? Dan akhirnya salah satu dari kalian ada yang
ngalah kan? Sivia
ngalah. Begitu juga dengan Gue dan Alvin yang senasib sama kalian. Ngerti?”
ujar Gabriel panjang lebar yang mala membuat tangisku semakin pecah
“Percuma
Gab! lo tau kan kalo gue sayangnya sama lo bukan sama Alvin?”
“I
know Shill.
But I’m sorry I already have a new girlfriend” sahutnya menerawang
“Hah?”
Gabriel
langsung pergi meninggalkanku yang diam ditempat. Baru beberapa langkah dia
berjalan dia kembali berbalik badan
“Ohiya..
soal yang main ToD itu sebenernya gue ngga bener-bener suka sama lo Shill”
Astagaaa…
aku tak lagi mampu berkata-kata. Hanya rasa sakit yang menyelimutiku saat ini.
“Gab,”
panggilku saat Gabriel belum jauh berjalan. Gabriel berhenti kemudian menengok
kearahku
“Ok,
I’ll stop to loving u” ujarku lirih sambil menitikkan air mata tentunya.
Gabriel tersenyum pahit lalu berbalik badan dan kembali berjalan
***
Berhari-hari
bahkan berminggu-minggu pasca kejadian Aku dan Gabriel debat ditaman belakang.
Perlahan aku mulai bisa melupakan Gabriel. Aku mencoba mengikhlaskan dia. Jika
dia bisa bahagia dengan yang lain, kenapa aku tidak?
Hari
ini adalah acara pensi disekolah atu biasa disebut Pentas Seni. Pensi
disekolahku ini diisi oleh beberapa kegiatan diantaranya drama dari setiap
kelas, tarian daerah, paduan suara, dan beberapa dance modern.
Kini
saatnya bagian Shuffle Dance untuk tampil. Semua bertepuk tangan meriah. Termasuk
aku. Aku sebenarnya tak terlalu suka untuk dance shuffle seperti ini. Tapi ada
sesuatu yang seolah-olah mengajakku untuk terus menyaksikan shuffle dance ini
hingga selesai.
Sosok
itu, dia ganteng, manis, putih, tinggi, mempunya lesung pipi, cool terlihat
sangat menarik dimataku. Entah sejak menit keberapa aku mulai mengaguminya.
Ternyata benar kata orang, untuk jatuh cinta hanya butuh 1 detik sedangkan
untuk melupakan seseorang butuh waktu seumur hidup.
‘Siapa
ya namanya? Manis ih hihi’ gumamku
***
Selang
beberapa hari setelah acara pensi tersebut, aku masih mengaguminya. Tapi kini aku
sudah tau siapa namanya, Rio. Setelah waktu itu Sivia member tahuku.
“Shill, si Rio ganteng bgt ya
pas Shuffle kemaren” ujar Winda
“Haha engga ah biasa aja” jawabku, padahal sesungguhnya aku setuju dengan
kata kata Winda. Hanya
saja aku menyembunyikan semuanya
“Lo
suka Win sama
Rio?” Tanya Ify
“Hmm…
bias jadi bisa jadi” jawab Winda
Ups.
Untuk kali keduanya aku jatuh cinta dengan orang yang sama dengan sahabatku.
Yatuhan…. Tapi kali ini aku hanya bisa menyembunyikannya sendiri.
“Win, dia kan banyak yang suka
tau di sekolah. Secara dia ganteng gitu.” Ujar Sivia dengan nada yang
dilebih-lebihkan pada kata ‘dia ganteng gitu’
“Iya
juga sih. Disini yang suka sama Rio lagi selain gue siapa?” Tanya Winda
“G…”
ups hamper saja aku mengucapkan kalau aku juga suka. Tapi tidak.
“Kenapa
Shill?” Tanya Ayu
“Engga.
Gue ke kamar mandi dulu ya” jawabku lalu aku langsung pergi kekamar mandi.
Ketika
aku sedang berjalan menunduk kea rah kamar mandi seseorang menabrakku.
Brukkk
“Eh
sorry sorry ngga sengaja” ucapnya
‘Tunggu.
Dia…. Dia kan Rio. Ohmygod seorang Rio yang notabenya most wanted di sekolah
nabrak gue secara ngga sengaja dan bilang sorry gitu haha’ batinku
“eh
lo gapapa kan?” ujarnya
“Engga
kok”
***
Malam
harinya sosok Rio kembali membayangiku. Kali ini aku kembali jatuh cinta (lagi)
dengan orang yang sama dengan sahabatku (lagi). Aku teringat kata-kata Sivia tadi siang ‘dia kan
banyak yang suka disekolah. Secara dia ganteng gitu’
Berarti
otomatis sainganku selain sahabatku sendiri, Winda yaitu juga anak anak sekolahanku.
Tiba-tiba handphone-ku bergetar tanda sebuah pesan masuk
From: Winda
Shillaaaaaaaa gue seneng banget gue lagi
sms-an sama Riooooo!!;***
Aku
tersenyum kecut. Harus menahan cemburu.
To: Peri
Ohya?
Ciyeeee hahaha :D
***
Aku
hanyalah sebagian kecil bahkan mungkin hanya sebuah titik yang tak terlihat
dari puluhan huruf yang tertulis di sebuah kertas. Aku hanyalah seorang dari puluhan
pengagum rahasia yang mengagumi Rio.
Dikenal
dengan Rio saja sudah membuatku senang. Aku dan Rio memang sudah saling kenal
tapi di dunia maya di jejaring social Facebook. Aku sering bahkan pernah
chattingan dengannya hingga larut malam.
Stalking
itu hal yang paling asyik yang aku lakukan. Dari mulai foto-fotonya, status
facebook, tweet twitter, ava twitter, dia mentionan dengan siapa saja, dia
wall-wall-an dengan siapa aja. Itu yang menjadi rutinitasku selama menjadi
secret admirer-nya Rio
Awalnya
hubunganku dengannya baik baik saja. Hingga entah apa yang membuat Rio
menghindar dariku. Aku sudah cukup bodoh jika memendam perasaan hanya sebatas
secret admirer. Tapi akan lebih bodoh lagi jika aku terus terang
mengungkapkannya.
Aku
masih ingat betul bagaimana dia menasihatiku lewat pesan. Padahal yang sedang
aku ceritakan itu dirinya. Entah ini dia ngga peka apa gimana.
To: Rio J
Rio, gue mau
cerita nih
From: Rio J
Cerita aja
dis
To: Rio J
Jadi gue
lagi suka sama orang nih yo ceritanya. Tapi gue cuma jadi pengagum rahasianya
aja gitu. Soalnya dia itu most wanted disekolah. Banyak yang suka yo. Menurut
lo gimana?Perasaan gue salah ngga?
From: Rio J
Ya perasaan
sih ngga salah dis, kalo menurut lo itu perasaan lo pantes ya jangan takut
diperjuangkan dis. Jangan ngerasa kalo lo cewek lo ngga pantes dis. Semangat
yaa J
Yap.
Itulah sepenggal percakapan aku dan Rio yang mungkin tinggal kenangan. Hm aku
juga ingat saat pertama kali bertatap langsung dengannya saat itu dimana dia
sedang ada praktek laundry dan dia masuk ke kelasku untuk menawari. Aku memang
sudah tau kalau hari ini itu jadwalnya dia yang praktek makanya aku sengaja
dari rumah bawa mukena untuk di laundry.
Saat
dia masuk ke kelas aku dan Winda
hanya senyam senyum sedangkan temen teman dikelasku hanya geleng geleng kepala
melihat tingkah aku dan Wind.
Tapi
lama-kelamaan aku sadar. Aku tak pantas jika terus menerus menjadi secret
admirer Rio. Sedangkan Rio sendiri sudah punya pacar. Lama kelamaan perasaanku
pada Rio mulai hilang.
***
Hubunganku
dengan Gabriel masih belum membaik semenjak kejadian itu. Aku hanya ingin
persahabatanku dengan Gabriel membaik seperti dahulu. Saat tidak ada perasaan
apapun diantara kita.
Aku
hanya ingin seperti dahulu lagi denganya tapi rasanya sulit sekali. Untuk
sekedar mengobrol saja jarang bahkan tidak pernah.
***
“Shill, gue mau ngomong sama lo”
ucap seseorang dibelakangku, Gabriel ternyata
“Apa
Gab?” jawabku
“Gue
mau minta maaf atas semua kesalahan gue sama lo. Termasuk perasaan ini.
Termasuk perasaan ini gue tau perasaan gue ke elo yang dulu pernah ada bikin
persahabatan kita jadi gini, Shill”
“Engga
Gab, ngga ada yang perlu disalahin kok. Lo udah gue maafin dari dulu. Yaudah
mulai sekarang kita sahabatan lagi ya Gab”
“Iya
Shill” ucap Gabriel sambil
tersenyum dan kita saling menautkan jari kelingking tanda persahabatan.
****
Kringggg!!!!
Alaramku
ternyata bunyi. Hah?ternyata semalam itu hanya… mimpi? Yatuhannnn segitu
tekad-nya kah keinginanku untuk bersahabat kembali dengan Gabriel? Aku menghela
nafas.Aku beranjak dari tempat tidurku lalu membuka handphone-ku. Aku kaget
karena ada sebuah alarm berbunyi dan ketika aku lihat ada sebuah tulisan
‘Gabriel’s 16th J!!’ Aku baru inat bahwa
hari ini adalah hari ulangtahunnya.
Awalnya
aku bingung antara mau mengucapkan happy birthday atau tidak. Bagaikan makan
buah simalakama. Jika aku mengucapkan, pasti dia mengira aku masih berharap
padanya padahal engga. Jika aku tidak mengucapkannya ada rasa tidak enak dihatiku.
Entah
dorongan darimana munculnya aku mengetikkan sebuah pesan singkat padanya
To: Gabriel J
Ulangtahun
ya? Ciyee Happy birthday ya semoga semua keinginan lo terkabul pokoknya wishes
dari gue yang baik baik deh termasuk bisa taken sama adek kelas haha PU bisa khelesss~
Biarin
ngga dibales juga yang penting gue udah ngucapin ikhlas. Selang beberapa menit
handphone-ku bergetar tanda pesan masuk. Nama ‘Gabriel J’ tertera pada layar
monitorku
From:
Gabriel J
Hahaha, amin
yaallah. Makasih ya Shill J
Aku
tersenyum membaca pesan tersebut, kemudian aku mengingat
beberapa hari yang lalu ketika aku membuka akun jejaring sosialku,
facebook biasanya pada chat list selalu muncul nama Gabriel Stevent tetapi
aneh, ini tidak ada sama sekali.
Kemudian aku mengetik namanya pada kotak Pencarian, firasatku tidak enak
dan betul saja ketika muncul profil Gabriel langsung ada tulisan ‘Tambahkan
Sebagai Teman’ aku tersentak kaget. Sesak sekali rasanya.
Itu berarti tandanya, dia menghapus pertemananya denganku di Facebook.
Yatuhan sedalam itukah Gabriel ingin benar-benar menjauh dariku?
Aku berencana menanyakan langsung padanya, tapi berhubung nyali-ku yang
segede tempe ini akhirnya aku menanyakan melalui pesan. Aku membalas pesan
Gabriel
To
: Gabriel J
Urwelcome,
gab J btw lo
nge-remove gue yang di fb?
From
: Gabriel J
Hah?hmm
iya tapi tenang aja itu Cuma di dumay aja kok Shill kita ngga temenan di dunia
nyata kan kita temenan..
Aku kembali kaget, jadi selama ini Gabriel masih menganggapnya sebagi teman?
To:
Alasan lo nge-remove gue apa? Jadi kalo di dunia nyata kita temenan nih
ya?Yakin? Ngga diem-diem lagi?
From:
Gabriel J
Ada
deh, ada alasan sesuatu kenapa gue nge-remove elo Shill. Haha iya tenang aja
makanya kalo ketemu negor dong..
***
Saat ini aku dan Gabriel tengah mengerjakan tugas kelompok lagi, tidak ada
rasa canggung lagi diantara kami berdua, tidak ada sebuah perasaan yang muncul
dihati kami berdua lagi, semua berjalan dan kembali seperti biasa. Aku dan
Gabriel kembali bersahabat.
Sekarang, aku tidak memperdulikan apa dan kenapa alasan dia menghapus
pertemanannya denganku di jejaring sosial yang jelas sekarang aku sudah cukup
bahagia karena semua harapanku selama ini terkabul dengan seiring berjalannya
waktu.
Hal yang harus aku ketahui, bahwa Persahabatan lebih penting dari apapun,
Persahabatan dapat terjadi karena suatu hal kecil, Persahabatan juga dapat
pecah karena suatu hal kecil, Cinta misalnya.
***
The End.
keren jan,tapi tulisannya masih belepotan jan :D
BalasHapushaha iya makasih dwi mana yang belepotan? :)
BalasHapus