Harapan dan Hujan (cerpen)
“Ketika harapanmu mulai diacuhkan, ketika
perasaanmu mulai tak dianggap….”
***
Ashilla’s Side
Aku masih duduk di balkon rumahku ditemani guyuran
hujan sore hari ini. Hujan yang mengingatkanku pada seseorang. Seseorag di masalalu
ku. Seseorang yang telah dengan jahat melepaskan aku demi oranglain. Seseorang yang selama ini masih aku harapkan
tetapi dia sudah tidak peduli padaku. Seseorang yang selama ini masih aku
harapkan tetapi dia sudah bersama perempuan lain. Menyakitkan bukan?
Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa aku ini
bodoh, ya bodoh! Bodoh menanti seseorang yang sudah tidak punya perasaan apapun
padaku. Bodoh mengharapkan seseorang yang jelas – jelas sudah punya pasangan.
Ya, itulah cinta. Kalau kata Mario Teguh, cinta dapat membuat seseorang pintar
menjadi bodoh. Contohnya aku.
Tapi salahkah jika aku masih berharap padanya?
Mengharapkannya kembali di sini, disisiku. Bukankah berharap itu hak setiap
manusia? Walaupun pada akhirnya harapan itu akan menjadi sia – sia . Dan
memberi sebuah kepastian pada setiap harapan itu kewajiban yang harus
dilakukan?
Entah kenapa walaupun begitu, aku tetap tidak bisa
membenci hujan. Justru aku sangat menyukai hujan. Karena setelah hujan berhenti, akan ada
pelangi yang indah yang menghiasi langit.
Begitu juga harapanku, aku berharap setelah aku
berharap akan ada kebahagiaan yang menemaniku walaupun bukan bersamanya…
“Shill…”
Lamunanku terbuyar, aku menoleh tanpa mengubah
posisi awalku yang sedang duduk sambil melamun.
“Eh elo Fy, kenapa? Sini duduk” ujarku seraya
menarik tangan Ify dan mengajaknya duduk disampingku.
“Lo suka banget sama hujan ya, Shill?”
Aku tersenyum. “Suka banget, karena hujanlah yang
bikin gue inget tentang dia, Fy. Tentang Alvin. Hujan juga selalu memutar kembali
kenangan – kenangan gue sama dia dulu, Fy” Aku memandang lurus kedepan
memandang hujan yang turun semakin deras.
“Lo inget gak Fy? Dulu dia nembak gue pas hujan –
hujan juga loh.. Dia rela nyari mawar ungu sebagai persyaratan jadi cowo gue
hujan – hujan juga waktu itu.. Lo inget gak? Gue putus sama Alvin juga pas
hujan – hujan Fy. Dibawah derasnya hujan, di taman belakang Sekolah Fy..” Aku
kembali menceritakan semuanya.
“Lo masih sayang banget sama dia? Lo masih
berharap sama dia?” Dia kan udah punya…”
“Ssssttt, jangan dilanjutin Fy. Semakin lo terus –
teru ngingetin hal itu, semakin gue susah buat nerima kenyataan. Biarin semua
hilang secara perlahan, Fy. Gue udah tau, lo juga tau bahkan mungkin dunia juga
tau kalo Alvin udah punya pacar, Sivia kan?”
“Kalo lo udah tau dia udah ada yang punya, mau
sampe kapan lo berharap sama dia? Apa harapan lo ngga sia – sia?”
“Selagi gue masih bernafas, detak jantung gue
masih berdetak, dan hati gue masih bisa merasakan. Kenapa engga?” Aku menghela
nafas. “Gue juga ngga tau Fy kenapa gue masih bertahan buat nunggu. Menurut
gue, menunggu itu asyik walaupun menyakitkan” sambungku.
“Tapi Shill, lo harus bisa nerima kenyataan kalo
Alvin udah ada yang punya. Bukannya cinta itu harus merelakan ya? Merelakan
orang yang lo sayang bahagia sama yang lain.” Ify menghela nafas panjang “Lo
juga harus bahagia. Lo berhak bahagia. Mau sampe kapan lo terus – terusan
nunggu dan berharap sama yang lo udah tau jawabannya. Gak mungkin.” Lanjut Ify
Aku tertawa miris. “Mungkin sampe Tuhan ngambil
nyawa gue, baru dari situ gue mulai merelakan, melupakan, berhenti berharap,
dan berhenti menunggu”
Ify mengangkat bahu pasrah. “Gue salut sama lo
Shill, semoga harapan lo nantinya ngga sia – sia ya. Gue Cuma ngga mau ngeliat
lo sedih Shill”
Aku hanya bisa tersenyum. Ify berdiri dan pergi
meninggalkanku.
Aku kembali larut dalam lamunanku. Aku kembali
sendiri. Aku suka saat – saat seperti ini. Saat aku sedang sendiri dan hanya
ditemani hujan dan kembali memutas memoriku tentangnya, Alvin.
Lagi – lagi lamunanku terbuyarkan. Pandanganku
tertuju saat dua orang remaja berseragam putih abu – abu turun dari motor dan
keduanya meneduh di ruko depan rumahku. Aku mengenali mereka. Aku kenal sosok
itu, sosok berkulit putih dan bermata sipit dengan motor Satria Ninja-nya. Aku juga mengenal perempuan berambut agak
pirang sebahu.
Hatiku kembali perih ketika Alvin –sosok- itu melepas
jeketnya dan dan melindungi Sivia –perempuan itu- . Harusnya itu aku, harusnya.
Dari kejauhan aku hanya bisa melihat mereka dengan sakit. Sakit rasanya ketika
melihat orang yang kita sayang bahagia dengan oranglain.
Air mataku mengalir dengan sempurna di pipiku. Aku
tak tahan, tak bisa menahan perihnya hati ini yang melihatnya bersama orang lain.
Aku tau aku salah, aku yang dari awal salah.
Mereka terlihat tertawa bersama ketika Alvin
mencubit pipi Sivia dan Sivia membalasnya dengan mencubit perut Alvin. Hatiku
kembali perih… Dari kejauhan aku masih memperhatikannya, aku tetap tidak
beranjak dari tempatku walaupun air mataku mengalir semakin deras.
Yatuhan….
Salahkah aku jika aku masih mengharapkannya
kembali padaku? Salahkah jika aku masih mencintainya? Salahkah jika aku masih
menyayanginya dan berharap dia berada disisi-ku lagi? Aku cemburu tapi…. Ah ya,
aku sudah tidak punya hak, aku bukan siapa – sispa dia lagi….
***
Sore ini kembali hujan, sudah 2 jam aku berada di
taman belakang sekolah sejak bel pulang sekolah. Taman yang menjadi saksi
kandasnya hubunganku dengan Alvin. Taman yang menjadi saksi bisu bersatunya Aku
dan Alvin 1 tahun yang lalu.
Dibawah derasnya hujan. Aku ber-nostalgia
mengingat semua yang pernah terjadi. Membiarkan diriku terhanyut oleh masa
lalu…
“Shill, ngapain lo disitu ujan – ujanan? Ayo kita
pulang, biar gue anter” Gabriel memanggilku tapi aku tetap tidak menggubris
panggilannya. Aku masih ingin disini.
Tiba – tiba Gabriel datang dengan mambawa payung
dan menarik lenganku. Akupun pasrah dan ikut pergi bersama Gabriel. Aku bahkan
hamper lupa kalau tubuhku ini tidak kuat dengan hawa dingin, apalagi hujan.
Bukannya pede, tapi aku tau sosok Gabriel dari
dulu sangat menyayangiku tetapi aku terus – terusan menolaknya karena aku masih
menunggu masa laluku.
Setelah aku sampai di mobil Gabriel aku hanya bisa
diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gabriel melajukan mobilnya. 15 menit
perjalanan tetap tidak ada percakapan sampai akhirnya mobil Gabriel berhenti di
seberang rumahku.
“Shill..” Gabriel menahan pergelangan tanganku
ketika aku hendak membuka pintu mobilnya.
“Kenapa?” sahutku
“Lo….masih sayang sama Alvin?”
Aku tersenyum miris, “Tanpa gue jawab, lo udah tau
jawabannya kan, Gab?”
Gabriel menghela nafas. “Tapi sampe kapan lo
berharap dia balik lagi sama lo, Shill?”
“Gue ngga tau, Cuma waktu yang bisa jawab
semuanya. Lagipula susah buat ngelupain semua kenangan sama dia, Gab”
“Kapan lo mau coba buka hati buat orang lain?
Sadar Shill, diluar sana banyak orang yang sayang sama lo. Banyak yang berharap
bisa ada di sisi lo. Banyak yang bisa pengen bahagiain elo, Shill…. Termasuk
gue”
Gabriel sudah berulang kali mengatakan hal yang hampir
sama tapi entah kenapa hatiku tetap tidak luluh.
“Diluar sana juga banyak yang lebih baik dari gue
Gab, kenapa lo masih tetep pengen bersama gue?”
Gabriel terdiam… tidak bisa berkata apa – apa lagi.
“Makasih ya Gab udah nganterin pulang. Lo hati –
hati dijalan.” Ujarku. Sejurus kemudian aku membuka pintu mobil Gabriel dan
langsung keluar.
***
Author’s Side
Saat Shilla hendak menyebrang menuju rumahnya tiba
– tiba sebuah truk berdecit.
“SHILLAAAAA AWASSSS!!!!”
BRUUKKKK
Terlambat. Pertumpahan darah mewarnai jalanan sore
itu diatas genangan air.
Gabriel langsung membawa Shilla ke rumah sakit dan
langsung menelepon keluarga Shilla dan semua orang terdekat Shilla.
***
Setibanya di rumah sakit Shilla langsung dibawa ke
ruang ICU dan langsung ditangani oleh sang dokter.
Berjam – jam kekhawatiran tampak pada diri
Gabriel. Ia sangat takut, takut terjadi apa – apa pada diri Shilla.
“Gab, Shilla dimana?” ujar Ify spontan diikutin
oleh Orang tua Shilla dan Alvin serta Sivia.
“Di ruang ICU, Fy lagi kritis. Tadi dikepalanya
pendaharan hebat” jawab Gabriel
Selang beberapa waktu kemudian dokter keluar
ruangan.
“Dok, gimana keadaan Shilla? Gimana keadaan sahabat
saya?” ujar Ify
“Maaf sebelumnya, disini ada yang bernama Alvin?”
Semua langsung menoleh pada Alvin. Alvin yang
merasa dirinya terpanggil langsung menghampiri dokter.”Iya dok, saya Alvin ada
apa?”
“Selama operasi berjalan sedari tadi teman ada
menyebut – nyebut nama anda, dan sekarang operasi sudah selesai, dia teteap
memanggil nama Anda. Mungkin anda bisa melihatnya langsung ke dalam. Tapi hanya
anda saja ya. Yang lain tetap tunggu diluar” ujar Dokter menjelaskan.
Alvin mengangguk. Ia membuka pintu ICU dan
melangkahkan kakinya. Jantungnya bedegup kencang, ia merasa hal buruk sebentar
lagi akan terjadi.
Alvin menggenggam tangan Shilla. Entah keajaiban
darimana Shilla perlahan mengerjapkan matanya.
“Vin….” Gumamnya lirih
“Iya Shill, gue disini..” jawab Alvin
Shilla tersenyum. Wajahnya pucat, matanya sayu. “Lo
kesini sama Sivia kan?” tanya Shilla
Alvin mengangguk “Emang kenapa?”
“Gapapa, gue Cuma mau ngomong sebentar dong sama
lo sama Sivia juga Vin.. tolong panggil Sivia kesini”
Alvin langsung memanggil Sivia. Setelah Sivia
berada di dalam ia juga ikut menggenggam tangan Shilla sama seperti yang Alvin
lakukan.
“Kalian cocok, Alvin ganteng, Sivia cantik. Alvin
sipit, Sivia juga” ujar Shilla lirih
Alvin dan Sivia tidak mengerti.
“Buat Alvin, jaga Sivia baik – baik ya Vin. Jangan
tinggalin dia, selalu ada disamping dia ya. Sayangi dia dengan sepenuh hati lo
vin..” Shilla menghela nafas. “Buat Sivia, jangan kecewain Alvin ya, dia sayang
banget sama lo Vi.” Shilla kembali meneteskan air matanya.
“Gue sayang sama lo Vin, gue juga sayang sama
Sivia… semoga kalian bahagia ya. Mulai sekarang, gue udah relain kalian kok.
Gue udah berhenti berharap dan dan nggak nunggu lagi.”
“Maksutnya apa Shill?” ucap Sivia dan Alvin
bersamaan.
Shilla hanya bisa tersenyum lalu mulai memejamkan
matanya…
Tiiiitttt garis hijau dilayar berubah menjadu
lurus.
***
Endingnyaaa berantakaaaannnn-_- kritik dan sarannya yah hehe masih belajar :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar