Sabtu, 09 November 2013

Circle of Love - Part 1

Part 1

“Ikatan Kovalen Koordinasi adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.” Ujar seorang guru Kimia menjelaskan di depan kelas.

Berjam-jam dengan pelajaran kimia memang bukan hal yang mengasyikan ditambah dengan perut yang belum sarapan pagi dari rumah. Membosankan bukan? Sama dengan hal yang dialami dengan gadis yang satu ini, Shilla.

Menulis diary mungkin salah satu hal yang lebih baik ia lakukan sekarang daripada harus mendengarkan celotehan guru didepan kelas tentang ikatan kovalenlah, atomlah, atau apapun itu yang membuat kepala Shilla pusing.

“Shilla! Coba gambarkan terbentuknya senyawa NH4!” bu Della dengan sigap langsung memberikan spidol di meja Shilla.

Aduh mampus gue, batin Shilla. Shilla melirik jam tangannya, bagus 5 menit lagi bel istirahat dan dia harus maju kedepan kelas untuk mengerjakan soal laknat yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Kringggg….Kringggg…

Rupanya dewi fortuna sedang berpihak ke Shilla, tepat saat ia membuka tutup spidol bel istirahat berbunyi. “Shilla, silahkan kembali ke tempat duduk kamu” ucap bu Della

“Baik, anak-anak kita lanjutkan minggu depan. Terimakasih”

Semua murid bernafas lega saat guru kimia tersebut keluar kelas.

“Zevana, Dea, ke kantin yuk! Laper nih” ajak Shilla

“Yuk!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di kantin yang menjadi tempat paling sakral semua siswi saat jam istirahat.

“Shill, mau beli apa lo?” ujar Zevana saat mereka duduk di bangku kantin

“Gue nitip aja ya. Lagi males ngantri, hehe gue mau mie ayam sama es jeruk ya, Ze”

“Yehhh, yaudah deh. Dea, lo ikut gue yuk ngantri”

Sejurus kemudian Zevana dan Dea sudah berada di antrian. Shilla sibuk memainkan smarthpone miliknya ketika tiba2 dia merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Brukkk…

“Awww” rintih Shilla

“Eh sorry” ujar seseorang tersebut

“Apaansih lo! Plisdeh kalo jalan tuh pake mata! Liat ada gue ngga sih di depan lo?!”

“Maaf, tapi gue ngga sengaja”

“Maaf maaf enak aja lo minta maaf! Liat ini baju gue basah gara-gara kena kuah gak bakso lo!”

“Iya sekali lagi aku minta maaf…”

“Halaaahhh minggir lo” ujar Shilla sambil mendorong orang tersebut

***

Hari ini benar – benar membuatnya kesal! Hari senin. Jam pertama pelajaran kimia, pelajaran yang memuakkan, ditambah dia harus pulang kerumah dan izin tidak mengikuti pelajaran lagi dikarenakan baju seragamnya yang kotor itu. Bingo senin! Kamu sudah membuatku sial, batin Shilla.

Shilla mendorong pintu rumah dengan malas. Dia tahu pasti papahnya sedang ada dirumah karena mobil papahnya terpakir dihalaman tadi.

“Loh?Shill?tumben jam 1 siang gini udah pulang?Itu baju kamu kenapa?” Zainal –Papah Shilla-  langsungnya menyerbunya dengan berbagai pertanyaan

“Apasih pah, gausah sok peduli sama aku deh! Urusin aja selingkuhan Papah sana!” bentak Shilla

“SHILLA! JAGA OMONGAN KAMU! DIA BUKAN SELINGKUHAN PAPAH, DIA REKAN KERJA!” ujar Papahnya dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Kalo papah mau aku jaga omongan aku, Papah juga harus jaga perasaan Mamah, gimana rasanya jadi Mamah! Puas?! Ohiya kalo rekan kerja, mana mungkin telfonan ngomongnya pake kata ‘sayang’ HAH?!” Shilla langsung lari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya.

Selalu begini, 3 bulan terakhir Shilla selalu adu mulut dengan Papahnya. Shilla benci papah! Dia jahat. Dia sudah meninggalkan Mamah dengan wanita lain! Shilla benci Papah!

Matanya tertuju pada sebuah bingkai, bingkai dimana didalam bingkat tersebut terdapat foto dirinya yang tertawa lebar sedang merayakan ulangtahun yang ke 10 disebelah kiri terdapat Papahnya yang memeluknya dan disebelah kanan nada Mamahnya yang mencium pipinya. Terlihat bahagia.

Shilla merindukan masa – masa itu, masa dimana dia dan keluarga kumpul dan tertawa. Tak terasa pertahanannya pecah. Shilla menangis. Shilla rindu. Rindu susasa hangat di keluarganya yang dulu pernah ia miliki.

***

Sivia masih berkutat didepan laptop-nya mengerjakan persentasi pelajaran IPS yang tak kunjung selesai. Tapi pikirannya tertuju pada kejaian tadi siang saat jam istirahat saat dia tidak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan kuah baksonya.

‘Gue jadi ngga enak’ batinnya. ‘Gua harus minta maaf ke dia, kayaknya dia marah banget tadi’ sambungnya.

***

06.15
Kringggg…. Shilla meraih handphone-nya lalu mematikan handphone-nya dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Kringgggg… namun suara itu masih tetap berbunyi. Suara apa itu? Shilla tetap tidak peduli, Shilla menutup kepalanya dengan bantal mickey mousenya. Kringgggg…. Shilla kesal. Dia terbangun dan tatapannya langsung tertuju pada jam wekeer di meja belajarnya.

Sial! Gue telat! Dengan cepat dia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. 15 menit kemudian Shilla sudah menggunakan seragam putih abu – abu nya dan merapikan penampilannya.

Dia menuruni anak tangga dan melirik sebentar kea rah meja makan yang hanya berisi Papahnya. Dia tau Mamahnya pasti masih di dalam kamar dengan keadaan menangis lagi. Meningat hal itu Shilla mengurungkan niatnya untuk sarapan terlebih dahulu. Dia langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja makan.

***

07.00
Shilla sudah berada didepan gerbang sekolahnya. Untungnya dia tidak terlambat. Saat ia hendak memasuki kelasnya langkahnya terhenti karena seseorang dari belakang menarik tangannya. Shilla menoleh.

“Shilla, tunggu!” ujar Sivia – orang tersebut.

Shilla berdecak kesal. “Mau apalagi sih? Mau numpahin kuah bakso lo di baju gue lagi?” sahut Shilla dengan nada menyindir.

Sivia mengernyit. “Enggak kok. Justru gue nyamperin lo karena mau minta maaf. Lo mau maafin gue kan?”

Hening. Tidak ada suara yang menjawabnya.

“Gue masih ngga enak sama lo, gue minta maaf ya” ujar Sivia kekeuh.

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Sivia lalu berbalik badan dan masuk ke dalam kelas.

Lo pikir lo siapa? Enak aja minta maaf sama gue, batin Shilla

***

“Gausah lebay! Pergi lo sana!” tubuh Sivia seketika menegang. Ternyata dia belum mau maafin gua, gumamnya. Sivia masih diam di tempat sementara Shilla sudah berlalu dari hadapannya. Gue harus minta maaf sampe dia mau maafin gue, batinnya.
Sivia kemudian kembali ke kelasnya.

***

Ini cerbung ancur bgt wkwkwk :D sorry for typo-_-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar