Love History
Bag 1
Langit nampaknya sedang berwarna biru ditemani sang matahari
yang sudah mengintip dari ufuk timur. Yap. Langit pagi ini sangat cerah secerah
hati gadis cantik ini. Chindai Gloria.
“Selesai,” gumam Chindai setelah mematut dirinya pada cermin
sambil tersenyum. Tiba-tiba dirasakan sebuah getaran dari meja riasnya. Sebuah
benda persegi panjang milik Chindai yang terdapat pesan masuk dari seseorang
yang berisi “Gue udah didepan rumah lo Ndai, jadi berangkat bareng kan?” Cindai
tersenyum membaca pesan singkat tersebut lalu membalasnya “Oke jadi gas, tunggu
yaaa J “
Yap, itu merupakan pesan masuk dari Bagas. Setelah membalas pesan dari Bagas,
Cindai langsung memasukkan benda itu kedalam saku baju seragamnya.
Sejurus kemudian Cindai segera keluar kamar dan menemui
Bagas yang sudah menunggunya diluar. “Pagi Mah, Pah” sapa Cindai saat melewati
ruang makan. “Pagi sayang, ngga sarapan dulu?” Ucap mamah sambil menarik tangan
Cindai yang sudah terlihat terburu-buru “Engga deh mah didepan udah ada Bagas
nunggu, aku berangkat ya mah” ucap Cindai sambil mencium tangan mamahnya.
“Sorry Gas lama hehehe” Sapa Cindai saat bertemu Bagas yang
sudah nangkring(?) di motor satria miliknya. “Ngga kok Ndai, yaudah berangkat sekarang yuk nanti
telat masuknya” ucap Bagas. Sejurus kemudian Cindai sudah menaiki motor Bagas
dan Bagas segera mengemudikannya(?) dengan kelajuan sedang.
Tidak, Bagas dan Cindai tidak menjalin suatu hubungan.
Hubungan mereka tak lebih dari seorang sahabat. Bagas dan Cindai sudah
bersahabat sejak mereka duduk dibangku SMP. Dan kebetulan sampai kelas 11 SMA
ini mereka selalu mendapat sekolah yang sama dan kelas yang sama. Tapi, ada
sebuah getaran aneh pada diri Cindai
saat ia sedang bersama Bagas, jantungnya berdegup kencang pipinya mengeluarkan
semburat rona merah. Entah apa yang Cindai rasakan, ia sendiri tidak bisa
mendiskripsikan ini semua? Mungkinkah Cindai mulai Jatuh Cinta dengan Bagas?
Motor satria milik Bagas memasuki kawasan sekolah RSBI
kawasan Jakarta Barat, plang bertuliskan “Nusa Bangsa International High
School” sudah terlihat. Bagas segera memarkirkan Satria miliknya dan Cindai pun
segera turun.
“Gas, gue duluan ya mau nyalin PR Kimia punya Angel nih hehe
gue belom ngerjain semalem 10 menit lagi bel masuk,”ucap Cindai terlihat panik.
“Hahaha selow aja kali Ndai, gurunya paling ngga masuk lagi muka lo ngga usah
panik gitu eh tapi kalo lo panik tambah cantik ya,” Cindai yang merasa dirinya
dipuji oleh Bagas merasa malu dan tertunduk untuk menyembunyikan pipinya yang
mengeluarkan semburat rona merah. Lagi-lagi Bagas yang membuatnya seperti ini.
Uh! “Ke kantin dulu yuk laper Ndai” Ucap Bagas sambil menarik tangan Cindai.
“Tapi gas…..” belum selesai Cindai mengucapkan kata-katanya Bagas sudah
memotongnya “Sssstttt gausah bawel nanti cantiknya ilang”
***
Sesampainya dikantin Cindai dan Bagas bertemu dengan
Chelsea. Entah karena apa semenjak ada Chelsea dikantin Cindai seperti obat
nyamuk, yap sedari tadi Bagas dan Chelsea berbincang-bincang berdua terus
hingga melupakan bahwa ada sosok makhluk juga disini. Cindai merasa kesal,
moodnya yang tadi naik sekarang menjadi turun. Ada rasa sesak saat Cindai
melihat Bagas dan Chelsea tertawa bersama dihadapannya. Apa ini? Apa mungkin
yang Cindai rasakan adalah………….Cemburu?
Bel masuk berbunyi, Cindai berterimakasih karena berkat bel
masuk itu Cindai tidak perlu melihat pemandangan yang me-nyesak-kan tadi.
***
Bel sekolah berbunyi Cindai segera merapikan buku yang
berserakan dimejanya. Bagas pun langsung menghampiri Cindai “Ndai, mau nemenin
gua dulu ngga? Ke Mall sebentar” ujar Bagas “Ngapain kesana? Tumben banget gas”
“Ada deh, gue mau beli something buat someone”
“Someone? Siapa dia?” Cindai mengernyit
“Udah nanti gue certain, udah yuk ah keburu sore” ujar Bagas
ambil menarik tangan Cindai
***
Selama dalam perjalanan, hanya kesunyian yang menemani
mereka tidak satupun diantara mereka yang angkat biacara. Sesampainya disebuah
Mall terdekat setelah bagas memarkir Satria miliknya mereka segera masuk.
“Ndai, kira2 kalo cewek lagi ulangtahun itu kado yang cocok
apaya” Ujar Bagas sambil memilih-milih aksesoris perempuan pada Mall tersebut.
“Gatau,” Jawab Cindai sambil memanyunkan bibir.
“Kok jutek banget sih Ndai? Kenapa?”Bagas mengernyit heran “Pikir aja
sendiri, emang buat siapa sih?” Jawab Cindai sambil mengalihkan pandangan
“Ohiya gue belum cerita ya sama lo, yaudah makan dulu yuk biar enak ceritanya”
Ajak Bagas. Cindai hanya mengangguk saja.
“Silahkan mba, mas mau pesen apa?” ucap sebuah pelayan
“Cappucino samaa…..” Bagas melirik Cindai. Cindaipun mengerti
apa maksut Bagas. “Sama Moccacino coffe-nya” ucap Cindai. Setelah pelayan itu
pergi, Bagas angkat bicara.
“Jadi gini Ndai, gue kayaknya lagi jatuh cinta sama
seseorang, dia Cantik, manis, pinter. Pokoknya dimata gue dia sempurna deh
inisialnya ‘C’.”
“Siapa?” Tanya Cindai antusias. Di lubuk hati yang paling
dalam Cindai berharap orang yang dimaksut Bagas adalah dirinya.
“Chelsea, Ndai”
DUAR! Bagaikan disambar petir dan tertusuk oleh ribuan
jarum. Sakit sekali rasanya, dadanya seolah terasa sangat sesak, harapan bahwa
sosok yang dimaksud Bagas itu dirinya pupus sudah. Apa? Kenapa begini? Kenapa
Cindai merasa seperti ini? Bukankah harusnya ia senang melihat sahabatnya
seperti ini? Tapi kenapa malah seperti ini? Apa ia cemburu? Saat ini Cindai
memastikan bahwa dia cemburu. Air matanya sudah sampai dipelupuk matanya. Tapi
ia tetap berusaha tegar dan menahannya agar tidak jatuh.
“Sorry gas gue ga bisa lama-lama ada janji sama mamah dirumah, bye” ucap Cindai
sambil meninggalkan Bagas ditempat itu sendirian
“Eh…ehh Cindai mau kemana?” Tanya Bagas. Tapi tidak digubris
oleh Cindai.
Setelah sampi dirumah ia langsung menjatuhkan diri dikamar
dan tak terasa pipinya basah, airmatanya mengalir deras. Kenapa harus seperti
ini. Baru tadi pagi Bagas membuatnya terbang tapi sekarang Bagas juga yang
membuatnya Jatuh seperti ini. Untuk apa aku menangis? Memang aku siapanya dia?
Punya hak apa aku untuk cemburu? Gumam Cindai.
***
keren
BalasHapus👍
BalasHapus